Jadi Kurir Sabu 6 Kg, Terdakwa Rafi dan Hendrik Terancam Hukuman Mati

Pengadilan Negeri Kelas IA Tanjungkarang menggelar sidang dua terdakwa kurir sabu 6 kg, Selasa (25/9/2018).

Tribun Lampung/Hanif Risa Mustafa
Terdakwa Rafi Febrianto menjalani sidang di Pengadilan Negeri Tanjungkarang, Selasa (25/9/2018). 

LAPORAN REPORTER TRIBUN LAMPUNG HANIF RISA MUSTAFA

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Pengadilan Negeri Kelas IA Tanjungkarang menggelar sidang dua terdakwa kurir narkoba jenis sabu 6 kilogram, Selasa (25/9/2018). Sidang itu beragendakan mendengarkan keterangan saksi dalam kasus pengiriman sabu dari Sumatera Selatan, ke Bandar Lampung.

Terdakwa pertama adalah Rafi Febrianto (32), warga Dusun II Sidodadi, Desa Muara Aman, Kecamatan Bukit Kemuning, Lampung Utara. Dalam dakwaan, ia berperan sebagai kurir yang mengambil sabu 6 kg dari Lubuk Linggau, Sumsel, kemudian membawanya ke Bandar Lampung.

Terdakwa kedua, yakni Hendrik (36), warga Jalan Laksamana Martadinata, Kelurahan Pesawahan, Kecamatan Telukbetung Selatan, Bandar Lampung. Dalam dakwaan, ia berperan sebagai kurir penerima sabu 6 kg dari Rafi.

Ketua majelis hakim Surono membuka persidangan dengan memberi kesempatan lebih dahulu kepada terdakwa Rafi untuk memberi kesaksian terhadap terdakwa Hendrik. Dalam kesaksiannya, Rafi mengaku menjadi kurir sabu lantaran terjerat utang piutang dengan seseorang bernama Alam. Alam sendiri meninggal dunia setelah tertembak polisi karena melawan saat penangkapan.

"Awalnya, saya punya utang dengan Alam, Rp 10 juta, karena ada keperluan. Utang itu Januari 2018. Perjanjiannya, saya kembalikan setelah Lebaran," tutur Rafi.

Namun, beber Rafi, ternyata Alam menagih utang tersebut pada April. Saat itu, Rafi mengaku tidak memiliki uang.

"Dia akhirnya pergi. Kemudian, dia datang lagi. Dia minta tolong terus. Dia nawarin keuntungan Rp 60 juta, tapi bagi dua (masing-masing Rp 30 juta). Lalu, potong utang saya Rp 10 juta, jadi saya terima bersih Rp 20 juta. Saya tergiur," bebernya.

Rafi mengaku tahu bahwa tawaran tersebut adalah mengambil sabu 6 kg dari Lubuk Linggau. Saat mengambil barang haram itu, ada rekan Alam bernama Wiko yang menemaninya.

"Saya berangkat (dari Bukit Kemuning, Lampura) ke Tanjungkarang untuk jemput Wiko. Lalu berangkat ke Lubuk Linggau, sampai malam hari. Saya enggak tahu tempatnya. Di jembatan apa gitu, saya lupa," katanya.

Halaman
123
Penulis: hanif mustafa
Editor: yoso
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved