Bukan dengan Dimarahi, Begini Cara Menyikapi Kegagalan yang Dilakukan Anak

Psikolog Retno Riani, MPsi mengatakan, menyikapi kegagalan itu, ada beberapa orangtua yang langsung marah pada anak dan menyalahkan anak.

momsmagazine.com
Ilustrasi 

Laporan Reporter Tribun Lampung Jelita Dini Kinanti

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDARLAMPUNG - Seiring dengan tumbuh kembang anak, orangtua sering memiliki harapan pada anak, seperti anak harus mendapatkan nilai bagus di sekolah.

Tapi dalam prakteknya harapan terkadang tidak tercapai yang disebut sebagai kegagalan.

Psikolog Retno Riani, MPsi mengatakan, menyikapi kegagalan itu, ada beberapa orangtua yang langsung marah pada anak dan menyalahkan anak.

Contoh, anak mendapatkan nilai jelek di sekolah, padahal orangtua berharap anak dapat nilai bagus.

"Orang tua langsung marah dan mengatakan kalau tidak mau berusaha dan tidak rajin belajar tanpa mau mendengarkan penjelasan anak," kata Retno.

Jika anak disalahkan, ditakutkan anak menjadi frustasi dan tidak mau berusaha mencapai yang diharapkan orang tua, sehingga seharusnya orang tua jangan menyalahkan anak.

Justru orangtua harus mengajak anak untuk bersama-sama melakukan evaluasi dari kegagalan itu.

Alasan Wakil Gubernur Terpilih Lampung Pilih 2 Februari 2019 sebagai Tanggal Pernikahan, Sakral?

Caranya dengan bertanya kepada anak kenapa bisa gagal, mencari penyebab gagal, dan sama-sama mencari solusi atas kegagalan itu.

Dengan begitu kedepannya diharapkan kegagalan tidak akan terulang.

Jika perlu evaluasi harus melibatkan orang lain yang bisa bersikap objektif, terutama jika kegagalan sudah menyebabkan anak frustasi.

Dari orang lain itu akan diketahui apakah kegagalan karena kekeliruan dari anak atau orang tuanya.

Orang tua juga harus tahu kalau bisa jadi kegagalan terjadi karena kemampuan anak tidak sesuai dengan harapan orang tua.

Tips Agar Make Up Tidak Cepat Luntur ala MUA Lampung Ari Izam

Setiap anak memiliki batas kemampuan yang berbeda, seperti orang tua ingin anak dapat nilai 9 tapi ternyata anak hanya mampu mendapatkan nilai 8.

Jadi orang tua harus tahu batas kemampuan anak sampai mana, dan harus mau menerima batas kemampuan anak

"Setelah tahu jangan pernah memaksakan anak untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan batas kemampuannya," ujar Retno.

Dengan tahu batas kemampuan, orang tua bisa memiliki harapan atau memberikan target sesuai dengan batas kemampuan itu.

Selain itu orang tua juga harus menjadi role model bagi anak, seperti saat orang tua ingin anak rajin sholat lima waktu, orang tua harus sholat lima waktu.

Menjadi role model juga bisa diterapkan pada anak yang masih balita, karena iasanya balita suka meniru apa yang dilakukan orang tua.

Selain menjadi role model, orang tua juga harus mengajarkan pada si balita agar bisa mengerti apa yang diinginkan orangtua.

Misal orang tua ingin balitanya membiasakan diri membereskan mainan saat sudah selesai bermain.

"Agar keinginan itu tercapai, orang tua harus mengajarkan bagaimana cara membereskan mainan yang benar," pungkas Retno.

Penulis: Jelita Dini Kinanti
Editor: Reny Fitriani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved