Tsunami Pesisir Lampung
UPDATE TSUNAMI LAMPUNG - Sesosok Mayat Wanita Ditemukan Tersangkut di Baru Karang Pantai Wartawan
Satu lagi korban meninggal dunia ditemukan di kawasan Pantai Wartawan, Rajabasa, Lampung Selatan, Minggu, 23 Desember 2018 sekitar pukul 13.45 WIB.
Penulis: Dedi Sutomo | Editor: Daniel Tri Hardanto
UPDATE TSUNAMI LAMPUNG - Sesosok Mayat Wanita Ditemukan Tersangkut di Baru Karang Pantai Wartawan
Laporan Reporter Tribun Lampung Dedi Sutomo
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, RAJABASA – Satu lagi korban meninggal dunia ditemukan di kawasan Pantai Wartawan, Rajabasa, Lampung Selatan, Minggu, 23 Desember 2018 sekitar pukul 13.45 WIB.
Korban berjenis kelamin perempuan tersebut tersangkut di sela-sela batu karang di pinggi pantai.
“Tadi tim gabungan yang melakukan penyisiran menemukan satu korban meninggal di batu karang,” kata Plt Kabid Damkar Satpol PP dan Damkar Lampung Selatan Rully.
Tim gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, dan relawan terus melakukan penyisiran di kawasan pesisir pantai untuk mencari kemungkinan adanya korban lain pasca tsunami Lampung pada Sabtu, 22 Desember 2018 malam.
• UPDATE TSUNAMI LAMPUNG - 7 Keluarga Guru asal GMP Mancing Diterjang Tsunami, 1 Anak Tewas, 3 Hilang
Akibat terjangan tsunami, sejumlah rumah warga di beberapa desa di Kecamatan Rajabasa dan Kalianda rata dengan tanah.
Sampai sore ini, tercatat ada 43 orang korban meninggal dunia.
Ratusan warga mengalami luka-luka dan patah tulang.
Korban luka dirawat di RSUD Bob Bazar.
Sedikitnya 43 korban ditemukan tewas dalam tsunami Lampung, khususnya di kawasan pesisir Lampung Selatan.
"Sampai siang ini, dari laporan ada 43 korban meninggal yang ditemukan. Tim masih melakukan pencarian. Kemungkinan ada korban lain yang belum ditemukan," kata Plt Bupati Lampung Selatan Nanang Ermanto, Minggu, 23 Desember 2018.
Selain korban tewas, sejauh ini tercatat 112 orang mengalami luka-luka hingga patah tulang.
Sebagian korban luka dirawat di RSUD Bob Bazar, Kalianda.
Nanang mengatakan, Pemkab Lampung Selatan akan mendirikan posko di Desa Way Muli untuk memudahkan pelayanan kepada masyarakat.
Pemerintah juga akan menyiapkan layanan crisis center di RSUD Bob Bazar, Kalianda.
"Untuk saat ini kita lakukan upaya evakuasi korban dan tangggap bencana," terang Nanang.
Sejauh ini, beberapa daerah paling parah terdampak tsunami berada di Desa Way Muli dan Desa Kunjir.
14 Jenazah Ditemukan
Sebanyak 14 korban tewas dalam tsunami Lampung ditemukan di Desa Way Muli Induk, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Minggu, 23 Desember 2018.
Warga dan tim gabungan masih melakukan pencarian korban lainnya yang mungkin belum ditemukan.
Jenazah korban akan disemayamkan di Masjid Nurul Hidayah.
Rencananya, jasad korban tewas segera dimandikan untuk dimakamkan.
Desa Way Muli menjadi salah satu desa yang paling parah terkena bencana tsunami Lampung.
Bahkan, tidak sedikit rumah warga yang rata dengan tanah.
Sampai siang ini, proses pencarian korban masih dilakukan.
Karena diperkirakan masih banyak korban yang belum ditemukan.
• UPDATE TSUNAMI LAMPUNG - Belasan Bagan Nelayan Pulau Pasaran Terdampar
Remaja Hilang
Seorang remaja bernama Sahroni dilaporkan hilang dalam tsunami Lampung yang melanda Kalianda, Lampung Selatan, Sabtu, 22 Desember 2018 sekitar pukul 21.15 WIB.
Teguh (18), warga Merambung Desa Pandan, Kalianda, Lampung Selatan, mengatakan, Sahroni belum ditemukan pasca terjadinya tsunami Lampung di kawasan PPI Bom, Kalianda.
Saat kejadian, Teguh dan Sahroni bermain di tepi Pantai PPI Bom.
Tiba-tiba gelombang tinggi datang.
Teguh dan Sahroni pun berlari untuk menyelamatkan diri.
“Gelombang datang tiga kali. Pertama, merobohkan motor yang kita pakai. Kita kemudian lari. Tapi, gelombang kedua dan ketiga datang,” beber Teguh.
Teguh sempat berpegang pada batu saat gelombang datang.
Pascatsunami, Teguh kehilangan jejak Sahroni.
“Saya nggak tau dia kebawa ombak apa nggak. Tapi, saya masih belum menemukan dia,” ujar Teguh.
Tsunami setinggi empat meter menghantam kawasan pesisir Kalianda dan pesisir Rajabasa, Sabtu malam.
Akibatnya, sebagian rumah warga di kawasan pesisir rusak berat.
Warga pesisir pun mengungsi ke rumah kerabatnya yang lebih aman.
Warga masih khawatir gelombang tinggi masih akan menerjang. (*)