AJI Desak Presiden Batalkan Remisi Terpidana Pembunuhan Jurnalis Prabangsa

Organisasi profesi AJI mendesak Presiden Joko Widodo membatalkan remisi Susrama.

AJI Desak Presiden Batalkan Remisi Terpidana Pembunuhan Jurnalis Prabangsa
Aliansi Jurnalis Independen

LAPORAN WARTAWAN TRIBUN LAMPUNG YOSO MULIAWAN

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Organisasi profesi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mendesak Presiden Joko Widodo membatalkan remisi I Nyoman Susrama, terpidana pembunuhan berencana jurnalis AA Gde Bagus Narendra Prabangsa. AJI menilai remisi hukuman dari penjara seumur hidup menjadi penjara 20 tahun itu melukai rasa keadilan dan semakin mengancam kemerdekaan pers di Indonesia.

"AJI menilai kebijakan semacam ini tidak arif dan memberi pesan yang kurang bersahabat bagi pers Indonesia. AJI menilai pemberian keringanan hukuman bagi pelaku kekerasan terhadap jurnalis akan menyuburkan iklim impunitas dan membuat pelaku kekerasan terhadap jurnalis tidak jera. Kebijakan itu bisa memicu kekerasan terhadap jurnalis terus berlanjut," kata Ketua Umum AJI Indonesia Abdul Manan melalui rilis, Rabu (23/1/2019).

Remisi hukuman pidana bagi Prabangsa, terpidana pembunuhan jurnalis Radar Bali, Prabangsa, tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 29 Tahun 2018 tentang Pemberian Remisi Perubahan dari Pidana Penjara Seumur Hidup Menjadi Pidana Sementara, tertanggal 7 Desember 2018. Susrama merupakan satu dari total 115 terpidana yang mendapatkan keringanan hukuman serupa dalam keppres tersebut.

"Fakta persidangan jelas menyatakan bahwa pembunuhan terhadap Prabangsa berkaitan dengan berita. Susrama pun sudah mendapat hukuman ringan. Jaksa sebenarnya menuntut dengan hukuman mati, tapi hakim mengganjarnya dengan hukuman seumur hidup," jelas Manan.

"Kebijakan mengurangi hukuman Susrama melukai rasa keadilan tidak hanya keluarga korban, tapi jurnalis di Indonesia. Karena itu, kami mendesak presiden membatalkan remisi tersebut," imbuhnya.

Sudah Pertimbangkan Matang

Menanggapi protes AJI, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna Laoly menegaskan, pemerintah telah mempertimbangkan secara matang pemberian remisi kepada I Nyoman Susrama.

"Kecaman kan bisa saja. Tapi, kalau orang itu sudah berubah, bagaimana?" kata Yasonna di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, merujuk Kompas.com, Rabu (23/1/2019).

"Kalau kamu berbuat dosa, berubah, masuk neraka terus? Enggak kan? Jadi, jangan melihat sesuatu sangat politis," imbuhnya.

Yasonna menjelaskan, pemerintah memperhatikan berbagai aspek dalam memberi remisi kepada Susrama. Pertama, Susrama sudah menjalani masa hukuman hampir 10 tahun. Selama menjalani hukuman itu, ungkap dia, Susrama selalu berkelakuan baik.

Halaman
123
Editor: yoso
Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved