Tribun Bandar Lampung

Era Revolusi Industri 4.0, Staf Khusus Presiden Dorong Mahasiswa Unila Jadi Kreator

Staf Khusus Presiden Adita Irawati berpesan agar mahasiswa-mahasiswi Universitas Lampung menjadi kreator.

Era Revolusi Industri 4.0, Staf Khusus Presiden Dorong Mahasiswa Unila Jadi Kreator
TRIBUN LAMPUNG/BAYU SAPUTRA
ISI DIALOG PUBLIK - Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Adita Irawati mengisi Dialog Publik bertema "Peluang dan Tantangan Generasi Muda Menghadapi Revolusi Industri 4.0" di Gedung Serba Guna Universitas Lampung, Selasa (19/3/2019). 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Adita Irawati berpesan agar mahasiswa-mahasiswi Universitas Lampung menjadi kreator pada era Revolusi Industri 4.0. Dengan begitu, keberadaan mahasiswa akan lebih memberi manfaat positif bagi masyarakat, terutama di dunia digital.

Adita mengutarakan pesan itu saat mengisi Dialog Publik bertema "Peluang dan Tantangan Generasi Muda Menghadapi Revolusi Industri 4.0". Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unila menggelar Dialog Publik ini di Gedung Serba Guna Unila,  Selasa (19/3/2019).

Saat ini, Adita menjelaskan, sebagian besar masyarakat Indonesia masih cenderung menjadi penikmat. Mulai dari film, musik, hingga video di YouTube.

"Harapannya, bagaimana kalian (mahasiswa-mahasiswi) menjadi pembuat atau kreator yang berdampak positif," ujarnya.

Adita juga berharap mahasiswa-mahasiswi menangkap peluang pada era Revolusi Industri 4.0.

"Mahasiswa jangan hanya pandai bicara. Saat ini, data digital adalah modal. Siapa memegang data, dia yang akan memegang dunia," kata mantan Vice President Corporate Communications PT Telkomsel itu.

Wakil Rektor IV Bidang Kerjasama Unila Mahatma Kufepaksi dalam sambutannya mengungkap adanya dampak positif maupun negatif dari konsumsi terhadap teknologi. Ia mengingatkan, ke depan, pekerjaan manusia akan berganti dengan mesin.

"Lima tahun ke depan, kita akan berhadapan pada kondisi di mana pekerjaan bukan lagi di tangan manusia, melainkan sudah berganti dengan mesin. Akan banyak pengangguran dan akan ada 75 persen jenis pekerjaan yang hilang," paparnya.

Sementara Dekan FEB Unila Satria Bangsawan menyinggung peran kampus dalam mempersiapkan alumni yang mumpuni menghadapi tantangan perkembangan teknologi dan data.

"Tidak mungkin lagi mencari pekerjaan dengan hanya mengandalkan dari pemerintah. Lulusan-lulusan harus bisa mengembangkan start up (usaha rintisan) baru. Para calon lulusan bisa menjadi entrepreneur (wirausahawan) yang kreatif dan inovatif," jelasnya. (Tribunlampung.co.id/Bayu Saputra)

Penulis: Bayu Saputra
Editor: yoso
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved