Anak Mantan Kepala Disdukcapil di Lampung Jual Blangko e-KTP di Tokopedia, Ngakunya Cuma Iseng

Anak Mantan Kepala Disdukcapil di Lampung Jual Blangko e-KTP di Tokopedia, Ngakunya Cuma Iseng

Anak Mantan Kepala Disdukcapil di Lampung Jual Blangko e-KTP di Tokopedia, Ngakunya Cuma Iseng
YouTube
Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo memastikan proyek KTP berbasis elektronik, tetap dijalankan pemerintah. Saat ini, pemerintah sedang memulihkan proyek pengadaan KTP elektronik pasca terkena indikasi korupsi hingga triliunan rupiah. 

Anak Mantan Kepala Disdukcapil di Lampung Jual Blangko e-KTP di Tokopedia, Ngakunya Cuma Iseng

TULANGBAWANG, TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Praktik jual beli blanko KTP elektronik yang sempat ditawarkan di Tokopedia menyeret nama mantan pejabat Tulangbawang (Tuba).

Plt Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Tuba, Ahmad Suharyo mengatakan, kasus tersebut terjadi pada tanggal 13 maret 2018.

Ketika itu, Kadisdukcapil Tuba dijabat oleh Pirhadi yang telah purnabakti sejak 1 Oktober 2018.

Siapa Sosok Ganteng di Balik Polisi Gadungan yang Disebut Anggota Jatanras Polda Lampung?

"Permasalahan ini terjadi pada tanggal 13 Maret, hanya baru terungkap sekarang," terang Ahmad Suharyo, Kamis (06/12) petang.

Asisten I Pemkab Tuba ini mengatakan, merujuk informasi yang beredar ada dugaan penyalahgunaan blanko KTP-el yang dijual secara online oleh oknum.

"Dari hasil investigasi dari Dirjen Adminduk Kemendagri beserta tim, didapati bahwa pelakunya sudah diketahui dan sudah ada pengakuan dari bersangkutan. Saat ini sudah dilaporkan ke Mabes polri," terang Suharyo.

Suharyo mengatakan, dugaan sementara hasil ivestigasi tim dari Dirjend Adminduk diketahui pelakunya adalah anak dari mantan Kadis Dukcapil Tuba.

"Saat ini (kasusnya) sudah ditangani aparat penegakan hukum. kita sangat mendukung penuh upaya penegakan hukum, tentu dengan memperhatikan azaz praduga tidak bersalah," imbuhnya.

Pemkab Tuba, kata Suharyo, mendukung penuh langkah penegakan hukum oleh aparat kepolisian.

Pasalnya, kata Suharyo, kasus tersebut sudah merusak citra pelayanan adminduk yang sudah dibangun selama ini.

"Kita serahkan ke aparat penegak hukum untuk mendalami secara khusus berdasarkan aturan yang berlaku dalam penegakan hukum," tandas Suharyo.

Hanya iseng

Blangko KTP elektronik yang diperoleh dari transaksi dalam jaringan, yakni melalui Tokopedia. Per Jumat (30/11/2018), Tokopedia telah menindak lanjuti penjual itu setelah menerima laporan Kompas. Blangko e-KTP Ditemukan Dijual Bebas Termasuk di Bandar Lampung, Kemendagri Lapor Polisi.
Blangko KTP elektronik yang diperoleh dari transaksi dalam jaringan, yakni melalui Tokopedia. Per Jumat (30/11/2018), Tokopedia telah menindak lanjuti penjual itu setelah menerima laporan Kompas. Blangko e-KTP Ditemukan Dijual Bebas Termasuk di Bandar Lampung, Kemendagri Lapor Polisi. (Kompas)

Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menemukan adanya praktik jual beli blangko KTP elektronik (e-KTP).

Penjualan blangko tersebut, salah satunya ditemukan di situs jual beli daring (online) Tokopedia.

Direktur Jenderal Kependudukan dan catatan sipil (Dukcapil) Kemendagri, Zudan Arif Fakhrulloh bahkan sudah melacak dan melaporkan penjualan tersebut ke pihak kepolisian.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Lampung Achmad Syaefullah memastikan, tidak ada kebocoran sistem dalam pendistribusian e-KTP di Lampung.

“Jadi kronologisnya, itu yang jual anak dari mantan Kadisdukcapil Tulangbawang yang pensiun Oktober (2018) kemarin. Waktu dia (kadisdukcapil) masih menjabat itu, pendistribusiannya dari Jakarta ke Provinsi. Kemudian tidak langsung (dibagikan ke masyarakat). Mungkin, sebagian ada yang dicek dan ketinggalan, lalu diambil anaknya terus dijual di online,” ungkap Achmad, Kamis 6 Desember 2018.

Achmad mengaku, sudah komunikasi langsung dengan terduga pelaku dan meminta keterangan.

Achmad mengatakan, berdasarkan keterangan yang didapatnya, penjual blangko e-KTP tersebut merupakan warga Bandar Lampung.

“Dia (penjual) bilangnya hanya iseng saja. Karena dia juga sarjana komputer, sering di depan komputer dan kebetulan istrinya juga ada bisnis, jualan online. Kemudian, iseng dia masukkan blangko e-KTP itu di situs jual beli online,” jelas Achmad.

Saat ini, lanjut Achmad, kasusnya sudah diserahkan kepada pihak kepolisian dalam hal ini Polda Metro Jaya.

Selain itu juga, terus Achmad, Dirjen Dukcapil sudah meminta kepada situs jual beli online tersebut untuk menghapus iklan.

“Ya selanjutanya bukan ranah dan kewenangan kami lagi. Kami sepenuhnya menyerahkan ke Polda Metro Jaya. Kami tidak ingin melebihi batas kewenangan,” tandas Achmad. 

Sebelumnya diberitakan kalau blangko Kartu Tanda Penduduk elektronik (e-KTP) asli dengan spesifikasi resmi milik pemerintah, beredar dan diperjualbelikan di pasaran.

Satu di antara penjual tersebut mengidentifikasikan dirinya berada di Bandar Lampung.

Peredaran blangko e-KTP ditemukan di Pasar Pramuka Pojok, Jakarta Pusat, dan di toko yang ada dalam platform e-dagang.

Padahal sebagai dokumen negara, blangko e-KTP tidak boleh beredar dan diperjualbelikan.
Peredaran blangko e-KTP tersebut diketahui berdasarkan penelusuran Tim Kompas.

Dilansir Harian Kompas, di Pasar Pramuka Pojok, yang berada di pojok tikungan yang mempertemukan Jalan Pramuka dan Jalan Salemba Raya, satu lembar blangko e-KTP dipasarkan seharga Rp 150.000 untuk blangko KTP-el bekas, dan Rp 200.000 untuk blangko e-KTP baru.

Seorang penjual, AN mengaku, mendapat blangko dari perusahaan percetakan.

Ia mengaku, tidak bisa sembarang orang bisa beli di percetakan tersebut, harus dasar saling percaya.

"Untuk lokasinya, tidak bisa saya sebutkan, karena ini ‘rahasia negara’,” ujar AN.

Satu lembar blangko e-KTP dipasarkan seharga Rp 150.000 untuk blangko e-KTP bekas, dan Rp 200.000 untuk blangko e-KTP baru.

Dari AN, Kompas memperoleh satu keping blangko e-KTP baru yang ia jual seharga Rp 200.000.

Secara kasat mata, blangko yang dijual AN sangat mirip dengan blangko asli, termasuk hologram di lembar muka blangko.

AN pun meyakinkan bahwa blangko itu asli, dan di dalamnya tertanam chip.

AN juga tak ragu menawarkan blangko e-KTP dalam jumlah besar.

Ia mengaku siap menyediakan 200 lembar-300 lembar jika dibutuhkan.

Sejumlah kios jasa pengetikan dan penjilidan dokumen di Pasar Pramuka Pojok, juga menyediakan jasa pembuatan e-KTP asli tapi palsu, alias aspal.

Jasa pembuatan e-KTP aspal dikenakan ongkos Rp 500.000 per lembar.

OD, seorang penyedia jasa pembuatan e-KTP aspal menjelaskan, data identitas hanya dapat dicetak di lembar blangko.

Ia mengaku tidak dapat merekam data identitas ke dalam chip, yang ada di dalam blangko e-KTP.

KTP yang dia buat juga tidak bisa digunakan di instansi yang memiliki alat scan atau pindai kartu, karena biodatanya tidak masuk ke dalam chip.

Salah satu penjual yang ada di plaftorm e-dagang Tokopedia, blangko e-KTP juga ditawarkan oleh toko Lotusbdl.

Toko yang mengidentifikasi dirinya berada di Bandar Lampung, Provinsi Lampung itu, menawarkan selembar blangko e-KTP seharga Rp 50.000.

Untuk memperolehnya, pembeli harus membeli 10 kartu sekaligus seharga Rp 500.000.

Direktur Jenderal Dirjen Dukcapil Kemendagri, Zudan Arif Fakrulloh mengatakan, pihaknya langsung menelusuri temuan tim Kompas tersebut.

Hasilnya, pihaknya sudah menemukan pelaku penjual.

Kasus tersebut juga sudah dilaporkan ke Polda Metro Jaya untuk diusut.

Sementara, Tokopedia sudah menghapus produk e-KTP dari platform.

(*)  

Penulis: Endra Zulkarnain
Editor: Heribertus Sulis
Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved