VIDEO: Misteri Batu Pemujaan Buai Anak Tumi dan Aksara Lampung Kuno

Selain bukti batu pemujaan, ada juga bahasa dan aksara Lampung kuno yang tertulis di sebuah buku yang lembarannya terbuat dari kulit kayu.

Laporan Reporter Tribun Lampung Tri Yulianto

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, KOTA AGUNG - Aksara Lampung kuno dan batu bekas pemujaan Buai Anak Tumi di Museum Mini Kekhatuan Semaka di Pekon Sanggi Unggak, Kecamatan Bandar Negeri Semong masih misteri. 

Menurut Abu Sahlan, pemilik museum yang statusnya koleksi pribadi, batu bekas pemujaan itu adalah peninggalan zaman animisme leluhur orang Lampung. 

"Semua batu ini peninggalan Skala Brak Buai Anak Tumi. Mereka adalah orang Lampung pada sekitar abad 7-8 masehi. Saat itu kepercayaannya masih animisme. Jadi batu-batu ini dulunya untuk pemujaan," ujar Abu, Kamis, 6 September 2018. 

Selain bukti batu pemujaan, ada juga bahasa dan aksara Lampung kuno yang tertulis di sebuah buku yang lembarannya terbuat dari kulit kayu.

Baca: Tekat Cetak Rekor MURI, 1.269 Pelajar Menulis Aksara Lampung

Baca: Banjir Lebih Parah Landa Bandar Negeri Semong Malam Ini

Di dalamnya terdapat aksara Lampung kuno, berikut lambang-lambang yang diduga kaitannya dengan kekuatan besar, seperti ada gambar naga, lalu lambang dekoratif serupa serangga. 

"Saya juga tidak tahu maksud lambang-lambang itu, aksaranya juga beda dengan aksara Lampung sekarang, banyak huruf yang sudah tidak ada lagi. Bahasanya juga beda dengan bahasa yang sekarang, dan tidak saya mengerti," kata Abu. 

Ia mengaku, penelitian tentang sejarah di Lampung dan Tanggamus yang selama ini ada, baik dari peneliti Universitas Lampung, peneliti lain, serta beberapa dari Belanda masih sebatas mengungkap Lampung di masa kekuasaan Belanda. 

Sedangkan peradaban Lampung kuno belum ada yang mengungkapnya. (*)

Penulis: Tri Yulianto
Editor: Daniel Tri Hardanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved