Apa Itu Stunting? Begini Penjelasan Diskes

Anak yang mengalami stunting tidak memiliki perbedaan perilaku dengan anak yang sehat pada umumnya.

Penulis: Noval Andriansyah | Editor: Ridwan Hardiansyah
GrafisTribunlampung/Dodi
Ilustrasi. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Humas Dinas Kesehatan (Diskes) Lampung, Asih Hendrastuti menuturkan, stunting merupakan gangguan pertumbuhan kronis pada anak.

Hal itu terjadi akibat anak kekurangan nutrisi atau malanutrisi dalam waktu cukup lama.

Anak yang mengalami stunting tidak memiliki perbedaan perilaku dengan anak yang sehat pada umumnya.

Asih menuturkan, stunting baru bisa diketahui ketika anak mulai berusia dua tahun.

"Kalau masih di bawah dua tahun, agak sulit mendeteksi karena pada usia itu, anak masih dalam proses penulangan. Artinya, tulang masih mengalami tumbuh kembang," tutur Asih.

Baca: Ibu Kaget Anak Divonis Stunting, Meningkat dalam Tiga Tahun Terakhir di Lampung

Berdasarkan Kepmenkes Nomor 1995/Menkes/SK/XII/2010 tentang Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak, Asih menjelaskan, rata-rata tinggi anak usia dua tahun mencapai 87,1 centimeter (cm) untuk laki-laki, dan 85,7 cm untuk perempuan.

Meski begitu, faktor risiko anak mengalami stunting bisa bermula sejak proses kehamilan.

"Misalnya, ibu saat hamil kurang energi dan kalori. Dalam kondisi itu, anaknya berisiko mengalami stunting," tutur Asih.

Faktor risiko stunting juga bisa terlihat saat bayi baru lahir. Asih mengungkapkan, risiko itu bisa terjadi pada bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR).

"Panjang bayi baru lahir kurang dari 48 cm juga berisiko mengalami stunting. Artinya, itu semua menunjukkan ada masalah selama masa kehamilan," jelas Asih.

Bukan Gizi Buruk

Meski sama-sama akibat kekurangan nutrisi, stunting berbeda dengan gizi buruk maupun gizi kurang.

Asih mengungkapkan, stunting merupakan gangguan gizi kronis. Sementara, gizi buruk adalah gangguan gizi akut.

Gangguan gizi kronis, sambung Asih, merupakan kondisi medis yang berlangsung dalam kurun waktu lama, atau secara perlahan.

"Sehingga, berpotensi menjadi penyakit serius jika tidak segera ditangani," urai Asih.

Sedangkan, gangguan gizi akut terjadi secara mendadak dalam waktu singkat, yang biasanya merupakan serangan penyakit serius.

Gangguan gizi akut pun dapat segera dideteksi.

"Cara mendeteksi gangguan gizi akut dengan menimbang setiap bulan. Kalau dua kali timbangan, berat badan tidak naik, itu bisa menunjukkan gangguan gizi akut," ujar Asih.

Sumber: Tribun Lampung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved