Tribun Lampung Selatan
Petani Jagung Lampung Selatan Was-was Harga Jagung Turun Drastis
Para petani jagung di Kabupaten Lampung Selatan kini was-was.Pasalnya harga jagung di Lampung Selatan dalam dua pekan terakhir terus turun
Penulis: Dedi Sutomo | Editor: wakos reza gautama
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID,KETAPANG - Para petani jagung di Kabupaten Lampung Selatan kini was-was.
Pasalnya harga jagung di Lampung Selatan dalam dua pekan terakhir terus turun.
• Dapat Boneka dari Kapolres Tanggamus, Begini Ekspresi Gadis Korban Pemerkosaan Ayah, Kakak dan Adik
Saat ini harga jagung di Lampung Selatan di tingkat gudang Rp. 3.100 per kilogram.
Padahal sepekan lalu harga jagung di Lampung Selatan di tingkat gudang masih Rp. 4.400 per kilogram.
"Itu harga di tingkat gudang. Nantinya dipotong kadar air 35 persen. Harga di tingkat petani hanya sekitar Rp. 2.000 per kilogram," terang Saleh, petani jagung di Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, Minggu (24/2/2019).
Menurut dirinya dua pekan lalu harga jagung di tingkat gudang masih bertengger pada harga Rp. 5.200 per kilogram dengan kadar air 40 persen.
Dimana harga di tingkat petani masih Rp. 3.100 per kilogram.
Namun harga jagung ini terus merosot turun dua pekan terakhir.
Padahal baru memasuki awal musim panen. Belum lagi mencapai puncak musim panen jagung.
"Kami khawatir harga ini akan terus turun. Karena diawal musim panen saja sudah turun sangat jauh," terang Saleh.
Menurutnya, untuk tanam jagung dengan luas lahan sekitar 1 hektar biaya yang dibutuhkan mencapai Rp. 7 juta.
Itu belum lagi ditambah dengan biaya panen dan pipilan.
"Dengan harga saat ini kita hanya bisa mendapatkan hasil sekitar Rp. 400 - Rp 500 per kilogram. Jika dikalikan dengan hasil 6 ton hanya sekitar Rp. 2,5 juta sampai dengan Rp. 3 juta," ujarnya.
Hasil yang diperoleh jika dibagi dengan masa tunggu panen jagung yang mencapai 3 bulan lebih, maka petani hanya akan menikmati hasil Rp 800 ribu hingga Rp 1 juta per bulan.
• 7 Artis yang Meniti Karir dari Ajang Pencarian Bakat, Ada yang Meninggal karena Dibunuh
Ini jauh dari upah minimum regional (UMR) di Lampung Selatan yang mencapai Rp. 2,1 juta.
"Padahal kita harus membiayai keluarga. Biaya untuk kebutuhan sehari-hari dan anak sekolah. Tentu tidak cukup hanya dengan penghasilan Rp 1 juta per bulan. Penghasilan seperti itu tidak akan pernah bisa mengangkat petani menjadi makmur," kata dia.
Terus turunya harga jagung saat ini juga menjadi perhatian Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Lampung Selatan M Amin Syamsudin.
Dirinya mengatakan dilema turunnya harga jagung yang drastis ini selalu dihadapi petani kala menghadapi musim panen.
Sejauh ini belum ada langkah pemerintah untuk bisa melindungi petani jagung.
"Inilah yang dihadapi petani jagung kita. Belum ada keberpihakan yang pemerintah untuk melindungi petani. Sejauh ini belum ada standarisasi harga jagung. Seperti halnya penetapan HPP (harga pokok pembelian) pada beras," terang Amin.
Menurut dirinya, dengan kondisi saat ini akan sulit mewujudkan kesejahteraan petani.
Justru sebaliknya petani selalu menjadi objek penderita dari kebijakan yang kurang berpihak pada mereka.
Amin pun menawarkan satu solusi. Ia mengatakan ke depan pemerintah perlu mendorong dan membantu setiap gapoktan bisa memiliki gudang penyimpanan tersendiri.
Serta membentuk koperasi yang nantinya menampung hasil panen petani.
Gapoktan bisa menetapkan harga standar pembelian jagung petani yang tidak merugikan petani.
• ACT dan Tribunnews Salurkan Bantuan untuk Korban Tsunami Selat Sunda
Nantinya bisa dijual dengan pabrikan pakan ternak yang membutuhkan jagung dengan harga tertentu dan menjamin keberlangsungan suplay jagung kepada pabrikan.
"Tidak kalah penting pemerintah perlu menetapkan HPP jagung. Sehingga ada standarisasi harga yang melindungi petani jagung dari fluktuasi harga yang terlampau tinggi," tandasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/petani-jagung-di-lampung-selatan.jpg)