Kotabumi Art Festival, Dari Perkusi, Dance, hingga Musik Dayak

ejumlah seniman lokal dan luar Lampung unjuk gigi dalam pagelaran Kotabumi Art Festival.

Kotabumi Art Festival, Dari Perkusi, Dance, hingga Musik Dayak

Laporan Reporter Tribun Lampung Anung Bayuardi 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, KORABUMI - Sejumlah seniman lokal dan luar Lampung unjuk gigi dalam pagelaran Kotabumi Art Festival. Bertempat di Gedung Serbaguna Islamic Center Kotabumi, Rabu 28 Maret, mereka beradu kebolehan dengan mengusung bidang seni masing-masing.

Satu penampilan yang menarik perhatian adalah performance seniman tari asal Jerman bernama Anne Maria. Ia saat ini bertugas sebagai student of thetaer and dancing. Anne aktif berkesenian di Eropa, Amerika Serikat, termasuk Indonesia.

Dari Lampung sendiri tak kalah keren. Ada penampilan seniman musik bernama Jaeko Sienna. Ia kini aktif berkarier di Yogyakarta. Ada juga performance dari Ayu Permata Dance Company Yogyakarta besutan seniman asal Lampura.

Baca: Pindah Agama Saat Menikah dengan Jenderal, Begini Hubungan Bella Saphira dengan Orangtuanya

Sanggar seni di Lampura turut unjuk kebolehan bersama Gardance Story Bandar Lampung, Rumah Tari Sengishu Lampung, dan Sekelik Etrich Percussion Lampung. Dari luar Lampung, turut serta M Budi Setiyawan, seniman alat musik Dayak, yaitu Sapek.

"Kotabumi Art Festival ini dalam rangka memajukan dan melestarikan kesenian dan budaya daerah," ujar Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lampura Suwandi.

"Pagelaran seni dan budaya berarti strategis untuk menjaga dan mewariskan seni dan budaya kepada generasi penerus," sambungnya.

Baca: Menyamar sebagai Laki-laki karena Ditinggal Orangtua, Wanita Ini Cabuli Gadis 16 Tahun

Kotabumi Art Festival ini mengusung tema "Melalui Keragaman Budaya dan Kesenian, Kita Perkuat Rasa Kebhinekaan Bangsa".

Melalui pagelaran ini, ada harapan agar generasi muda meneruskan pengembangan kesenian dan budaya.

Promisi budaya tak lain untuk meredam berbagai tantangan maupun pengaruh negatif budaya asing yang berpotensi mengikis budaya lokal.

"Kita bisa lepas dari paham primordialisme sempit, yang menganggap seni dan budaya lain lebih baik ketimbang milik kita sendiri. Terlebih, dalam menghadapi globalisasi, eksistensi kesenian tradisional perlu kita pacu dan kita beri ruang," jelas Suwandi.

Sebelum pagelaran ini, telah berlangsung workshop seni musik dan tari. "Kotabumi Art Festival ini menjadi wadah berekspresi dan berkarya, dalam hal ini peserta workshop dan beberapa sanggar seni se-Lampura," kata Kabid Kebudayaan Disdikbud Lampura yang juga ketua pelaksana kegiatan Nani Rahayu. (ang)

Penulis: anung bayuardi
Editor: soni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved