Ahli Vulkanologi Mbah Rono: Jangan Kriminalisasi Gunung Anak Krakatau

Ahli Vulkanologi Surono atau Mbah Rono: Jangan kriminalisasi Gunung Anak Krakatau, Ini Alasannya

Ahli Vulkanologi Mbah Rono: Jangan Kriminalisasi Gunung Anak Krakatau
KOMPAS/RIZA FATHONI
Aktivitas letupan abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda terpantau dari udara yang diambil dari pesawat Cessna 208B Grand Caravan milik maskapai Susi Air, Minggu (23/12/2018). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tsunami di perairan Selat Sunda, Sabtu 22 Desember 2018, disebut  tidak ada kaitannya dengan erupsi letusan Anak Gunung Krakatau.

Adalah Ahli Vulkanologi Surono atau Mbah Rono  yang mengemukakan hal tersebut.

"Jangan ada diskusi lagi, jangan beri judul tsunami di Selat Sunda disebabkan oleh letusan Anak Krakatau. Jangan kriminalisasi Gunung Anak Krakatau," kata Mbah Rono dalam sebuah diskusi bertema 'Mitigasi bencana masih menjadi PR' di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis (3/1/2019).

Deretan Calon Penyerang Persib Bandung untuk Duet dengan Ezechiel

Hal tersebut telah diteliti dan dipublikasikan sejak 2012 yang lalu.

“Ini bukan letusan tapi longsoran Gunung Anak Krakatau. Tsunami di Selat Sunda sudah diteliti, tsunami di Selat Sunda disebabkan karena longsoran,” ungkapnya.

Mantan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) ini, menyebut apabila Gunung Anak Krakatau bisa berbicara, maka gunung yang berada diantara Pulau Jawa dan Pulau Sumatera ini akan mengiyakan apa yang disampaikannya tersebut.

13 Kali Gempa

Aktivitas Gunung Anak Krakatau (DAK) di Selat Sunda masih terus aktif.

Sejak Jumat (4/1/2019) pukul 00.00 WIB hingga pagi ini tercatat 13 kali terjadi gempa letusan dengan amplitudo 15-22 mm dan durasi 40-110 detik.

Selain itu masih tercatat adanya gempa mikro tremor (tremor menerus) dengan amplitudo 2-21 (dominan 6 mm).

Kalapas, Napi, Oknum Polisi, dan Sipir Berkomplot Edarkan Narkoba di Lampung, 3 Sudah Vonis Penjara

"Juga teramati adanya asap kawah bertekanan sedang berwarna putih dengan intensitas tebal berketinggian 1.000 meter," kata Andi Suardi, Petugas pos pantau GAK di Desa Hargopancuran Kecamatan Rajabasa.

Hingga kini status GAK masih pada level III Siaga.

Halaman
123
Editor: taryono
Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved