Membanggakan, Pelari Asal Lampung Juarai Lari Trail Bergengsi GP Ultra 100
Pelari asal Lampung yang menorehkan kembali prestasi dalam ajang lari trail bergengsi di Asia Tenggara, Gede Pangrango (GP) Ultra 100.
Penulis: Eka Ahmad Sholichin | Editor: Reny Fitriani
Laporan Reporter Tribun Lampung Eka Ahmad Sholichin
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Tidak mudah rasanya bagi Alvi Salim dan Riski Saputra, para pelari asal Lampung yang menorehkan kembali prestasi dalam ajang lari trail bergengsi di Asia Tenggara, Gede Pangrango (GP) Ultra100.
Kedua pemuda kebanggaan Lampung tersebut berhasil meraih torehan terbaik mereka.
Alvi meraih juara pertama, sedangkan Riski Saputra menduduki podium ke-4 pada lomba yang diselenggarakan di Balai Besar Taman Nasional GP, Cibodas-Jawabarat, 30 November-2 Desember 2018.
Ingin tahu kesulitan dan rintangan yang dihadapi kedua pelari andalan asal Lampung tersebut? Keduanya pun membagikan kisah keseruan mereka selama menghadapi ajang perlombaan tersebut.
Alvi menceritakan bahwa untuk kesulitan saat race-nya luar biasa karena Gede Pangrango kalau menurut teman-teman trailer di Indonesia dan Asia merupakan salah satu track tersulit di Asia.
"Saya juga baru pertama kali ikuti yang di Gede Pangrango. Kami (Saya dan Riski) memang sudah mempelajari lewat peta dan dari senior dan pelatih kita," terang pria yang bekerja di kesatuan Brimob Polda Lampung dengan pangkat Baratu itu, Senin (3/12/2018).
Dirinya pun sebelum terjun di perlombaan sempat menyempatkan waktu sharing-sharing dengan senior yang sudah pernah mengikuti trail ini dan infonya di Gede Pangrango sulit dan ternyata memang benar sulit sekali.
Pertama, jalannya itu bebatuan sehingga memerlukan konsentrasi penuh dan tidak bisa hilang konsentrasi sedikit karena bisa dibilang rutenya merayap, curam dan luar biasa sekali.
"Sempat dua kali terpeleset karena batu-batu. Itu kan tumpuannya di batu sedikit terpeleset dan membuat engkel kaki terasa nyeri tapi Alhamdulillah selain dari pada itu gak ada masalah," ungkap Alvi.
Ia mengatakan dalam race ini memang butuh konsentrasi penuh karena jalanan itu batu seperti batu-batu belah yang disusun serta kondisinya yang licin. Setelah itu benar-benar dihajar dengan tanjakan yang tegak posisinya.
Motivasi dalam menghadapi medan yang sulit itu adalah teringat dengan keluarga besar yaitu kedua orangtua, pelatih, kawan-kawan yang sama-sama ikut lari, membawa nama baik Lampung dan Indonesia tentunya.
Belum lagi lawan-lawan yang dihadapi tidak sembarangan karena juga pilihan dari berbagai negara seperti Filipina, Thailand, Jepang, Ukraina, Perancis, dan lainnya.
"Namun saya tekadkan dalam hati karena mau tidak mau kita sama saja mempertaruhkan nama negara. Itu yang bikin saya harus berjuang dan berjuang untuk mendapatkan hasil terbaik," tuturnya.
Dirinya pun tidak menyangka ketika dicek waktu tempuhnya memecahkan torehan rekor trail senior yang sebelumnya dengan catatan waktu yakni 5 jam 10 menit 3 detik.
"Kebetulan kan kita bawa perbekalan jadi mengaturnya itu sambil manjat. Jadi kita yang manajemen sendiri kapan di saat kita manjat, makan, minum adalah diri kita yang tahu maka ketika waktunya harus disempatkan. Start itu mulai dari jam 6 pagi dan finish sampai waktu torehan yang saya tempuh tadi," paparnya.
Awalnya mengikuti event tersebut karena suport latihan dari teman-teman pelatih, senior seperti Syamsul Arif, coach Koko, dan lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
Persiapan latihan memang sudah jauh-jauh hari dilakukan dari sebelum perlombaan dan sempat mengikuti juga event-event yang sama seperti Bromo-Tengger-Semeru (BTS) Ultra-100 pada bulan November lalu.
"Untuk yang BTS Ultra-100 kategori 30 kilometer, sementara untuk yang GP Ultra 100 kategori 25 kilometer," paparnya.
Persiapan dilakukan waktunya dua bulan sebelum pelaksanaan perlombaan mulai berbagai program oleh para pelatih dan teman-teman senior kemudian dieksekusi oleh pelari.
"Misal mulai Senin program beban, Selasa Run, Rabu main tempo Kamis berlatih long run, Jumat naik tangga, Sabtu Minggu long run lagi yang jaraknya bisa sampai 30-40 km di seputaran wilayah Bandar Lampung," jelasnya.
Latihan long run mulai start berputar dari pahoman keliling Bandar Lampung kemudian ke ITERA menuju ke arah kota naik lagi ke Sukadanaham kemudian ke arah BI turun lagi ke arah Telukbetung.
"Terus naik ke arah tanjakan DAMRI berputar lagi ke arah kota sedikit dan masuk ke stadion dan di stadion masih melakukan putaran," beber Alvi.
Ia juga mencari rute-rute tanjakan seperti gunung-gunung di Bandar Lampung seperti gunung Betung dan lainnya.
"Jadi memang betul tiap-tiap race memiliki kesulitan masing-masing dan antara saya dengan peserta yang lain memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing," katanya.
Lomba event trail yang diikuti Alvi tersebut merupakan kali ketiganya. Pertama di Rinjani 100, kedua BTS Ultra 100 dan ketiga di GP Ultra 100.
Alvi mengaku mengenal lari baru tahun 2017 awal. Awalnya hanya lari-lari sehat biasa saja dan kemudian ketemu Riski dan memang di Lampung ada wadah untuk teman-teman yang suka hobi lari.
"Kemudian kok semakin tertarik karena di dalam komunitas banyak yang support dan saya hanya bermodal kepercayaan saja sebenarnya. Jadi kalau badan sehat dan ada kesempatan berangkat lagi insyaallah siap. Namun untuk yang kedepan masih belum bisa dipastikan," tukasnya.
Perjuangan berat dan tidak mudah untuk meraih podium dirasakan oleh Riski Saputra dalam ajang lari trail bergengsi di Asia Tenggara, Gede Pangrango (GP) Ultra100.
Waktu berlari di tempuh yakni selama 5 jam dengan jarak 25km. Ia selama perjalanan hanya minum dan makan buah saja yang disediakan di cek point.
"Dan untuk medan yang dilalui dalam ajang kali ini sangat ekstrem mulai tanjakan dan turunan bebatuan serta licin. Karena dingin kami memakai jaket anti angin," paparnya.
Tantangan di event kali ini yaitu pada track yang sangat berutal, cuaca yang dingin, track bebatuan yang licin serta tanjakan yang panjang dan vertikal.
"Ini event ke 4 dan terakhir untuk tahun ini, dan untuk saya pencapaian tertinggi ada di beberapa event yaitu Rinjani 100, BTS Ultra100 dan GP 100 Ultra," ungkapnya.
Lanjut Riski mengatakan persiapan yang dilakukan untuk menghadapi event ini sudah lama karena sebelumnya juga sudah mengikuti seri sebelum GP Ultra 100.
"Persiapan yang dilakukan latihan naik turun tangga, trackin
lintas alam, dan lari sejauh 20km setiap harinya," paparnya.
Metode berlatih setiap hari dengan program-program yang diberikan oleh pelatih, dan lokasi latihan di stadion Pahoman dan di Gunung Betung.
"Untuk setiap latihan menempuh jarak 15km sampai 21km. Rute latihan di stadion Pahoman dan di gunung Betung," jelasnya.
Ia menambahkan hobi lari digelutinya sejak masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP).
"Untuk Event selanjutnya akan ada di tahun depan, insyaallah akan ikut event asia trail master dan grand slam di tahun depan, dan untuk target insyaallah ingin meraih grand slam Indonesia," pungkasnya.
Perwakilan Komunitas Pahoman Adiccted Runners (Pacers) Lampung Dery, menyambut baik dengan torehan yang diraih kedua pelari asal Lampung tersebut.
"Ya wajar sebenarnya dengan raihan itu karena mereka itu sudah berjuang dan berlatih keras bahkan tiap hari dan tiap pagi," paparnya.
Menurutnya, latihan yang dilakukan juga termanejemen dengan baik karena setiap hari beda-beda program latihannya.
Ia pun mengamini bahwa rute pada event kali ini memang medannya ekstrim dan sulit. Karena itu kan dua gunung pertama naik ke Gede sesudah itu ke Pangrango. Jadi medannya dua sehingga dua kali lebih susah.
"Harapannya kedepan di Lampung makin banyak yang hobi lari dan makin ramai sehingga bibit-bibitnya banyak apalagi Lampung saat ini sudah punya nama untuk lari," tandasnya. (eka)