Tangis Syaiful Usai Berjibaku Membalik Mayat Bergelimpangan hingga Akhirnya Bertemu Ibunya

Tangis Syaiful Usai Berjibaku Membalik Mayat Bergelimpangan hingga Akhirnya Bertemu Ibunya

Tangis Syaiful Usai Berjibaku Membalik Mayat Bergelimpangan hingga Akhirnya Bertemu Ibunya
Warga berjalan melewati jenazah korban yang meninggal karena tsunami menghantam pesisir Kota Palu, Sabtu (29/9/2018). Hari Jumat kemarin, gempa dan tsunami mengguncang wilayah Sulawesi Tengah, terutama di Kabupaten Donggala dan Kota Palu. Sampai dengan hari Sabtu pukul 13.00, jumlah korban meninggal hanya di Kota Palu saja sementara mencapai 384 orang.(AFP PHOTO / OLA GONDRONK) 

Tangis Syaiful Usai Berjibaku Membalik Mayat Bergelimpangan hingga Akhirnya Bertemu Ibunya

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, PALU - "Naiklah kau, Ipul! Anak dan istriku sudah hilang. Jangan kau cari siapa-siapa lagi di bawah!" suara keras seorang lelaki mengingatkan M Syaiful (24), warga Jalan Abadi Kota Palu.

Itu adalah suara pamannya, Awaludin.

Baca: Bocah-bocah Kuat yang Bertahan di Tengah Pengungsi Gempa dan Tsunami Palu

Namun Syaiful bergeming, tetap pada pendiriannya untuk mencari Julaeha, ibu kandungnya.

"Paman, biarlah aku cari ibuku. Dia yang melahirkan dan membesarkanku walau aku akan mati sekalipun!" balasnya.

Syaiful bertutur, dalam kondisi temaram, tidak ada lampu yang menyala, Jumat (28/9/2018) malam itu, dia menyusuri Pantai Talise yang sudah porak poranda.

Bangunan tinggal puing-puing, mayat bergelimpangan di mana-mana.

Dia tak kenal lelah membalikkan semua mayat yang membujur di sepanjang pantai.

Siapa tahu di antara mereka yang terbujur ini ia mengenali wajah teduh ibunya.

"Banyak sekali suara minta tolong dan mengerang kesakitan, saya tidak tahu yang mana yang bersuara karena kondisi saat itu remang-remang," tutur Syaiful, Kamis (4/10/2018).

Halaman
1234
Penulis: Heribertus Sulis
Editor: Heribertus Sulis
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved