Beda Ban Vulkanisir dan Suntikan, Kenali Pula Ciri Ban Mobil yang Sudah Waktunya Diganti
Tentu saja, harga ban vulkanisir dan suntikan jauh lebih murah dibandingkan dengan ban baru.
Penulis: Daniel Tri Hardanto | Editor: Daniel Tri Hardanto
Cara Bedakan Ban Vulkanisir dan Suntikan, Serta Ciri Ban Sudah Waktunya Diganti
Laporan Reporter Tribun Lampung Daniel Tri Hardanto
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Anda pasti sering mendengar istilah ban vulkanisir dan suntikan.
Ya, ban vulkanisir dan suntikan adalah ban bekas yang sudah didaur ulang.
Tentu saja, harga ban vulkanisir dan suntikan jauh lebih murah dibandingkan dengan ban baru.
Namun, ada banyak risiko bagi pengendara jika menggunakan ban vulkanisir dan suntikan.
Hal pertama yang perlu diketahui adalah bahwa ban vulkanisir dan suntikan berbeda.
Secara pengertian, ban vulkanisir dibuat dengan cara membuang sisa-sisa karet dan menambahkannya lagi.
Sementara, suntikan merupakan ban yang diukir ulang sampai membentuk kembang atau ulir ban layaknya ban baru.
Ban suntikan kerap disebut dengan istilah ban batik.
Menurut National Sales Manager UHP Goodyear Indonesia Romijo Huka, dalam industri ban, vulkanisir itu sudah diakui atau sah karena dilakukan oleh pabrikan itu sendiri.
"Tetapi hanya untuk komersial dan jenisnya juga bias, bukan tubeless dan untuk mobil pribadi," kata Romijo kepada Kompas.com, Senin (10/12/2018).
Secara kualitas, vulkanisir pun tidak seperti ban normal, atau secara kemampuan hanya 60-70 persen dari ban biasa.
• Sebenarnya, Apa Sih Manfaat Ban Mobil Diisi Nitrogen?
Jenis itu dibuat juga karena untuk menekan biaya para pelaku usaha.
"Secara hukum pun sah. Maka dari itu, sering digunakan oleh pengusaha truk karena konsumen atau pasarnya di situ," ucap dia.
Sementara ban suntikan, lanjut Romijo, sangat tidak disarankan.
Sebab, praktiknya curang dengan cara mengukir kembali karet sampai membentuk kembangan atau ulir seperti ban baru.
"Jelas itu sangat bahaya, karena ban untuk mobil pribadi sendiri ada aturan dan batasannya. Kalau sampai diukir lagi akan membahayakan buat konsumen," kata Romijo lagi.
Belum lama ini, Kompas.com pernah melakukan wawancara dengan sejumlah pedagang ban bekas yang berada di pinggir jalan.
Beberapa toko kecil atau tukang tambal ban, ikut menjual ban suntikan.
"Kalau ban suntikan ada, konsumennya juga ada saja. Memang tidak bisa tahan lama, tapi secara pasar juga ada. Dalam satu bulan bisa menjual tujuh hingga 10 ban suntikan untuk mobil," ujar pedagang ban tersebut yang tidak mau disebutkan identitasnya ketika ditemui Kompas.com belum lama ini di kawasan Cideng, Jakarta Pusat.
Perhatikan Usia Ban
Kondisi ban mobil perlu dijaga dan diperhatikan demi keamanan dan keselamatan.
Apabila sudah tidak laik, maka harus diganti dengan yang baru.
Lantas bagaimana mengenal atau mengetahui ciri ban yang sudah aus?
Menurut National Sales Manager UHP Goodyear Indonesia Romijo Huka, paling utama cukup melihat tanda tire wear indicator (TWI).
Tanda itu pada umumnya berbentuk segitiga atau tanda panah dan jumlahnya lebih dari satu.
"Kalau sudah tidak ada tanda itu, artinya ban itu sudah aus. Tanda itu juga sebagai standar atau patokan ban yang masih bagus atau tidak," ujar Romijo kepada Kompas.com, Senin (10/12/2018).
• Ban Mobil Meledak, Kepala Suratman Terkena Besi Velg Ban Truk
Romijo melanjutkan, tanda berbentuk segitiga itu terletak di sisi atau dinding ban.
Dia juga memastikan ban suntikan yang banyak dijual oleh pedagang ban pinggir jalan sudah tidak memiliki logo TWI.
"Karena tanda itu dihabiskan lagi oleh mereka untuk membuat alur baru. Padahal sudah tidak tebal lagi, karena ban bekas diukir lagi agar terlihat seperti baru, dan itu berbahaya," kata dia.
Technical Manager Motorcycle PT Gajah Tunggal Tbk Yulfahmi juga pernah menjelaskan soal ciri ban yang harus diganti, terutama untuk jenis ban tubeless.
Kata dia, apabila sudah timbul benjolan atau sering ditambal sebaiknya diganti dengan yang baru.
"Kalau terlalu sering ditambal, akan membuat daya ban itu sendiri jadi kurang maksimal, karena kemungkinan udara masuk dari luar masih cukup tinggi," ujar Yulfahmi beberapa waktu lalu.
Ban yang sudah retak atau benjol, lanjut Yulfahmi, sangat berbahaya. Sebab, potensi untuk bisa meledak cukup tinggi.
Kondisi tersebut secara keamanan juga tidak baik.
• Wiper Mobil Diangkat Saat Parkir di Bawah Terik Matahari, Mitos atau Fakta?
Jaga Tekanan Udara
Ban menjadi salah satu perangkat penting untuk kendaraan.
Tanpa ban, kendaraan tidak dapat berjalan dan sudah pasti tidak ada pergerakan manusia dari satu tempat ke tempat lain.
Namun, sebenarnya apa fungsi utama ban?
Dikutip dari buku panduan keselamatan Goodyear, dijelaskan bahwa ban memiliki beberapa fungsi utama.
Pertama, ban menopang berat kendaraan.
Berat kendaraan (mobil) hampir mencapai 1,6 ton atau mendekati berat 32 orang dewasa.
Ini sebabnya tekanan angin yang tepat membantu ban berfungsi maksimal menopang berat kendaraan.
Kedua, fungsi ban menyerap benturan saat kendaraan berjalan di area yang tidak rata.
Udara di dalam ban berfungsi sebagai pegas.
Ketiga, ban meneruskan fraksi dan gaya pengereman.
Ban bekerja dengan memanfaatkan gaya gesek dan momentum antara permukaan jalan dan telapak ban.
Keempat, mengubah dan mengarahkan laju kendaraan.
Ban yang baik akan mengikut perubahan yang terjadi pada batang kemudi sesuai dengan arah yang dikehendaki oleh pengemudi.
• Beberapa Cara Atasi Mobil Terendam Banjir
Beragam fungsi tersebut mengartikan bahwa ban menjadi satu-satunya perangkat yang merespons maksud pengemudi dan tenaga kendaraan.
Ketika ingin melaju, pengemudi akan menekan pedal gas.
Begitu juga saat ingin memperlambat akan menekan pedal rem, ketika ingin berbelok, maka akan memutar lingkar kemudi.
Ini sebabnya menjaga ban selalu dalam tekanan udara normal itu penting karena menjadi satu-satunya cara agar fungsi ban bisa terjadi secara maksimal.
Bidang kontak antara ban dan jalan dikatakan hanya sebesar ukuran kartu pos, yang membuat tuntutan untuk tekanan udara sesuai ketentuan sangat penting.
• Ban Mobil Pecah? Jangan Panik dan Lakukan Hal Ini
Rotasi Ban Mobil
Salah satu langkah perawatan ban mobil yang jarang sekali dilakukan adalah melakukan rotasi.
Padahal, dengan melakukan rotasi atau perpindahan ban, banyak keuntungan yang didapat oleh pemilik mobil.
Menurut Executive Coordinator Technical Service Astra Daihatsu Motor (ADM) Anjar Rosjadi, rotasi ban menjadi salah satu hal yang wajib dilakukan untuk menjaga kenyamanan sekaligus menghemat biaya.
"Melakukan rotasi ban sama saja meratakan tingkat keausan, sehingga titik aus tidak hanya pada satu bagian, misalkan depan atau belakang. Namun, umumnya bagian ban depan mobil lebih cepat aus dibandingkan ban belakang, karena untuk pengereman dan lebih banyak terkena gesekan saat berbelok," ucap Anjar beberapa waktu lalu kepada Kompas.com.
Salah satu faktor yang membuat rotasi ban jarang dilakukan pemilik mobil, menurut Anjar, lebih karena minimnya informasi yang didapat dari pemilik mobil.
• Banyak yang Keliru, Simak Cara Pengoperasian Mobil Bertransmisi Otomatis yang Baik dan Benar
Maka wajar bila sebagian besar pemilik mobil tidak mementingkan perawatan yang satu ini.
Anjar menjelaskan, tidak ada patokan resmi kapan harus melakukan rotasi.
Namun, biasanya disarankan setelah mobil menyentuh jarak pemakaian 10.000 km.
Karena pada jarak tersebut, tingkat keausan mulai terlihat.
Sedangkan untuk metode perpindahan, tidak boleh dilakukan sembarangan.
Tetap ada perhitungan dan tata caranya.
Contoh, saat akan memindah ban depan ke belakang, tidak boleh searah, biasanya akan dilakukan penyilangan.
"Rotasinya menyilang, misal ban belakang kanan pindah ke depan menjadi sebelah kiri. Begitu juga sebaliknya. Tapi biasanya akan dilihat lagi kerataan ban, karena selain untuk menyelaraskan juga untuk menjaga kondisi dinding ban pada kedua sisinya," ujar Anjar.
Jika Ban Meletus di Jalan
Kejadian ban mobil atau sepeda motor meletus di jalan cukup sering terjadi.
Faktor utama, biasanya karena kondisinya sudah jelek atau ban tersebut kurang tekanan udara.
Apabila mengalami hal seperti itu, kunci utama jangan panik.
Usahakan tetap normal, sehingga langkah selanjutnya menurunkan kecepatan secara perlahan.
Menurut Brand Manager PT Multistrada Arah Sarana (Corsa dan Achilles) Salomon Manalu, cara aman menghentikan laju mobil antara ban depan atau belakang yang pecah berbeda.
"Kalau ban belakang, biasanya akan lebih aman ketimbang ban depan. Kalau bagian depan, keseimbangan menjadi tidak stabil, lain dengan belakang. Tetapi paling penting kurang kecepatan secara bertahap," ujar Salomon di kawasan Senayan, Jakarta Selatan.
Cara yang paling benar dan aman, yaitu menurunkan posisi perseneling sehingga dapat memberikan efek engine brake.
Hindari langsung mendinjak pedal rem, karena keseimbangan menjadi tidak terkontrol.
"Kalau mobil tersebut penggerak roda belakang akan lebih aman karena ada efek terseret, kalau roda depan yang memang sedikit lebih sulit," kata dia.
Nah, jadi cara seperti itu bisa dilakukan apabila mengalami pecah ban ketika mobil atau motor dalam keadaan berjalan.
Ingat, paling penting lagi, jangan panik.
• Bocoran Spesifikasi dan Harga Avanza-Xenia Terbaru
Bunyi Dengung pada Ban
Kaki-kaki mobil adalah wilayah yang memiliki ragam komponen dan saling berkaitan.
Bila satu mengalami kerusakan, maka bisa merembet ke bagian lain.
Salah satunya adalah bearing pada roda.
Pernah mengalami ban seperti bunyi berdengung keras saat berjalan?
Salah satu penyebab utamanya adalah kondisi bearing (klaher) yang sudah aus.
"Ban berdengung biasanya bearing sudah rusak. Bunyinya seiring kecepatan, semakin tinggi kecepatan mobil, maka bunyi dengung akan semakin keras," jelas Heri, mekanik senior bengkel Cibubur Berkat Motor, Jumat (23/11/2018).
Heri melanjutkan, cara selanjutnya untuk mendeteksi kerusakan bearing roda tersebut adalah menggantung ban dengan cara mendongkrak, lalu goyang ban dengan menekan bagian atas dan bawah.
Bila terasa oblak, maka segera ganti bagian tersebut.
"Bearing memang komponen yang rawan rusak. Bila dibiarkan, maka bisa kena bagian lain seperti rumah bearing, suspensi dan ban itu sendiri. Cara memasangnya pun tidak bisa asal. Ada bengkel yang cara pasang bearingnya diketok. Bukan dipres. Ini akan memperpendek usia bearing itu," jelas Heri.
Sangat disarankan, lanjut Heri, untuk mengganti bearing dengan komponen asli (genuine part).
Harganya memang lebih mahal, tapi kekuatannya bisa lebih tahan lama dibanding komponen imitasi atau KW. (*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul: Kenali Tanda Batas Ban yang Harus Diganti, Bedanya Ban Vulkanisir dan Suntikan, Ingat Lagi Pentingnya Jaga Tekanan Udara Ban Kendaraan, Ingat Pentingnya Merotasi Ban Mobil, Lakukan Ini Jika Ban Mobil atau Motor Meletus di Jalan, Ban Mobil Bunyi Dengung, Ini Dia Tersangka Utamanya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/ilustrasi-ban-vulkanisir.jpg)