Inilah Djidja, Pengungsi Tertua di Palu Berusia 106 Tahun
Ia tercatat sebagai pengungsi tertua di Kelurahan Duyu, Kecamatan Tatanga, Palu, Sulawesi Tengah. Usianya kini memasuki angka 106 tahun.
Penulis: Perdiansyah | Editor: Reny Fitriani
Laporan Reporter Tribun Lampung Perdiansyah dari Palu
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, PALU - Djidja hanya bisa duduk di atas kasurnya di dalam tenda pengungsian. Kakinya tak mampu berlama-lama berdiri menopang berat badannya hanya sekedar menikmati teriknya matahari di Palu.
Djidja merupakan satu dari ribuan orang yang selamat dari keganasan bencana gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi yang memporakporandakan Palu, Sigi, dan Donggala pada 28 September 2018.
Baca: BERITA FOTO - Anak-anak Korban Gempa dan Tsunami Palu Bermain di Posko Pengungsian
Namun Djidja memiliki keistimewaan lain. Ia tercatat sebagai pengungsi tertua di Kelurahan Duyu, Kecamatan Tatanga, Palu, Sulawesi Tengah. Usianya kini memasuki angka 106 tahun.
Diusianya yang mencapai satu abad ini, bencana gempa bumi dengan kekuatan dahsyat ini bukan untuk pertama kalinya ia rasakan. Beberapa puluh tahun lalu, ia sempat merasakan bencana serupa.
"Nenek pernah alami gempa serupa sewaktu muda dulu. Tapi dia sudah tidak ingat lagi detailnya, hanya sekilas saja," kata Vera, cucu Djidja menerjemahkan perkataannya. Djidja tidak bisa hanya bisa berbahasa Kaili saja.
Ingatan Djidja kembali pada 28 September 2018 lalu saat azan magrib berkumandang. Saat itu anak dan cucunya tengah bersiap salat magrib. Sedangkan ia berada di kamarnya seorang diri. Tiba-tiba bumi bergetar hebat, seperti blender raksasa yang mampu memutar apa saja yang ada di atasnya.
"Nenek langsung bangun mencoba keluar kamarnya, itu goyangan gempa sangat kuat. Kalau tidak pegang kursi mungkin Nenek sudah jatuh. Nenek langsung lari ke luar rumah menyelamatkan diri, tidak ada yang membantunya," tuturnya.
Gempa yang berlangsung cepat itu ternyata membuat rumah yang ditinggalinya rusak, bersama dengan ratusan rumah lainnya. Ia dan anak-cucunya mengungsi ke tanah lapangan di atas bukit hingga hari ini.
"Sekarang sudah enak, ada tenda dan kelambu. Hari pertama setelah gempa panas dan banyak nyamuk," ceritanya.
Djidja berharap tidak ada lagi bencana di tanah kelahirannya hingga ia menutup usia.
"Jangan ada gempa begini lagi, ingin sehat terus panjang umur. Alhamdulillah kalau dapat rumah lagi, karena kamar saya sudah rusak," tutupnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/pengungsi-tertua-di-palu_20181027_133535.jpg)