Melongok Kios Serumpun Bambu Society, Harga Kursi Bambu di Sini Mengikuti Dolar

Siang menjelang sore ketika sekelompok orang berkumpul di kios kerajinan dan furniture berukuran sekitar 2,5 meter persegi.

Penulis: Robertus Didik Budiawan Cahyono | Editor: Yoso Muliawan
Tribun Lampung/R Didik Budiawan
Pekerja sedang membuat kursi dari bahan bambu di bengkel kios, Selasa (23/1/2018). 

LAPORAN REPORTER TRIBUN LAMPUNG R DIDIK BUDIAWAN

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, PRINGSEWU - Siang menjelang sore ketika sekelompok orang berkumpul di kios kerajinan dan furniture berukuran sekitar 2,5 meter persegi, Selasa (23/1/2018). Kios itu berada di Kelurahan Pringsewu Selatan, Kecamatan Pringsewu, Kabupaten Pringsewu.

Di antara mereka, lebih banyak yang datang untuk sekadar mengagumi ketimbang tawar-menawar harga.

Tatapan terutama terpaku pada deretan kursi yang terbuat dari bahan seperti kayu. Namun, setelah melihatnya lebih detail, bahan tersebut bukanlah kayu, melainkan bambu.

Seorang laki-laki yang mengetahui banyak seluk-beluk funiture berupaya memberi penjelasan. Dia adalah Hartono, fasilitator kelompok kerajinan tersebut.

Tak hanya furniture, barang kerajinan juga banyak terpajang di dalam etalase dan bagian atas etalase. Semua terbuat dari bambu. Mulai dari kerajinan capung, boneka, hingga kapal.

Sore itu, kios bernama Serumpun Bambu Society menerima kunjungan awak media. Usaha yang mulai tumbuh di Pringsewu ini menarik animo, karena berkaitan dengan ikon Pringsewu yang memiliki nama bambu alias pring.

Hartono menuturkan, bengkel produksi kerajinan dan furniture ini berada tepat di belakang kios. Dari beberapa hasil produksi, harganya ada yang terjangkau dengan kocek minim. Seperti peluit bambu yang hanya Rp 2.000 dan capung Rp 10.000 per buah.

Sebaliknya, harga furniture dari bahan bambu menyesuaikan dengan dolar AS. Seperti kursi teras, nominalnya 800 dolar AS. Lalu satu set kursi, seharga 1.500 dolar AS.

Dengan kurs dolar AS setara Rp 13 ribu, maka harga satu set kursi teras mencapai Rp 10,4 juta. Sedangkan kursi makan satu set senilai Rp 19,5 juta.

"Penjualan furniture ini melalui perhimpunan bambu. Kebanyakan 'lari' ke Jakarta dan Bandung," ujar Hartono.

Mahalnya harga tersebut, menurut Hartono, karena rumitnya pembuatan bahan baku. Mulai dari pengawetan hingga pencetakan, seperti papan atau bambu laminasi. Waktu memproduksinya juga lama.

Meskipun demikian, kualitasnya terjamin awet. Selain itu, kekhasan bambu membuat furniture terlihat lebih unik.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved