Tribun Metro

Satu PNS Disperkim Metro Meninggal Dunia Diserang DBD

Azhari Pamungkas (30), PNS yang bertugas di Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Metro meninggal dunia karena menderita DBD

Satu PNS Disperkim Metro Meninggal Dunia Diserang DBD
TOTO SIHONO
Ilustrasi nyamuk Aedes aegypti dan DBD 

Laporan Reporter Tribun Lampung Indra Simanjuntak 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, METRO - Azhari Pamungkas (30), PNS yang bertugas di Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Metro meninggal dunia karena menderita DBD, Senin (11/2) malam.
"Suami saya sebelumnya dirawat di Klinik Azizah. Dirawat di sana kondisinya semakin memburuk, kemudian dirujuk ke RSUD Abdoel Moeloek Bandar Lampung. Demamnya sudah dari Selasa atau Rabu minggu lalu," terang Lisa, istri korban.

Ia mengaku, keluarga yang tidak merasa curiga hanya membawa korban berobat ke Puskesmas. "Karena dikira sakit biasa, makanya hanya dibawa ke Puskesmas. Beliau juga masih aktif, hanya mengeluh badannya pegal-pegal," terangnya.

Pairin Jamin Penderita DBD Dapat Perawatan Terbaik Rumah Sakit

Minggu (10/2) malam, korban tidak sadarkan diri. Hingga dibawa ke RS Muhammadiyah Metro. Namun, karena rumah sakit penuh, pihak keluarga berinisiatif membawa ke Klinik Azizah dan sempat dirawat sehari semalam.

Dari hasil diagnosa darah, trombosit Azhari jauh di bawah normal. Yakni pada angka 3.500. "Trombosit sudah segitu harus dirawat di ICU. Akhirnya dibawa ke RSUD Abdoel Moeloek," tuturnya. Hingga akhirnya korban akhirnya meninggal dunia.

Januari-Februari, 69 Warga di Metro Positif DBD

Wakil Ketua Komisi I Nasrianto Effendi, yang juga kerabat korban, menyesalkan adanya korban meninggal dunia akibat DBD. Padahal, dewan telah beberapa kali mengingatkan pemerintah untuk serius menangani kasus tersebut.

"Dan lebih kita sayangkan lagi, apakah puskesmas, klinik, sampai rumah sakit itu tidak jeli. Mereka kan lebih paham. Harusnya mewanti-wanti korban ada potensi DBD atau apa begitu, karena memang ini lagi musimnya," imbuhnya, Rabu (13/2).

Terlebih, terang Nasrianto, adanya penolakan dari beberapa rumah sakit di Metro karena alasan kamar penuh. "Padahal korban dalam posisi kritis. Masak disuruh ke Bandar Lampung. Tugas dokter dan RS itu apa sebenarnya. Miris sekali," tandasnya.

Menurutnya, penanganan pasien DBD tidak butuh ruang operasi. Tapi perlu penanganan yang intensif dan serius. "Artinya kamar itu kan bisa dikesampingkan. Bukan itu yang jadi faktor utama. Tapi kok ini terbalik," ungkapnya.

Penulis: Indra Simanjuntak
Editor: soni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved