Hingga Pagi Tercatat Hanya 4 Kali Gempa Letusan Gunung Anak Krakatau

Aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda terus menunjukan penurunan.

Hingga Pagi Tercatat Hanya 4 Kali Gempa Letusan Gunung Anak Krakatau
Tribun Lampung/Dedi Sutomo
Seismograf rusak, petugas memantau aktivitas kegempaan Gunung Anak Krakatau dengan menggunakan teropong. 

Laporan Wartawan Tribun Lampung Dedi Sutomo

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, LAMSEL - Aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) diselat Sunda terus menunjukan penurunan. Dari data aktivitas vulkanik sampai dengan pagi ini, selasa (1/1). Tidak lagi terdengar adanya suara dentuman dari aktivitas erupsi GAK seperti yang terjadi pada pekan lalu.

"Dari pukul 00.00 wib sampai dengan pukul 06.00 wib, tercatat hanya ada 4 kali gempa letusan dengan amplitudi 13-25 mm dan durasi 40-120 detik," kata petugas pos pantau GAK di desa Hargopancuran, Suwarno.

Selain gempa letusan juga teramati adanya gempa hembusan sebanyak 39 kali dengan amplitudo 7-22 mm dan durasi 25-225 detik. Dan gempa tremor mon harmonik dengan jumlah 1 dengan amplitudo 25 mm dan durasi 464 detik.

Kemudian gempa vulkanik dalam 1 dengan amplitudo 15, S-P : 2.8 detik dan dueasi 17 detik.

"Sampai saat ini status GAK sampai saat ini level III siaga. Dimana para pengunjung dan nelayan dilarang mendekat dalam radius 5 kilometer," kata Suwarno.

Tinggi GAK Tinggal 110 Meter

 Volume dan tinggi puncak Gunung Anak Krakatau (GAK) terus menyusut hingga tersisa 110 mdpl (meter di atas permukaan laut) dari ketinggian semula 338 mdpl.

Hal ini diperkirakan karena adanya proses rayapan tubuh gunung api disertai laju erupsi tinggi sejak 24-27 Desember 2018.

Sekretaris Badan Geologi Kementerian ESDM, Antonius Ratdomopurbo, mengungkapkan tinggi Gunung Anak Krakatau berkurang drastis karena longsoran ke kaki lereng gunung pasca-erupsi.

Halaman
1234
Penulis: Dedi Sutomo
Editor: Reny Fitriani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved