Dua Mobil Listrik Siap Tempuh 15.000 Km Keliling Indonesia
Spesifikasi dua mobil listrik tersebut secara umum yaitu mobil listrik menggunakan penggerak motor listrik kapasitas sekitar 30 kw.
Penulis: Eka Ahmad Sholichin | Editor: Reny Fitriani
Laporan Reporter Tribun Lampung Eka Ahmad Sholichin
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Dua unit mobil listrik buatan mahasiswa Universitas Budi Luhur dan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) yaitu Blits dan mobil hybrid series Kasuari yang sedang uji coba akhirnya tiba di wilayah Sang Bumi Ruwa Jurai.
Tim rombongan dua unit mobil listrik tersebut tiba di PLN UP3 Tanjungkarang di Jl. Diponegoro dan disambut oleh manajemen PLN Distribusi Lampung sekitar pukul 10.52 WIB, Jumat (16/11/2018).
Kedua mobil listrik yang didesain bergaya off road tersebut dengan paduan warna hitam untuk mobil hybrid series Kasuari dan mendominasi warna biru untuk Blits langsung menjadi pusat perhatian.
Kedua mobil listrik tersebut rencananya akan berkeliling ke seluruh wilayah Indonesia dengan menempuh jarak hingga 15.000 km. Setelah bertolak dari Surabaya dan melintasi pulau Jawa dan akhirnya hari ini tiba di Lampung sebagai gerbang pulau Sumatera.
Project Leader Mobil Listrik Yoga Uta Nugraha, menjelaskan perjalanan kedua mobil listrik merupakan kegiatan bersama Tim PLN Blits Explore Indonesia.
"Kami berangkat dari Surabaya sudah sekitar sejak tiga minggu yang lalu. Sekarang rute Sumatera nanti finishnya di Sabang," ungkap Uta sapaan akrabnya.
Kemudian dilanjutkan perjalanan rute ke Medan lalu diseberangkan Pontianak melintasi jalur Kalimantan, Sulawesi, Irian jaya turun ke Labuhan Bajung, Nusa tenggara Barat.
"Kalau dihitung-hitung jarak total yang ditempuh yaitu sekitar 15 ribu km. Sekarang kami baru menempuh jarak sekitar 1400 km," ungkapnya.
Spesifikasi dua mobil listrik tersebut secara umum yaitu mobil listrik menggunakan penggerak motor listrik kapasitas sekitar 30 kw, baterai kapasitas 90 kw bisa menempuh sekitar 300 km jaraknya dengan waktu pengecasan sekitar 8 hingga 10 jam tergantung dari sumber pengecasan untuk yang Blits.
Sementara untuk yang hybrid series Kasuari memiliki kapasitas 1/2 dari yang Blits dan baterai lebih sedikit dengan jarak tempuh hanya bisa 150 km dan waktu pengecasan tentunya lebih cepat 4,5 jam sudah cukup.
"Kenapa lama waktu pengecasan? Karena untuk mobil dua ini menggunakan charger yang ada di mobil, dimana kalau pakai charger yang besar ukurannya hampir ukuran satu kulkas. Maka kalau impor charger-charger mobil kapasitas maksimal 6,6 kilo watt dengan waktu pengecasan enam sampai delapan jam," paparnya.
Lanjut Uta menerangkan bahwa proses pembuatan dari desain hingga pabrikasi kedua mobil listrik tersebut yakni memakan waktu selama satu tahun dan prabikasi juga termasuk dalam riset.
"Artinya mungkin dalam waktu enam bulan mobilnya sudah jadi tapi ternyata ada beberapa perbaikan yang harus dilakukan sehingga satu tahun diselesaikan riset tersebut," terangnya.
Kendalanya tentunya ada ketika tim tersebut bertolak dari Surabaya sudah ada kendala di Solo yakni gear box jebol sehingga diperbaiki terlebih dulu selama dua minggu di Jogjakarta.
"Jebolnya disebabkan kualitas material yang kurang bagus sehingga ada gigi yang rontok tergerus yang mengakibatkan jebol pada gear box," katanya.
Type kedua mobil listrik tersebut dibentuk model seperti off road yaitu tubular sasis. Artinya, pakai pipa-pipa sasis yang dilas sehingga lebih ringan, rigit namun bisa luntur.
Kebetulan perjalanan disponsori oleh PLN sehingga difasilitasinya untuk bisa mampir di seluruh kantor PLN di Indonesia.
"Titik kami sekitar 100-150 km guna mengisi lewat stasiun pengisian listrik umum (SPLU) atau instalasi listrik bisa melakukan pengecasan Untuk perjalanan disponsori PLN, tapi untuk mobil bekerjasama dengan Universitas Budi Luhur Jakarta," tuturnya.
Jadi, mereka ingin belajar membuat mobil listrik dari ITS dengan cara mendanai dulu lalu dipelajari bersama mobil ini seperti apa.
"Untuk sekarang prototype untuk yang di jurnal ada dua jenis mobil listrik ini meskipun di workshop ada beberapa mobil listrik namun fokus pada dua type ini," paparnya.
Kesulitan pada saat pembuatan karena mobil ini hampir 100% komponennya buatan sendiri kecuali cell battery sehingga harus benar-benar mengerti titik kelemahan dari komponen tersentuh. Sementara cell battery harus pesan dulu yaitu dari Cina.
Kedepannya, kalau pihaknya dari institusi tahapannya sampai di riset saja. Artinya akan menyiapkan produk-produk komponen mobil listrik sampai ke tahap siap untuk diproduksi massal.
"Dimana ketika ada investor yang siap masuk ke dunia industri kita siap memberikan hak paten atau Desain yang sudah kita uji," paparnya.
Keunggulan yang didapat dengan mengunakan mobil listrik ini yaitu lebih irit misal per kWh 5 km sedangkan baterainya 30 kWh berarti 150 km.
"Tadi perkwh 5 km kalau mobil 1 liter Rp 7000-7500 bisa menempuh 15 km. Sama-sama 15 km yaitu 3 kWh. 1 kwh = Rp 1200. Jadi 3.600 : 7000, ya hampir separuhnya dengan jarak yang sama," tukasnya.
Ketua Tim Blits Explore Indonesia Muhammad Nur Yuniarto menuturkan rute di Sumatera dari Lampung sampai di titik 0 km di Sabang.
Kemudian setelah itu mobil di transfer Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, kemudian Papua dan dijalankan ke Marauke. "Start dari Surabaya sudah hampir satu bulan perjalanan," ungkapnya.
Kesan-kesannya selama perjalanan sampai tiba di Lampung ternyata banyak warga yang antusias dengan apa yang dilakukan bukan hanya dari PLN tapi juga seluruh lapisan masyarakat.
"Dan kita coba berkomunikasi dengan bengkel-bengkel setempat pada saat dilintasi artinya kita mencoba untuk mengedukasi masyarakat dalam hal ini," paparnya.
Sementara GM PLN Distribusi Lampung Julita Indah mengatakan kalau untuk di Lampung totalnya adalah 68 SPLU di jalur timur maupun selatan.
"Insyaallah tidak akan menjadi penghalang untuk tim Explore mengisi bahan bakar dalam hal ini energi di tiap-tiap SPLU," pungkasnya. (eka)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/mobil-listrik-mejeng-di-pln.jpg)