Siap Bongkar Dugaan Poltik Uang Pilgub Lampung, Tiba-tiba Politisi Ini Jatuh Sakit

Kini dia menjalani perawatan di kamar 603 lantai 6 Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto ( RSPAD), Jakarta, sejak Rabu lalu.

Siap Bongkar Dugaan Poltik Uang Pilgub Lampung, Tiba-tiba Politisi Ini Jatuh Sakit

“Bagi-bagi uang dengan amplop kecil, merata, di beberapa wilayah berbeda cara. Ada dari tukang sayur, ada pemuda diberikan. Memang terputus. Kita tanya uang dari mana? Dari si A. Siapa si A? Tidak kenal. Tapi, secara rasionalitas apakah mungkin tukang sayur bisa melakukan seperti itu? Apakah ini harus kita biarkkan?” kata Tahura.

Hamdan menjelaskan, dalam hukum tidak bisa menduga-duga. Tetapi, perlu pembuktian.

“Hukum tidak boleh menduga-duga kalau tidak terbukti organisirnya. Itu pidana. Kalau ada perintah, terstruktur, kena dia. Tapi jangan menduga-duga,” tegasnya.

Tahura juga menanyakan mengenai keabsahan saksi yang baru dimasukkan setelah persidangan berlangsung.

“Laporan yang masuk persidangan Bawaslu, setelah perbaikan bukti baru dimasukkan. Apakah itu diperbolehkan?” tanya Tahura.

“Tidak bisa. Karena persidangan itu membuktikan dalil. Karena itu mempersulit pembelaan penggugat. Pidana juga begitu. Digugurkan dakwaannya kalau begitu. Mengubah gugatan setelah sidang berjalan. Itu prinsip umum. Berdasarkan teori,” jawab Hamdan.

Sementara Rafli Harun mengatakan, para saksi ahli memberi penjelasan secara keilmuan, bukan berdasarkan peristiwa di lapangan.

“Kami mana  tahu faktanya seperti apa. Jadi kalau soal fakta, jangan tanya ke sini. Ada susu, martabak. Itu soal pembuktian di sini. Kami bicara soal prinsip. Ini ada rezim. Ada rezim pidana. Ada pelanggaran administrasi. Pidana berlaku semua orang. Administratif berlaku untuk calon. Tapi, yang dilaporkan bukan hanya calon,” ungkap Rafli.

Untuk dugaan pelanggaran administrasi, terusnya, harus bisa dibuktikan di persidangan secara piramida terbalik.

“Jadi yang dilaporkan harus pakai prinsip piramida. Yaitu semua bukti, semua saksi harus membuktikan mengarah ke pasangan calon. Kalau tidak, pengadilan ini tidak bisa memberikan hukuman apa-apa. Kalau ada satu, dua, atau tiga terbukti, paling majelis membawa ke Gakkumdu menindak pidana pemilu. Tindak  pidana itu sifatnya individual responsibility. Siapa yang berbuat, dihukum. Kalau tidak bisa membuktikan itu, jangan salahkan diri sendiri. Tidak mudah membuktikan sesuatu itu TSM,” jelasnya.

Menurut dia, jika tidak bisa dibuktikan, unsur TSM bisa dikaitkan dengan hasilnya. “Maka saya bilang beratnya minta ampun pembuktian TSM itu,” katanya.

Sementara Nurhidayat menjelaskan mengenai proses penanganan perkara oleh penyelenggara pemilu. Semua pelanggaran wajib ditindaklanjuti.

“Semua harus diproses. Bahkan dihentikan pun, itu diproses dalam UU,” katanya. (*)

Penulis: Romi Rinando
Editor: soni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved