Petani Jagung Menjerit karena Harga Anjlok

Seperti halnya di beberapa kabupaten lain, harga jagung di Lampung Utara juga anjlok.

Petani Jagung Menjerit karena Harga Anjlok
Tribun Lampung
Beberapa petani memanen jagung di ladangnya. Meskipun sedang panen, tetapi harga jagung di Lampung Utara anjlok. 

LAPORAN REPORTER TRIBUN LAMPUNG ANUNG BAYUARDI

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, KOTABUMI - Seperti halnya di beberapa kabupaten lain, harga jagung di Lampung Utara juga anjlok.

Meskipun sekarang memasuki masa panen, tetapi petani kecewa lantaran harga jual komoditas tersebut turun.

Saat ini, harga jagung basah hanya Rp 1.900 per kilogram dari sebelumnya Rp 2.800 per kg. Sementara jagung kering, harganya turun menjadi Rp 3.000 dari tadinya Rp 3.300 per kg.

"Harga jual yang cuma Rp 1.900 per kg tidak sesuai dengan modal ngurus jagung sampai panen tiba," keluh Udin, petani jagung di Desa Gilih Sukanegeri, Kecamatan Abung Selatan, Minggu (11/2/2018).

Untuk membeli bibit, Udin harus merogoh kocek Rp 500 ribu per sak. Dalam 1 hektare lahan, perlu setidaknya 3 sak bibit.

Belum lagi biaya membeli pupuk seperti Urea yang harganya Rp 100 ribu per sak isi 50 kg. Sementara pupuk Phonska mencapai Rp 150 ribu per sak isi 50 kg.

"Dalam 1 ha lahan, mengunakan 5 kwintal pupuk. Untuk bibit dan pupuk saja, sudah menghabiskan uang Rp 2,7 juta," tutur Udin.

Biaya lainnya adalah upah bajak lahan yang mencapai Rp 800 ribu per ha. Kemudian, biaya membeli obat semprot dan upah jasa yang nilainya Rp 500 ribu.

Selanjutnya, upah tanam, membersihkan rumput, sampai pengunduhan jagung. Total modal menanam jagung per ha sekarang, menurut Udin, mencapai Rp 8,5 juta.

Halaman
12
Penulis: anung bayuardi
Editor: yoso
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved