Sejarah Operasi Caesar, Benarkah Terinspirasi Kisah Julius Caesar?
Ratu Victoria dari Inggris juga melakukan bedah caesar untuk bersalin pada 1853.
Catatan Sejarah
Referensi serupa juga didapatkan dalam catatan pengiriman mayat yang dilakukan oleh Sage Sustra, seorang praktisi obat Hindu tahun 600 SM.
Sayangnya, tidak jelas seberapa sering prosedur bedah caesar ini dilakukan.
Baca: Wah Sekarang Kalau Istri Melahirkan atau Operasi Caesar, PNS Punya Hak Buat Ambil Cuti Lho!
Beberapa ahli mengklaim bahwa operasi caesar yang paling awal didokumentasikan terjadi pada tahun 5 SM atas kelahiran orator Gorgias. Lagi-lagi, bukti historisnya masih sumir.
Pada 1316, Robert II dari Skotlandia dilahirkan dengan bedah caesar. Tapi, ibunya Marjorie Bruce kemudian meninggal setelah melakukan prosedur ini.
Ibu dan Bayi Selamat
Baru pada tahun 1500-an, para dokter mulai mengharapkan para perempuan hamil bisa bertahan dengan prosedur ini. Adalah dokter Prancis François Rousset yang melanggar tradisi medis kala itu dengan menganjurkan bedah caesar pada perempuan yang masih hidup.
Dalam praktiknya, prosedur ini hanya dilakukan sebagai upaya terakhir penyelamatan bayi yang akan lahir. Meski ada beberapa perempuan yang berhasil bertahan hidup melaluinya, prosedur ini tetap berisiko komplikasi infeksi.
Kasus pertama yang tercatat dari seorang ibu yang selamat dari operasi itu adalah istri Jacob Nufer, seorang pedagang babi. Jacob melakukan pembedahan pada istrinya sendiri setelah melalui proses persalinan yang lama.
Mulai Umum
Ratu Victoria dari Inggris juga melakukan bedah caesar untuk bersalin pada 1853. Dia menggunakan kloroform sebagai obat bius selama kelahiran Pangeran Leopoldo.
Hal ini dianggap sebagai salah satu jalan bagi penggunaan obat biusa dalam kebidanan dan bedah caesar. Sterilisasi, cuci tangan, dan antibiotik juga mengubah hasil bedah caesar.
Baca: Ini Bahayanya Melakukan Operasi Caesar Sebelum Tanggal Kelahiran
Pada 1867, Joseph Lister memperkenalkan semprotan karbol untuk disinfektan area operasi.
Tahun 1876, Eduardo Porro, profesor obstetri di Pavia, menganjurkan pengangkatan rahim setelah operasi caesar sebagai cara mengendalikan pendarahan.
Namun, pada tahun 1882, ahli kebidanan Jerman, Adolf Kehrer dan Max Sänger, masing-masing mengembangkan metode untuk mencegah perdarahan dengan menggunakan jahitan untuk menutup luka.