Sendirian, Prajurit Kopassus Pratu Suparlan Tak Gentar Hadapi Ratusan Musuh

Pratu Suparlan merupakan anggota Kopassus yang telah mengorbankan nyawanya demi negara.

Tayang:
TRIBUNJABAR
Pratu Suparlan, Prajurit Kopassus yang gugur membela NKRI di Timor Timur. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Nama Suparlan kini diabadikan sebagai nama Lapangan Udara Perintis di Pusdikpasus Batujajar Bandung, yang diresmikan Kasad Jendral TNI Edi Sudrajat pada 26 Mei 1991.

Pratu Suparlan merupakan anggota Kopassus yang telah mengorbankan nyawanya demi negara.

Pratu Suparlan gugur saat melindungi rekan-rekannya di medan perang.

Kisah heroik tersebut terjadi di medan perang wilayah Timor Timur atau sekarang bernama Timor Leste, sebagaimana dikutip Tribunjambi.com dari laman http://kopassus.mil.id.

Maklum, daerah tersebut merupakan tempat para pentolan pemberontak Fretilin, yang tak sungkan menghabisi anggota TNI yang mereka jumpai.

Tiba-tiba, sepasukan kecil TNI tersebut diadang sekitar 300-an anggota Fretilin.

Mereka membawa senjata lengkap mulai dari senapan serbu, mortar, hingga GLM.

Pertempuran pun tak terhindarkan.

Pertempuran tak seimbang karena ratusan anggota Fretilin berada di ketinggian, sementara prajurit TNI berada pada posisi di pinggir jurang.

Satu per satu anggota pasukan kecil tersebut gugur.

Menyadari hal tersebut, komandan tim segera memerintahkan pasukannya untuk meloloskan diri ke satu-satunya peluang, yakni ke celah bukit.

Namun, hanya sedikit waktu yang tersisa bagi pasukan kecil tersebut.

Sehingga, Pratu Suparlan menyatakan pada komandannya bahwa ia akan terus maju.

Ia memilih untuk mengadang musuh sendirian.

Pratu Suparlan membuang senjatanya, dan mengambil senapan mesin milik rekannya yang gugur.

Tanpa gentar sedikit pun, ia menerjang ke arah pasukan Fretilin.

Hamburan peluru senapan mesin musuh yang mengoyak tubuh Pratu Suparlan, dibalasnya dengan rentetan peluru, hingga amunisinya habis.

Meski bersimbah darah, prajurit Kopassus itu tetap tegar bagai Banteng Ketaton.

Pratu Suparlan
Pratu Suparlan ()

Bukannya roboh seperti harapan musuh, Pratu Suparlan justru menghunus pisau komandonya.

Ia lalu berlari mengejar Fretilin ke tengah semak belukar, dan merobohkan 6 anggota pemberontak tersebut.

Tak terhitung, jumlah peluru yang telah bersarang di tubuh Pratu Suparlan.

Hal itu membuat seragam loreng yang dikenakannya berubah warna menjadi merah, akibat darah yang mengucur deras dari luka-lukanya.

Namun, ia tak menyerah.

Tibalah Pratu Suparlan pada ambang kesanggupannya, ia terduduk dan tak lagi mampu menggenggam pisau komandonya.

Ia kehabisan darah.

Namun, ia tak pernah kehabisan akal maupun semangat, untuk membela Ibu Pertiwi, dari rongrongan pemberontak.

Tetap Cerdas di Ujung Napas

Saat jatuh terduduk, pasukan Fretilin segera mengerumuninya, dan memberikan sebuah tembakan di lehernya.

Setelah puluhan musuh makin dekat mengepungnya, dengan sisa tenaga yang ada, ia susupkan tangan ke kantong celana.

Dalam hitungan detik, ia mencabut pin granat.

Ia lalu melompat ke arah kerumunan Fretilin di depannya seraya berteriak, “Allahu Akbar..."

Dentaman keras membahana, mengiringi robohnya puluhan prajurit pemberontak, bersama seorang prajurit Kopassus bernama Pratu Suparlan.

Sementara, sisa pasukan “Unit Suparlan” yang tinggal lima orang, telah menguasai ketinggian di celah bukit.

Melihat gugurnya Pratu Suparlan, dari atas bukit, mereka menghujani tembakan kepada kerumunan Fretilin.

Korban jatuh dari kedua belah pihak.

Tak lama, pasukan bantuan pun tiba, dan segera membantu memukul mundur Fretilin.

Ketika pertempuran yang berlangsung hingga malam itu berhenti, pasukan bantuan menemukan puluhan prajurit yang gugur, dari kedua belah pihak.

Di antaranya, tujuh orang Unit Pratu Suparlan.

Jenazah Pratu Suparlan ditemukan dalam keadaan tidak utuh.

Sedangkan, pihak Fretilin kehilangan 83 orang milisinya.

Sisanya ditangkap hidup-hidup.

KPLB dan Landasan Pacu

Keberanian, kecerdasan, dan baktinya pada Ibu Pertiwi, membuat negara menganugerahi Kenaikan Pangkat Luar Biasa (KPLB) kepada Prajurit Satu Suparlan satu tingkat lebih tinggi dari pangkat semula, yaitu Kopda (Anm).

Tanda jasa Bintang Sakti pun diberikan pada Kopda (Anm) Suparlan pada 13 April 1987, melalui Keppres No. 20/ TK/TH. 1987.

Nama Suparlan terpahat di atas batu granit hitam Monumen Seroja, di Kompleks Markas Besar TNI Cilangkap, serta diabadikan sebagai nama Lapangan Udara Perintis di Pusdikpasus Batujajar Bandung, yang diresmikan Kasad Jendral TNI Edi Sudrajat pada 26 Mei 1991.

Kepada tujuh personel yang gugur dari Unit Suparlan, negara juga menganugerahkan kenaikan pangkat.

Sebelumnya, setelah pertempuran sengit yang menewaskan prajurit Suparlan dan ketujuh personil lainnya, komandan Fretilin mengirimkan surat kepada pasukan Kopassandha.

Surat tersebut berisi tentang pernyataan salut mereka atas keberanian dan perlawanan yang dilakukan Prajurit Satu Suparlan (Majalah Baret Merah Edisi April 2014).

Artikel ini telah terbit di TribunJambi.com berjudul "Keberanian Prajurit Kopassus Pratu Suparlan, Tubuh Dihujani Peluru Tapi Mampu Habisi 83 Pemberontak".

Sumber: Tribun Jambi
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved