Tribun Bandar Lampung

Tak Kunjung Jadi Honorer, Juru Parkir Lapor Polisi

Seorang tenaga kerja sukarela (TKS) juru parkir melapor ke Polresta Bandar Lampung.

Tak Kunjung Jadi Honorer, Juru Parkir Lapor Polisi
Tribun Lampung/Hanif Risa Mustafa
Andi Winata (kanan) bersama kuasa hukumnya menunjukkan kuitansi setoran Rp 20 juta kepada oknum PNS saat menggelar konferensi pers di sekretariat Aliansi Jurnalis Independen Bandar Lampung, Senin, 28 Januari 2019. 

LAPORAN REPORTER TRIBUN LAMPUNG HANIF RISA MUSTAFA

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Seorang tenaga kerja sukarela (TKS) juru parkir melapor ke Polresta Bandar Lampung. Ia mengadukan dugaan penipuan dan penggelapan uang setelah tak kunjung menjadi tenaga honorer. Padahal, ia mengaku sudah menyetor uang Rp 20 juta.

Pengaduan Andi Winata (33), juru parkir tersebut, tertuang dalam laporan bernomor LP/B-1/413/1/2019/LPG/SPKT/Resta Balam, tertanggal 27 Januari 2019. Dalam laporannya, ia mengaku menyetor Rp 20 juta kepada oknum pegawai negeri sipil.

Kepada awak media, Andi menceritakan, kejadian berawal pada Oktober 2016. Saat itu, dalam kondisi ketidakjelasan statusnya sebagai TKS juru parkir, ia bercerita kepada temannya yang merupakan PNS.

"Katanya, ada yang bisa bantu saya jadi honorer (inisial H). Saya telepon, dia (H) minta uang Rp 20 juta kalau mau jadi honorer," kata Andi dalam konferensi pers di sekretariat Aliansi Jurnalis Independen Bandar Lampung, Senin (28/1/2019).

Andi lantas membicarakan permintaan uang tersebut kepada keluarga. Selanjutnya, pada Oktober itu juga, ia menyerahkan uang Rp 20 juta kepada oknum PNS inisial H. Ia mencicilnya sebanyak dua kali dalam jeda sepekan.

"Awalnya, 2017, katanya keluar (surat keputusan honorer). Tapi, nggak keluar. Dia minta saya sabar. Pertengahan 2017, Juli, saya tanya lagi, tapi nggak keluar juga," tuturnya.

Andi kemudian bertanya lagi pada akhir 2017. Namun, hasilnya tetap nihil.

Tahun berganti, warga Jalan Kamboja, Kecamatan Panjang, ini menelepon kembali oknum PNS itu pada awal 2018. Hasilnya pun sama.

"Saya malu dengan keluarga. Januari 2018, saya bareng teman datang ke rumah dia (H) untuk minta kejelasan. Di rumahnya, dia bilang, begini begitu. Suruh sabar, (SK) belum keluar," beber Andi.

Sama seperti sebelumnya, jelas Andi, hasilnya pun nihil hingga Juli, Oktober, dan akhir 2018.

"Januari ini (2019), dia ternyata sudah nggak dinas lagi. Dia ngeluarkan surat pernyataan yang berisi akan memulangkan uang saya," ujar Andi.

Namun, karena hingga menjelang akhir Januari janji itu belum juga terlaksana, Andi melapor ke Polresta Bandar Lampung, Minggu (27/1/2019).

Deswandi Aidiyan, kuasa hukum Andi Winanta, menjelaskan, sebelum melapor ke polresta, pihaknya sudah mencoba mediasi. Hasilnya, terlapor berjanji mengembalikan uang pada 8 Januari. Namun, jelas dia, janji itu tak terlaksana.

"Kami kasih renggang tiga hari. Setelah tiga hari, tetap tidak terlaksana. Sampai kemarin (Minggu, 27/1/2019), belum juga ada pembayaran. Makanya, kami laporkan dugaan penggelapan dan penipuan," jelas Deswandi.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Bandar Lampung Komisaris Rosef Efendi memastikan pihaknya telah menerima laporan dugaan penipuan dan penggelapan itu.

"Sudah masuk. Nanti kami dalami. Tentunya kami panggil dulu pelapor untuk meminta keterangan. Kemudian, memanggil saksi-saksi," katanya.

Awak Tribun Lampung telah mencoba mengonfirmasi oknum PNS selaku terlapor kasus itu. Saat menghubungi nomor ponsel oknum PNS tersebut, suara perempuan yang mengaku sebagai istrinya mengangkat ponsel.

"Iya, saya istrinya. Konfirmasi apa? Sama saya aja, sama aja," ujarnya.

Perempuan ini menyatakan tak tahu-menahu soal kronologi laporan Andi Winata.

"Saya nggak tahu. Bapak nggak ada," katanya.

Penulis: hanif mustafa
Editor: yoso
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved