Tidak Mendengar Apa-apa Termasuk Kriteria Salat Khusyuk?
Ada beberapa penjelasan yang mengatakan bahwa salat baru dikatakan khusyuk bila kita sudah tidak mendengar apa-apa.
Penulis: Eka Ahmad Sholichin | Editor: Reny Fitriani
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - KEPADA Yth MUI Lampung. Saya mau tanya tentang kriteria salat khusyuk. Ada beberapa penjelasan yang mengatakan bahwa salat baru dikatakan khusyuk bila kita sudah tidak mendengar apa-apa dan hanya fokus kepada Allah SWT. Apakah memang benar seperti itu? Terimakasih atas penjelasannya.
Baca: Mengapa Lampu PJU di Jalan Pahlawan Baru Hidup Pukul Setengah 9 Malam?
Pengirim: +6281269854xxx
Laksanakan Penuh Konsentrasi
Baca: Pohon di Jalan Sultan Agung Halangi Rambu Lalu Lintas
KHUSYUK dalam salat merupakan perkara yang sangat penting, sebab hal itu merupakan tujuan utama dari salat yang kita kerjakan.
Dalam istilah ahli hakikat, khusyuk adalah patuh pada kebenaran. Ada yang mengatakan bahwa khusyuk adalah rasa takut yang terus menerus ada di dalam hati (Kitab At-Ta’rifat, 98).
Syeikh ’Ala’udin Ali bin Muhammad bin Ibrahim al-Baghdadi mengatakan, khusyuk dalam salat adalah menyatukan konsentrasi dan berpaling dari selain Allah serta merenungkan segala yang diucapkannya, baik berupa bacaan Al-Qur’an maupun dzikir. (Tafsir Al-Khazin, juz V, hal 32)
Jadi khusyuk merupakan kondisi dimana seseorang melakukan salat dengan memenuhi segala syarat, rukun dan sunnah salat, serta dilakukan dengan tenang, penuh konsentrasi, meresapi dan menghayati ayat juga semua dzikir yang dibaca dalam salat.
Syeikh Ali Ahmad aj-Jurjani berkata:"sesungguhnya khusyuk dan menghadirkan hati dalam salat, serta tetangnya anggota (dan melaksanakan sesuai syarat dan rukunnya) merupakan iman yang sempurna." (Hikmatut Tasyri’ wa Falsafatuhu, juz II, hal
Namun begitu, harus diakui bahwa khusyuk ini merupakan perkara yang berat sekali. Apalagi bagi kita yang masih awam. Sedikit sekali orang yang mampu khusyuk dalam salatnya.
Kalau kenyataannya seperti itu, maka minimal yang bisa kita lakukan adalah bagaimana khusyuk itu bisa terwujud dalam salat kita walaupun hanya sesaat.
Imam Ghazali dalam kitab Ihya ’Ulum ad-Din, Juz I, hal 161 menjelaska: "Maka tidak mungkin untuk mensyaratkan manusia agar menghadirkan hati (khusyuk) dalam seluruh salatnya. Karena sedikit sekali orang yang mampu melaksanakannya, dan tidak semua orang mampu mengerjakannya. Karena itu, maka yang dapat dilakukan adalah bagaimana dalam shalat itu bisa khusu’ walaupun hanya sesaat saja."
Kesimpulannya adalah khusyuk dalam salat merupakan satu kondisi dimana kita melakukan salat dengan tenang dan penuh konsentrasi, menghayati dan meresapi arti dan makna salat yang sedang dikerjakan.
Dan itu merupakan perkara yang sangat penting, agar ibadah yang kita laksanakan dapat dirasakan dalam kehidupan nyata, tidak semata-mata formalitas untuk menggugurkan kewajiban. Dan tidak benar jika khusuk dalam salat diartikan sudah tidak mendengar apa apa.
KH. MUNAWIR
Ketua Komisi Fatwa MUI Lampung