Pintu Hati Terketuk, Trisno Berangkat ke Lombok Bantu Korban Gempa

Trisno Ngudi Santoso, menjadi satu-satunya ACT MRI yang terpanggil dan langsung turun ke Lombok untuk membantu para korban gempa bumi.

Pintu Hati Terketuk, Trisno Berangkat ke Lombok Bantu Korban Gempa
Ist
Trisno sedang memindahkan sisa bangunan mushola (istimewa) 

Laporan Reporter Tribun Lampung Hanif Mustafa

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Bencana alam gempa bumi yang melanda Nusa Tenggara Barat membuat hati masyarakat Indonesia terketuk, tak terkecuali warga Bandar Lampung yang menjadi relawan ACT (Aksi Cepat Tanggap) MRI (Masyarakat Relawan Indonesia).

Baca: Setelah Chris Brown, Inikah Bukti Agnez Mo Jatuh ke Pelukan Seorang Produser?

Trisno Ngudi Santoso, menjadi satu-satunya ACT MRI yang terpanggil dan langsung turun ke Lombok untuk membantu para korban bencana alam gempa bumi ini.

Baca: Ayo Weekend Seru di Slanik Waterpark Lampung, Tiket Anak Cuma Rp 25 Ribu

Melalui sambungan telfon, ia menceritakan keadaan di Lombok NTB sungguh menyedihkan, karena semua bangunan rata hancur tak tersisa. Adapun bangunan yang masih berdiri tetapi kondisinya tidak dimungkinkan untuk ditinggali, lantaran sudah rusak berat dan acapkali masih dirasakan getaran gempa meski skala kecil.

"Hati saya terketuk melihat saudara mengalami kesusahan, saya di sini dipercaya untuk mendata kebutuhan para korban, jadi saya fokus ditempat yang belum disentuh oleh bantuan," ungkapnya melalui sambungan telfon yang acapkali terputus-putus, Minggu 12 Agustus 2018.

Trisno mengaku saat ini ia berada di Desa Dangiang Kecamatan Kayangan Kabupaten Lombok Utara untuk mendata kebutuhan yang diperlukan dilokasi tersebut.

"Tapi saat ini sembari mendata, saya sedang turut membantu membersih membersihkan puing-puing yang berada disalah satu mushola dan memilahnya untuk digunakan lagi, tapi ini kemungkinan tidak bisa digunakan, karena sudah rusak parah, retak-retak, takutnya saat digunakan malah memakan korban," sebutnya.

Masih kata dia, mayoritas masyarakat di desa tersebut mengalami kekurangan air bersih. Karena di desa tersebut menggantungkan air dari PDAM.

"Tapi PDAM sudah terputus, jadi terpaksa bantuan air bersih dari mobil tangki, namun rencana akan melakukan pengeboran sumur yang berjarak tiga kilo dilokasi, karena lokasi tidak ada mata air," kata Trisno.

Trisno pun mengaku, di lokasi bencana ini dia tidak bisa berdiam atau tidur nyenyak, ia harus menginap dan tidur beralaskan tikar dan tenda-tenda darurat.

"Kalau tidur saya di sembarang tempat, tapi saya sering diposko, karena saya harus mengawasi, gempa ini masih berlansung semalam saja ada getaran 3 SR," jelas Trisno.

Lanjutnya, karena masih banyak gempa susulan hingga saat ini masyarakat masih tinggal dipengungsian.

"Para korban tinggal ditenda-tenda darurat di lapangan desa," tutup Trisno.

Penulis: hanif mustafa
Editor: Reny Fitriani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved