Kuasa Hukum Sjamsul Nursalim Heran, Sudah 20 Tahun Kasus BLBI Tak Tuntas

Otto Hasibuan heran sudah 20 tahun kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) tak kunjung tuntas.

Kuasa Hukum Sjamsul Nursalim Heran, Sudah 20 Tahun Kasus BLBI Tak Tuntas
Antara/Wahyu Putro A
Terdakwa kasus penerbitan Surat Keterangan Lunas BLBI, Syafruddin Tumenggung, menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Kamis (26/7). Sidang ini beragendakan mendengarkan keterangan saksi. Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi menghadirkan 10 saksi. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Otto Hasibuan selaku kuasa hukum Sjamsul Nursalim, pemilik PT Dipasena Citra Darmadja (DCD), menyatakan heran sudah 20 tahun kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) tak kunjung tuntas.

Otto menyatakan, dalam prinsip hukum, sebuah kasus harus ada akhirnya.

"Dari zaman pemerintahan Pak Harto, Habibie, Gus Dur, Megawati, dan Pak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono), sampai Pak Jokowi (Joko Widodo) sekarang (tidak selesai)," ujarnya usai sidang mendengarkan keterangan saksi di Pengadilan Tipikor, Kamis (26/7/2018). "Seandainya ini diberlakukan kepada kita, bagaimana?" imbuhnya.

Kasus BLBI memasuki tahap persidangan. Syafruddin Tumenggung, eks Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), didakwa melakukan korupsi yang merugikan negara Rp 4,58 triliun.

Jaksa KPK juga menyatakan Sjamsul Nursalim turut diperkaya dari perbuatan Syafruddin.

Dalam sidang, Kamis (26/7/2018), empat petambak udang dari Bumi Dipasena Utama, Tulangbawang, Lampung, dihadirkan jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi.

Keempatnya adalah Tugiyo, Lasim, Towilun, dan Yusuf. Mereka menjadi saksi kasus penerbitan Surat Keterangan Lunas BLBI.

Tugiyo, salah satu petambak udang Dipasena, mengaku datang bersama tiga petambak lainnya ke Pengadilan Tipikor dengan biaya sendiri. Ia berada di Jakarta sejak Rabu (25/7/2018) dan menginap di rumah salah satu dari mereka di Jakarta.

Menurut Tugiyo, setelah hubungan kerja sama mereka terputus dengan PT DCD pada tahun 1999, kehidupannya beserta 7.000 petambak lain menjadi lebih baik. Mereka menjadi petambak mandiri.

"(Berangkat ke Jakarta) nggak (dibiayai KPK). Biaya sendiri," kata Tugiyo. "Ini (mobil SUV warna hitam merek Pajero Sport) juga hasil dari tambak (salah satu dari mereka)," imbuh Tugiyo yang menumpangi Pajero Sport menuju lokasi sidang.

Halaman
12
Editor: yoso
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved