Bencana Alam di Sulawesi Selatan, 30 Orang Meninggal dan 25 Hilang

Bencana Alam di Sulawesi Selatan, 30 Orang Meninggal dan 25 Orang dilaporkan hilang

Bencana Alam di Sulawesi Selatan,  30 Orang Meninggal dan 25  Hilang
Ari Maryadi
ilustrasi - Bencana Alam di Sulawesi Selatan, 30 Orang Meninggal dan 25 Hilang 

Hingga Rabu (23/01), BPBD Sulsel mencatat lebih dari 1400 bangunan terendam, 25 di antaranya rusak berat.

Upaya untuk perbaikan berbagai fasilitas dan infrastruktur baru akan dilakukan setelah status tanggap darurat diangkat.

"Pada saat tanggap darurat sudah selesai, kita akan melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi," kata staf Pusdalops BPBD Sulsel, Hasriadi.

Penyebab banjir yang semakin parah di Sulsel

Banjir di Sulawesi Selatan, diakui Kabiro Humas Pemprov Sulawesi Selatan, Devo Khaddafi, merupakan bencana tahunan yang menerjang sejumlah wilayah di provinsi tersebut.

"Sebenarnya rutin. Tapi itu tadi, yang saya ngeh kan dia cuma per spot-spot aja. Tidak pernah yang sampai satu kabupaten yang mengungsi dua ribu lebih orang," kata Devo heran.

Warga menyaksikan Jembatan Manuju yang ambruk akibat diterjang air di Desa Moncongloe, Manuju, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Rabu (23/1/2019). Jembatan tersebut ambruk karena meluapnya air Sungai Jenneberang akibat tingginya curah hujan.Hak atas fotoANTARA FOTO/YUSRAN UCCANG/WSJ
Image captionWarga menyaksikan Jembatan Manuju yang ambruk akibat diterjang air di Desa Moncongloe, Manuju, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Rabu (23/1/2019). Jembatan tersebut ambruk karena meluapnya air Sungai Jenneberang akibat tingginya curah hujan.

Ia menjelaskan perlunya perbaikan di beberapa daerah aliran sungai (DAS) di sejumlah wilayah yang sudah berada dalam kondisi sangat kritis, seperti Sungai Jeneberang di Gowa dan Sungai Kelara di Jeneponto.

Devo juga menyebut adanya masalah di hulu sungai yang kemungkinan menjadi faktor utama semakin parahnya banjir yang terjadi tahun ini.

"Ada beberapa pengrusakan-pengrusakan yang berada di area hulu, sehingga ini juga akan menjadi perhatian pemerintah kabupaten dan provinsi untuk segera menangani kawasan-kawasan yang kritis ini, agar di tahun depan hal seperti ini bisa dicegah," ujarnya.

Devo tidak menyebut siapa pihak yang bertanggung jawab atas kerusakan di hulu sungai. hal tersebut.

"Kalau sejauh ini, karena di Sulsel, hampir dapat dikatakan pembalakan liar yang mungkin dilakukan oleh masyarakat. Tapi kami belum mendapatkan informasi yang lebih detil lagi terkait hal itu," pungkasnya.

Peringatan BMKG soal cuaca ekstrem

Menurut BMKG, cuaca ekstrem yang melanda Sulawesi Selatan belum usai. Warga Sulsel diminta untuk terus waspada hingga 26 Januari mendatang.

"Tanggal 24 sampai tanggal 26 (Januari) itu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai angin kencang itu masih diperkirakan akan terjadi di wilayah Sulawesi Selatan, khususnya di bagian barat," tutur Kabag Humas BMKG, Taufan Maulana.

Ia merinci wilayah Sulsel yang kemungkinan besar akan terdampak, di antaranya Kota Makassar, Kabupaten Maros, Kabupaten Pangkep, Kabupaten Barru, dan Kabupaten Gowa.

Tim relawan mengevakuasi seekor anjing yang terjebak banjir di Perumahan Bung Permai, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (23/1/2019). Ketinggian banjir di kawasan tersebut mencapai satu meter akibat meluapnya Sungai Tello.Hak atas fotoANTARA FOTO/SAHRUL MANDA TIKUPADANG
Image captionTim relawan mengevakuasi seekor anjing yang terjebak banjir di Perumahan Bung Permai, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (23/1/2019). Ketinggian banjir di kawasan tersebut mencapai satu meter akibat meluapnya Sungai Tello.

Selain hujan lebat dan angin kencang, masyarakat pesisir juga diminta untuk mewaspadai gelombang tinggi yang diperkirakan akan datang.

"Di perairan sekitar Sulawesi Selatan itu gelombang diperkirakan bisa mencapai ketinggian 1,2 sampai dengan 2,5 meter. Itu berpotensi di Teluk Bone bagian selatan," lanjutnya.

"Gelombang yang lebih tinggi lagi dengan ketinggian empat sampai enam meter itu berpotensi terjadi di Selat Makassar bagian selatan, perairan barat Sulawesi Selatan, perairan Kepulauan Sabana, perairan Kepulauan Selayar, dan Laut Flores."

Hasil amatan BMKG, puncak musim hujan baru akan tiba bulan Februari nanti. Saat ini, sebagian besar wilayah di Indonesia sudah mulai memasuki musim hujan.

"95% wilayah Indonesia sudah memasuki musim hujan, artinya potensi-potensi bencana hidrometeorologi yang tadi saya sampaikan di awal itu sangat memungkinkan untuk terjadi," tutupnya.

Penulis: taryono
Editor: taryono
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved