Tribun Tanggamus
Pangan Balak di Puncak Acara HUT ke-22 Tanggamus
Pangan Balak di Taman Soekarno, Kota Agung, jadi acara puncak rangkaian HUT ke-22 Kabupaten Tanggamus
Penulis: Tri Yulianto | Editor: wakos reza gautama
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, TANGGAMUS - Pangan Balak atau makan bersama secara besar-besaran di Taman Soekarno, Kota Agung, jadi acara puncak rangkaian HUT ke-22 Kabupaten Tanggamus.
Pangan Balak merupakan tradisi adat Lampung yang biasa diadakan saat ada kegiatan hajatan, doa bersama atau kegiatan lainnya.
Ini sebagai bentuk kebersamaan dan saling berbagi dengan menyantap bersama makanan yang ada.
Dalam pangan balak HUT ke-22 Tanggamus ini diikuti ratusan pegawai lingkup Pemkab Tanggamus, kecamatan, para tokoh adat, dan sebagian masyarakat.
Mereka berada di bawah tenda yang didirikan untuk memanyungi semuanya. Mereka ada yang berpakaian adat atau seragam Korpri.
Untuk acara ini seluruh utusan datang dengan membawa berbagai menu makanan.
Semua disajikan dalam berbagai model, namun secara umum ditempatkan di atas talam atau nampan untuk makanan berbentuk lingkaran.
Sedang menu makanannya pun beragam dari mulai sayur asam, sop, atau sayur lainnya hingga gulai dan rendang.
• 50 ASN Pemerintah Kabupaten Tanggamus Raih Penghargaan Satya Lencana Karya Satya
Begitu pun dengan lauknya, dari tempe goreng, ikan bakar, ayam bakar, telur sambal sampai sate ayam.
Menu makanan kian komplit lagi dengan berbagai lalapan dan sambalnya.
Lalu buah untuk cuci mulut yang umumnya pisang dan jeruk. Lainnya jajanan yang tidak kalah menggoda dengan menu makan beratnya.
Dalam pangan balak tidak ada perilaku khusus, ketika makanan sudah siap dan waktu makan sudah tiba, semua yang hadir langsung saja menyantap makanan yang ada.
Dan jika belum kenyang, menambah pun lumrah.
"Kalau pangan balak enaknya makan ramai-ramai, semuanya makan. Kalau ada yang belum makan diajak makan bersama, pokoknya dihabiskan saja," ujar Heri salah satu yang ikut pangan balak.
Dalam acara ini hadir juga Edward Syah Pernong, Sultan Skala Brak ke-23, yang mengaku bersyukur Pemkab Tanggamus adakan pangan balak.
Itu tandanya pemkab turut melestarikan budaya lokal untuk gelaran HUT Tanggamus.
Ia menjelaskan tradisi pangan balak secara umum adalah bentuk rasa syukur dan perayaan HUT Tanggamus termasuk ungkapan rasa syukur dan evaluasi bagi daerah.
"Dalam pangan balak ada turun talam, atau menyajikan makanan, maknanya saling menghargai, membalas budi baik orang lain. Dan untuk makan bersama tandanya apa yang ada dirasakan bersama," ujar Pernong.
Menurut Bupati Tanggamus Dewi Handajani, Pemkab Tanggamus akan terus mengadakan pangan balak yang selama ini sudah rutin diadakan tiap tahun.
"Pangan balak ini sebagai simbol persatuan dan untuk membangun Tanggamus dibutuhkan persatuan dan juga kondisifitas. Kami juga mohon doa dari semuanya sebab untuk membangun Tanggamus tidak mudah, dan kami sudah miliki rancangan tertuang di 55 program pembangunan," ujar Dewi.
(Tribunlampung.co.id/Tri Yulianto)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/pangan-balak-di-tanggamus.jpg)