Kisah Bripka Benny, Anggota Polsek yang Punya Puluhan Anak Asuh

Meski hanya seorang anggota polisi, Bripka Benny memiliki puluhan anak asuh dari berbagai latar belakang sosial dan agama.

Kisah Bripka Benny, Anggota Polsek yang Punya Puluhan Anak Asuh
tribun lampung
Bripka Benny Ariawan, anggota Polsek Tulangawang Barat bersama istri dan anak-anak asuhnya 

BANDARLAMPUNG,TRIBUN – di Kota Malang, Jawa Timur ada Brigadir Kepala (Bripka) Seladi, seorang polisi jujur punya pekerjaan sampingan pemulung.

Provinsi Lampung pun punya polisi yang memiliki hati mulia bernama Bripka Benny Ariawan, anggota Polsek Tulangawang Barat yang tinggal di LK II Daya Murni, Tumijajar, Tulangbawang Barat.

Meski hanya seorang anggota polisi, Bripka Benny memiliki puluhan anak asuh dari berbagai latar belakang sosial dan agama.

Dari puluhan anak asuh yang dididiknya sejak tahun 2009, sudah banyak berhasil dan sukses, seperti menjadi anggota polisi, pegawai negeri sipil dan anggota TNI.

“Sudah sejak 2009 saya punya anak asuh, banyak yang berhasil, ada yang jadi polisi, anggota TNI, dan PNS. Mereka kadang main ke rumah, nengok adik-adiknya. Kalau yang tinggal di rumah sekarang ada 20 orang, masih SMP, SMK, dua kuliah. Tidak semua muslim, tiga orang non muslim, tapi mereka semua berbaur seperti saudara,” kata Benny ditemui Tribun di kediaman kerabatnya di Jalan Sulaiman, Sukarame, Kamis (2/3/2017).

Bapak tiga anak ini mengaku tertarik mengasuh anak-anak karena niatnya sebagai anggota polisi di wilayah kepolisan Tulangbawang, untuk mengurangi kriminalitas yang banyak dilakukan kalangan remaja dan pelajar putus sekolah di wilayan Tubaba.

“Sebagai polisi saya miris melihat kriminalitas banyak dilakukan remaja, terbetik niat mengajak mereka melakukan kegiatan positif. Kebetulan saya hobi basket, saya rangkul mereka olahraga basket,” ujar suami dari Diah Sapta Anggraini yang ikut hadir mendampingi suaminya.

Menurut putra ketiga empat bersaudara pasangan Mursalin Nawawi dan Sumarni Umar, banyak suka dan duka pernah ia alami selama menjadi bapak asuh. Bahkan ia dan keluarga serta para anak asuh pernah makan nasi tiwul, dan meminjam beras dari tetangga, karena tidak ada uang.

Bahkan saat masa-masa sulit, pria kelahiran 8 Juli 1981 ini, dan para anak asuhnya yang tinggal di rumah berukuran 12 x 14 m2, pernah berjualan nasi goreng, pecel lele, hingga batu akik, hanya sekedar untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka.

Namun ia dan istrinya tidak pernah merasa terbebani untuk membiayai sekolah dan kebutuhan para anak asuhnya. Menurutnya semua sudah ada yang mengatur, bahkan rezekinya datang kadang tak terduga, selalu ada kemudahaan setiap menghadapi kesulitan.

“Alhamdulillah rezeki mereka ada saja, Allah sudah mengaturnya, banyak yang bantu, baik uang maupun sembako. Ada dari bupati, anggota dewan, pejabat polda ikut bantu, tempat sekolah mereka sering kasih potongan,” jelasnya.

Dalam menjadi bapak asuh, Benny memegang prinsip yang diajarkan kedua orangtuanya yakni menjadi orangtua asuh bagi orang tidak mampu, tidak akan pernah mengurangi rezekinya, tapi bantuan dan rezeki yang datang, itu merupakan rezeki anak-anak asuh, yang dititipkan Allah kepada dirinya.

“Apa yang saya lakukan ini sesuai pesan orangtua, tidak akan pernah mengurangi rezeki saya, semua sudah diatur yang maha kuasa. Rezeki anak-anak itu sudah ada, dititipkan lewat saya, biar Allah yang membalas semua ini,” pungkasnya. (*)

Penulis: Romi Rinando
Editor: Heribertus Sulis
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved