Dua Tokoh Islam Lampung Bicara Soal Perayaan Tahun Baru, Boleh Ga Ya?
Dua Tokoh Islam Lampung Bicara Soal Perayaan Tahun Baru, Boleh Ga Ya? begini pandangannya
Laporan Reporter Tribun Lampung Hanif Mustafa
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Pergantian tahun apapun tahunnya, baik syamsiah maupun khomariah, maka akan bertambah tahun dan umur.
Dengan bertambahnya tahun dan umur ini, Ketua PWNU Lampung KH Soleh Bajuri mengatakan, harus lebih baik dibandingkan dengan tahun lalu.
Baca: Siswi SMA Bunuh Teman Sendiri, Keterangan Saksi soal Kronologi Bikin Bergidik
"Rasul mengatakan siapa saja harus lebih baik dari pada tahun kemarin inilah orang yang beruntung, kalau yang tahun ini sama dengan tahun kemarin itu rugi, kalau tahun ini kok lebih jelek dari pada tahun kemarin itu paling dilaknat," ujarnya, Minggu 31 Desember 2017.
Namun perlu diingat, lanjutnya, kaitannya dengan perayaan janganlah dilalui dengan berfoya-foya.
"Seyogyanya mari perayaan tahun baru diisi dengan bersyukur kepada Allah, kita rayakan dengan memperbanyak dengan bacaan zikir, bersalawat, istigosah dan sebagainya, yang mana meminta pertolongan kepada Allah SWT," sebutnya.
Namun, menurutnya perayaan tahun baru yang dilakukan oleh hal layak orang, banyak lebih condong pada menghamburkan harta.
"Pesta kembang api, foya-foya, itukan namanya mubadzir, yang jelas memubazirkan harta itu kawan setan, maka pesan saya untuk masyarakat, mari kita rayakan tahun ini dengan memperbanyak zikir, tasbih dan tahlil," tutupnya.
Ketua Komisi Fatwa MUI Lampung KH Munawir mengatakan perayaan tahun baru diisi dengan bersyukur kepada Allah yang diwujudkan dengan kegiatan ibadah.
"Perayaan tahun baru hukumnya tidak ada yang melarang, dengan catatan perayaan itu tidak melewati batas," ujarnya.
Baca: Biasa Pamer Kekayaan, Usai Anaknya Ditalak Sunan Kalijaga Justru Pamer Ini Saat Akhir Tahun
Menurutnya melewati batas ini, tidak diisi dengan hura-hura, maksiat dan sebagainya.
"Alangkah baiknya diisi dengan doa, berzikir, karena kita ini kan diberi umur panjang," tuturnya.
Meski demikian, KH Munawir mengatakan perayaan tahun baru hampir mirip dengan Natal.
Oleh sebabnya umat Islam tidak diperbolehkan menggunakan atribut Natal.
"Selagi merayakan tahun baru, kita rayakan, asalkan tidak hura-hura," tutupnya.