Sejarah Operasi Caesar, Benarkah Terinspirasi Kisah Julius Caesar?

Ratu Victoria dari Inggris juga melakukan bedah caesar untuk bersalin pada 1853.

Sejarah Operasi Caesar, Benarkah Terinspirasi Kisah Julius Caesar?
steadyhealth.com
Ilustrasi operasi caesar 

Pada 1940, bedah caesar mulai umum dilakukan. Hal ini mengikuti kemajuan dalam penemuan antibiotik.

Selanjutnya, perbaikan teknik bedah, transfusi darah, dan prosedur antiseptik juga turut membuat prosedur ini lebih baik lagi. Semua itu mengurangi risiko kematian yang terjadi pada bedah caesar.

Batas Aman

Tahun 1985, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan tingkat bedah sesar optimal adalah 10-15 persen dalam populasi tertentu.

Rekomendasi ini diberikan bukan tanpa alasan. Menurut WHO, jika operasi caesar dilakukan di atas tingkat tersebut, beban berlebihan akan terjadi untuk perawatan ibu dan anak baik sebelum dan sesudah persalinan.

Baca: Ini Risikonya Jika Melakukan Operasi Caesar Berkali-kali

Artinya, prosedur ini meningkatkan jumlah perempuan dan bayi untuk terpapar risiko yang terkait operasi.

Meski sudah diberi batasan, pada kenyataannya, di akhir abad ke-20 persentase operasi caesar di Amerika Serikat meningkat tajam.

Sebagian besar terjadi akibat peningkatan jumlah malapraktik dokter kebidanan untuk menemukan indikasi masalah dalam persalinan.

Pada awal abad 21, tingkat bedah caesar melebihi rekomendasi WHO. Angka yang melonjak tinggi terlihat pada beberapa negara seperti Inggris, Australia, Jerman, Prancis, Italia, India, China, dan Brasil. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul: Penemuan yang Mengubah Dunia: Operasi Caesar, Berawal dari Ritual

Editor: Daniel Tri Hardanto
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved