Tribun Metro

Hingga Februari 100 Kasus DBD Menyerang Kota Metro

Hingga Februari 2019, kasus DBD di Kota Metro menyentuh angka 100, dengan satu korban meninggal dunia

Hingga Februari 100 Kasus DBD Menyerang Kota Metro
shutterstock
Ilustrasi. 

Laporan Reporter Tribun Lampung Indra Simanjuntak 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, METRO - Hingga Februari 2019, kasus DBD di Kota Metro menyentuh angka 100, dengan satu korban meninggal dunia. Plt Kepala Dinas Kesehatan Metro Silfia Naharani mengatakan, wilayah Bumi Sai Wawai berada di sentral wilayah lain, dan hal tersebut memicu penumpukan pasien dari daerah tetangga ke Metro.

Ia mengaku, dengan jumlah penduduk Kota Metro 169.040 jiwa, penyebaran penyakit tidak selalu dari internal daerah, namun bisa masuk dari wilayah lain. Pihaknya telah melakukan sosialisasi gerakan preventif sejak Desember. Yaitu 4 M Plus; Menguras, Menutup, Mendaur ulang dan Memantau Jentik.

Tangkal DBD dengan Ovitrap, Ini Tips dari Kepala Dinas Kesehatan Lampung

"Selama masih ada jentik ancaman DBD selalu ada. Kami mohon bantu untuk menyosialisasikan terkait gerakan preventif untuk memutus mata rantai penyebaran. Dengan membasmi jentik nyamuk. Bukan fogging yang hanya sesaat membatasi gerakan nyamuk," ujarnya, Selasa (19/2).

Menurutnya, seluruh komponen kesehatan telah bergerak sosialisasi M 4 Plus. Serta mengumpulkan semua direktur RS dan pemilik klinik di Kota Metro agar jangan sampai salah mendiagnosis, supaya tidak terlambat mengambil tindakan.

Terkait siklus 5 tahunan DBD, Metro belum masuk tahap status KLB. "Tahun sebelumnya siklus 5 tahunan itu sampai 400 kasus. Juga ada yang meninggal dunia. Sekarang hingga bulan Februari ada sekitar 100 kasus dan 1 orang meninggal dunia," jelasnya.

Ketua IDI Kota Metro Agung Budi Prasetiyono menilai, media berperan memberikan informasi kepada masyarakat terkait penyakit DBD agar tidak menimbulkan kepanikan. Ada dua hal penyebab kematian karena DBD.

Kronologi PNS Meninggal Akibat DBD di Lampung, Sempat ke Klinik karena Rumah Sakit Penuh

Pertama pemeriksaan penyaringan yang kurang tepat. Kedua keterlambatan pasien datang ke sarana yankes. "Dan saat ini malah orang dewasa yang sering meremehkan gejala DBD ini. Sehingga terlambat datang ke Yankes," imbuhnya.

Ia menambahkan, ada tiga fase yang perlu diperhatikan jika DBD. Yaitu demam, kritis, dan pemulihan. "Harus diperhatikan saat sudah demam tiga hari kemudian pada hari kelima mulai dingin. Itu bukan sembuh melainkan memasuki fase kritis. Maka pasien harus segera kembali ke yankes," ungkapnya.

Demam tinggi hingga menggigil atau bahkan trombosit kurang dari 100 itu harus segera mendapatkan perawatan di RS yang memadai. "DBD tidak ada manifestasi pendarahan sedangkan Demam Virus tidak. Contohnya bintik merah yang tidak hilang saat disentuh, atau pendarahan hidung dan mulut. Terapinya menambah cairan dan perbanyak minum," ungkapnya.

Fogging Tidak Efektif 

Dinas Kesehatan Kota Metro menyarankan fogging tidak harus dilakukan. Karena tidak menutup kemungkinan resistensi dapat terjadi terhadap nyamuk. Sehingga nyamuk tersebut kebal terhadap racun.

"Dan fogging ini tidak efektif, hanya membunuh nyamuk dewasa saja. Itu tidak memutus mata rantai. Harusnya jentik nyamuk yang dibunuh. Itu kenapa kami selaku minta masyarakat untuk menggalakkan M 4 Plus," kata Plt Diskes Silfia.

Ketua IDI Kota Metro Agung Budi Prasetiyono mengaku, fogging hanya membunuh nyamuk dewasa. Dan seharusnya jika ada warga positif DBD, dalam jarak 10 rumah dari pasien tersebut juga harus di-fogging.

"Namun, pada kenyataanya belum tentu tetangganya mau untuk difogging. Kadang mereka menolak karena bau dan lainnya. Ini artinya, fogging tidak terlalu efektif," tuntasnya. (dra)

Penulis: Indra Simanjuntak
Editor: soni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved