Naiknya Dolar Tidak Pengaruhi Eksportir Lada

menguatnya kurs dolar terhadap rupiah, tidak berpengaruh apa-apa dengan para eksportir karena negara pesaing nilai mata uangnya ikut turun

Naiknya Dolar Tidak Pengaruhi Eksportir Lada
TRIBUN JABAR/TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
MENGUAT TIPIS - Petugas menghitung mata uang dolar AS yang ditukarkan warga di Golden Money Changer, Jalan Ir H Djuanda, Kota Bandung, Selasa (3/3/2015). 

Laporan Reporter Tribun Lampung Noval Andriansyah

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG – Ketua Asosiasi Eksportir Lada Indonesia (AELI) Lampung Sumita mengaku, dengan menguatnya kurs dolar terhadap rupiah, tidak berpengaruh apa-apa dengan para eksportir.

Hal tersebut karena negara pesaing juga nilai mata uangnya ikut turun.

Baca: Naiknya Dolar, Owner Els Coffee Masih Wait and See

“Sebenarnya tidak berpengaruh banyak. Justru malah turun. Karena begini, negara-negara pesaing kita, dengan komoditas yang sama, itu juga mengalami penurunan. Terutama Brazil, sekarang sudah drop sampai 18 persen. Kita baru 8 persen. Artinya penjualan dia jauh lebih murah daripada kita. Harga jadi tertekan ke bawah. Jadi penjualan malah menurun,” kata Sumita, Rabu 5 September 2018.

Baca: Naiknya Kurs Dolar Tak Pengaruhi Proses Bisnis PTPN VII

Menurut Sumita, seharusnya menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar, berpengaruh baik terhadap para eksportir, khususnya di Lampung.

“Tetapi dengan perang dagang seperti sekarang ini, semua pengusaha atau treader di luar itu juga mengambil posisi. Secukupnya saja. Jadi sedikit melambat sebetulnya. Siapa sih orang yang mau ambil resiko dengan kondisi seperti sekarang ini. Apalagi komoditas pertanian ini kan cukup melimpah,” jelas Sumita.

Ke depan, lanjut Sumita, Lampung harus bisa lebih kompetitif dengan negara pesaing. Petani lada di Bumi Ruwa Jurai, terus Sumita, harus kerja keras.

“Produksinya juga harus benar. Produktifitasnya jangan rendah lagi. Jangan karena (harga) turun, kita ikut turun, ya habis jadinya,” papar Sumita.

Sumita berharap, ada kestabilan harga.

Sumita memastikan, jika harga tidak stabil, dan dampak penurunan terhadap negara pesaing juga turun lebih jauh dari Indonesia, maka penjualan dari Indonesia, khususnya Lampung akan ikut turun.

“Sekarang ini masalahnya adalah dunia. Artinya tidak hanya Indonesia saja, tetapi negara-negara pesaing juga kena imbasnya. Karena pondasi mereka lemah, sehingga jatuhnya jauh dari kita. Kalau mereka jual dengan harga mata uang mereka, jelas kita akan kalah jauh. Itu yang mengakibatkan harga komoditas kita tidak naik, walaupun kurs (dolar) naik,” ucap Sumita.

---> Jangan lupa subscribe Channel YouTube Tribun Lampung News Video

Penulis: Noval Andriansyah
Editor: soni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved