Kisruh SMPN 10 Metro, Kadisdikbud: Pernyataan Dewan Pendidikan Hoaks

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Metro Ria Andari menepis anggapan ada guru yang minta dipindahkan.

tribun lampung/indra
Kadisdikbud Metro Ria Andari 

Laporan Reporter Tribun  Lampung Indra Simanjuntak

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, METRO - Kisruh SMPN 10 Kota Metro makin panjang. Dewan Pendidikan Metro menyatakan, 19 guru mengajukan pindah dari sekolah tersebut sebagai buntut dari mutasi guru bahasa Indonesia Lili ke SMPN 8 yang dianggap tidak sesuai dengan prosedur.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Metro Ria Andari menepis anggapan ada guru yang minta dipindahkan. Ia telah memerintahkan Kabid Tendik dan Korwas turun ke sekolah melakukan pemeriksaan dan klarifikasi kepada para guru. 

"Jadi ini adalah suatu persoalan dan akan segera kami selesaikan. Jangan karena ada satu-dua orang guru bermasalah, sampai mengorbankan dan mengganggu anak-anak yang sedang menghadapi UNBK," ungkapnya saat dikonfirmasi awak media selepas menghadiri Musrenbang Kota Metro, Kamis, 1 Maret 2018.

Baca: Soal Kontroversi Larangan Dengar Musik di Mobil, Begini Kata Pengamat

Baca: Diduga Sebar Berita Hoaks soal Megawati, Guru asal Way Kanan Ditangkap Bareskrim Polri

Mantan Kepala Bidang Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Kebudaayan Provinsi Lampung ini menegaskan, informasi yang disampaikan Dewan Pendidikan ke Wali Kota Metro itu adalah berita bohong atau hoaks.

"Tapi wallahu a’lam, karena DP (Dewan Pendidikan) tidak datang ke Disdik dulu, malah menemui wali kota. Jadi saya juga bingung sebenernya DP ini berada di mana. Tapi pada saat staf, Kabid Tendik dan pengawas turun mengklarifikasi tidak ada berita tentang permintaan mutasi guru secara massal di SMPN 10. Itu artinya informasi yang disampaiakan DP adalah hoaks," tandasnya.

Dewan Pendidikan Metro bertemu dengan Wali Kota Achmad Pairin di ruangannya, Rabu, 28 Februari 2018. Kunjungan tersebut untuk menindaklanjuti hasil verifikasi mutasi guru bahasa Indonesia SMPN 10 yang dianggap tidak sesuai prosedur dan menyampaikan adanya penyataan 19 guru meminta dipindahkan. 

Kepada awak media, Yahya Wilis membenarkan bahwa dirinya telah menerima berkas tertulis dari guru-guru SMPN 10 Metro yang membuat pernyataan tertulis kesepakatan untuk meminta dipindahkan oleh Pemkot Metro. Itu menyusul adanya kebijakan yang dibuat kepsek sepihak, tanpa melalui mekanisme yang jelas.

"Ada 19 guru yang meminta dipindahkan. Nah, kalau semua pindah, bagaimana nasib sekolah itu. Ini kita baru audiensi dengan wali kota. Semua harus sesuai prosedur dong. Kalau ada salah seorang ASN punya masalah, itu harusnya ada pembinaan terlebih dahulu seperti teguran lisan. Mana teguran lisan, tidak ada yang bisa memberikan bukti," urainya. (*)

Penulis: Indra Simanjuntak
Editor: Daniel Tri Hardanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved