Tribun Bandar Lampung

Ari Difabel Tuna Daksa Tangan dan Kaki Antusias Ikuti Pelatihan ICT

Keterbatasan bukanlah suatu halangan bagi seseorang untuk mencapai keinginan yang dicita-citakan.

Ari Difabel Tuna Daksa Tangan dan Kaki Antusias Ikuti Pelatihan ICT
Tribunlampung/Eka
Puluhan Difabel Tuna Daksa Asal Lampung Belajar Internet 

"Dan waktu itu diwajibkan membeli perangkat yaitu satu sepatu kaki seharga Rp 500 ribu untuk satu kaki supaya bisa jalan normal. Namun karena keluarga sudah tidak sanggup lagi, maka mau dikata apa," kenang pria yang kini bekerja di Alfamart Campang Bandar Lampung.

Pria yang bekerja sudah setahun lima bulan ditempat kerjanya tersebut awalnya merasa minder dengan kondisi kekurangan pada dirinya.

Namun ia memiliki kunci agar dirinya tetap percaya diri (PD) dalam menjalankan kehidupan sehari-harinya yaitu kemauan bisa mandiri dan ingin membantu orang tuanya.

"Ya memang agak sedikit minder karena kan rata-rata di situ orang non disabilitas semua. Namun lama kelamaan dibawa have fun saja dan mereka welcome juga kok," pungkasnya.

Ketua Yayasan Diffabel Action Indonesia Teguh Prasetianto menyampaikan bahwa pelatihan TIK yang diberikan kepada peserta difabel merupakan salah satu usaha yang sudah matang.

"TIK itu sudah menjadi bagian dari hidup kita. Selama ini teman-teman berpikir bagaimana cari uang dengan otot maka kita coba bagaimana cari uang dengan otak, otot sedikit saja," paparnya.

Ia mencontohkan dengan memanfaatkan internet banyak sekali peluang yang terbuka misal menjadi broker sudah bisa menghasilkan uang seperti lewat bukalapak, shoope, Telkom, belanja.com, dan lainnya.

"Alhamdulillah kemarin kalau di Bogor kita sudah kerjasama dengan Telkom untuk membentuk UKM digital. Jadi kendali bisnis dari genggaman itu tagline dari Telkom. Dengan HP kita bisa dapatkan uang kalau selama ini hanya untuk eksis saja atau tidak ada nilai ekonominya," katanya.

Lanjutnya mengatakan pemateri TIK merupakan tim dari pihak Telkom Witel Lampung yang memaparkan terkait dengan desain grafis utamanya menggunakan aplikasi Photoshop supaya bagaimana mereka (peserta difabel) bisa menggambar.

"Karena memang ada beberapa peserta difabel yang memiliki usaha percetakan sehingga tidak perlu lagi mencari tukang design karena sudah bisa melakukan design sendiri nantinya," jelasnya.

Kalau biasanya mendesign menggunakan aplikasi corel atau paint yang memiliki kelemahannya hanya mempunyai satu layer (lapisan yang berfungsi sebagai tempat objek) pada aplikasi. Kalau potoshop mereka akan diajari bukan hanya single layer tapi multi layer.

"Sehingga bisa diubah-ubah misal buat logo atau apapun misalnya peserta memiliki produksi bisa membuat kemasan dengan gambar-gambar menarik," tandasnya. (eka)

Penulis: Eka Ahmad Sholichin
Editor: Reny Fitriani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved