Kisah Brigadir Agus Pernah Tinggal di Pinggir Rel Bikin Berurai Air Mata

Hal terpenting tugas sebagai polisi dilaksanakan dengan baik. Nanti kalau pansiun saya jual pempek saja depan rumah.

Kisah Brigadir Agus Pernah Tinggal di Pinggir Rel Bikin Berurai Air Mata
Tribun Lampung
Brigadir Agus sedang memperbaiki warung pempek miliknya dengan memasang batu batu, Minggu (7/1/2018). 

Laporan Reporter Tribun Lampung Tri Yulianto

TANGGAMUS, TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Sebuah warung pempek di tikungan jalan Pekon Tekad, Kecamatan Pulau Panggung arah ke Kecamatan Air Naningan pada Minggu (7/1/2018) siang tutup. Beberapa orang sempat berhenti sejenak memastikan warung tersebut libur.

"Ya sedang libur dulu mau diperbaiki sedikit," ujar pria bernama Agus Salim yang juga seorang anggota polisi di Polsek Pulau Panggung.

Mengenakan kaus bertuliskan polisi di pundaknya, pria paruh baya tersebut sibuk memasang batu bata di bagian belakang warungnya. Sebagai anggota polisi, Pak Agus ---sapaan akrabnya--- tampil apa adanya dan sederhana. Jika tidak mengenalnya sejak awal, tentu tidak menyangka Agus adalah anggota Polri.

Rumahnya yang terdiri dari papan dan batu bata merah tidak pula dipastikan jika pemiliknya seorang polisi. Anggota Satuan Pelayanan Kepolisian (SPK) dan Bhabinkamtibmas Pekon Way Harong dan Batu Tegi ini begitu sederhana. Tidak ada penampilan yang menunjukkan materi sebagai orang yang berprofesi mapan. "Dari dulu saya apa adanya cuma bergantung dari gaji," ujar Agus.

Ia mengakui memang pandangan polisi di mata masyarakat pasti memiliki kecukupan materi, dan aset yang berharga. Namun berbeda jauh dengan sosok Agus, dirinya hanya memiliki dua sepeda motor kreditan dan lahan setengah hektare. Di lahan itulah ada rumah dan warung pempek istrinya.

"Ini saja baru punya sekitar tahun 2000, dulunya saya tinggal di asrama Polsek Pulau Panggung. Saya beli tanah ini dan memperbaiki rumahnya dari pinjam di bank. Kalau tidak seperti itu saya tidak punya rumah. Dulu rumah juga papan, terus meminjam lagi di bank untuk perbaiki," terang Agus.

Ia mengaku setiap bulan menerima gaji Rp 5,4 juta, namun karena harus mencicil pinjaman maka cuma setengah yang dibawa pulang. Kebetulan sang istri Heilina, ikut nimbrung mencukupi hidup dengan jual pempek dan menu sayur. "Istri dan ibu saya yang bilang, sudahlah cukup hidup dari gaji saja tidak usah dari lainnya," kata Agus.

Pria yang miliki empat anak ini mengaku sudah cukup bangga menjadi polisi, tidak perlu lagi materi yang mewah. Bahkan dirinya dan keluarga sempat tinggal di pinggiran rel saat masih berdinas di Polres Lampung Selatan. Itu saja berkat pertolongan seorang pemilik bagan di perairan Teluk Lampung.

"Saya dulu pernah di Satuan Lalu Lintas, saat itu kalau mau ratusan sak semen gampang, dan kalau mau juga saya sudah punya rumah dari dulu. Tapi batin saya tidak bisa menerima, akhirnya mengontrak atau tinggal di asrama," ujar Agus.

Pada bulan Agustus mendatang, Agus akan memasuki masa pensiun, dan dirinya bersyukur sudah memiliki rumah sederhana. Dia juga bersyukur selama ini lolos dari godaan memperkaya diri dengan segala cara. Dirinya tidak menyesal jika kalah dengan sesama anggota lain yang materinya lebih banyak meski sama-sama sebagai anggota polisi.

"Hal terpenting tugas sebagai polisi dilaksanakan dengan baik. Nanti kalau pansiun saya jual pempek saja depan rumah," kata Agus.(tri yulianto)

Penulis: Tri Yulianto
Editor: muhammadazhim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved