Pemulung Tanpa Kaki Ini Ditinggali Anak-anak

"Entah kenapa anak saya tidak mau tinggal bersama saya, bahkan anak kedua seakan tidak menghargai saya

Penulis: hanif mustafa | Editor: wakos reza gautama
Tribunlampung.co.id/Hanif Mustafa
samsul bahri 

Laporan Reporter Tribun Lampung Hanif Mustafa

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Samsul Bahri, pemulung tanpa tangan, hidup seorang diri di kontrakan rumah semi permanen.

Rumah tersebut sudah ditempati bersama almarhum istrinya selama 30 tahun.

Sedangkan anak-anaknya enggan tinggal bersamanya.

"Entah kenapa anak saya tidak mau tinggal bersama saya, bahkan anak kedua seakan tidak menghargai saya," terangnya, Minggu (8/10/2017).

Kedua putrinya yang terakhir tinggal bersama dengan kakak tertuanya.

"Memang anak tertua saya, dua orang, sudah menikah, dan tinggal bersama suaminya," sebut Samsul sembari memainkan alat pemungut sampahnya.

Meski demikian ia tidak berkecil hati, roda harus berputar, maka ia tetap meneruskan hidup.

"Setiap hari saya berkeliling, mulai pukul 05.00 wib dan pulang kerumah pukul 17.00 wib, barang-barang yang saya dapatkan saya kumpulkan dulu," katanya.

Sampai rumah ia memisahkan sampah-sampah rosok tersebut. Lalu ia beristirahat sejenak.

"Nah sekitar pukul 19.00 wib, saya keluar lagi nyari barang rosok sampai pukul 22.00 wib, baru pulang kerumah," lanjutnya.

Rongsokan yang didapatnya tidak langsung dijual, tetapi ia simpan terlebih dahulu dan dijual kepada pengepul setelah 3 minggu.

"Sekitar 3 minggu rongsokan terkumpul dan saya bawa ke pengepul, lumayan uangnya bisa buat bayar kontrakan dan kehidupan sehari-hari, bahkan bisa juga buat bantu biaya dua putri saya yang masih kuliah," tutupnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved