Terdakwa Tiba-tiba Menghilang, Hakim Batal Bacakan Vonis

Hal itu terjadi karena terdakwa yang akan mendapatkan vonis mendadak hilang.

Terdakwa Tiba-tiba Menghilang, Hakim Batal Bacakan Vonis
Thinkstock
Ilustrasi. 
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Majelis hakim di Pengadilan Negeri (PN) Tanjungkarang urung membacakan vonis, Selasa (31/7/2018).
Hal itu terjadi karena terdakwa yang akan mendapatkan vonis mendadak hilang.
Akibatnya, hakim memutuskan menunda sidang dengan agenda pembacaan vonis.
Peristiwa terdakwa menghilang terjadi pada sidang putusan kasus pemalsuan tanda tangan surat tanah sporadik.
Sidang dengan agenda pembacaan vonis, dijadwalkan berlangsung pada Selasa (31/7/2018).
Tetapi karena terdakwa menghilang, pembacaan vonis akhirnya ditunda.
Pada kasus tersebut, terdakwa bernama Irwandi.
Hingga saat itu, terdakwa berstatus tahanan kota.
Sebagai tahanan kota, Irwandi tidak ditahan di penjara.
Meski begitu, terdakwa dilarang pergi ke luar kota.
Dalam sidang yang beragendakan putusan di Ruang Melati Pengadilan Negeri Tanjungkarang, Selasa siang, Irwandi tak hadir.
Majelis hakim yang dipimpin Ahmad Lakoni, memutuskan menunda sidang hingga pekan depan.
Pihaknya meminta bantuan kepada jaksa untuk mencari terdakwa Irwandi.
Jaksa penuntut umum (JPU), Mala Kristin mengaku kaget bahwa terdakwa Irwandi tidak hadir, dan tidak diketahui keberadaannya.
"Tahanan kotanya kabur. Penasihat hukum baru menyampaikan saat sidang tadi bahwa terdakwa pamit kerja kemarin (Senin, 30/7/2018) sore, tapi tidak pulang-pulang sampai hari ini," jelas Mala.
Mala pun mengakui telah dimintai bantuan oleh majelis hakim, untuk melakukan pencarian terhadap Irwandi.
Kasus pemalsuan tanda tangan surat tanah sporadik bermula saat Darwin Muchlis melaporkan kakak dari menantunya.
Adapun, surat tanah sporadik merupakan surat pernyataan penguasaan atas fisik tanah.
Dalam surat dakwaan, JPU Mala Kristin memaparkan, awalnya Darwin hendak menaikkan status surat tanah sporadik menjadi sertifikat pada 2016.
Namun, surat tanah sporadik itu tidak ada.
Saat itu, Darwin mengira surat tersebut terselip.
Namun pada Agustus 2017, Darwin mendapat informasi bahwa surat tanah sporadik miliknya, berada di Bank Rakyat Indonesia Unit Pasar Tugu.
Surat tanah sporadik itu diduga diagunkan oleh Irwandi.
Darwin pun mengecek kebenarannya ke BRI Unit Pasar Tugu.
Setelah dicek, surat tanah sporadik miliknya ternyata memang diagunkan oleh Irwandi.
Tetapi, proses agunan dilakukan menggunakan surat kuasa, yang ditandatangani Darwin.
"Saudara Darwin merasa tidak menandatangani surat kuasa tersebut. Saksi Febriano Harmara Hadi selaku marketing (staf pemasaran) menjelaskan, dia didatangi terdakwa yang ingin mengajukan peminjaman, dan saksi menjelaskan persyaratannya," jelas Mala.
Atas kasus tersebut, jaksa mendakwa Irwandi dengan pasal 263 ayat 1 Kitab Undang- Undang Hukum Pidana tentang pemalsuan dokumen.
Serta, pasal 263 ayat 2 tentang pemalsuan yang merugikan.
Jaksa menuntut terdakwa dengan hukuman 3 tahun 2 bulan penjara.
Sementara keluarga Darwin Muchlis, Dicky menyatakan, ia tidak kaget atas menghilangnya terdakwa Irwandi.
"Sudah kami prediksi. Makanya, kami sudah minta supaya tidak jadi tahanan kota," tukas Dicky, kerabat Darwin.
Keputusan menjadi tahanan kota itu, beber Dicky, tertuang dalam surat penetapan bernomor 489/Pid.B/2018/PN.tjk. (hanif mustafa)
Penulis: hanif mustafa
Editor: Ridwan Hardiansyah
Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved