Melongok Museum Maritim Jakarta, Para Jurnalis Lampung Menapak Tilas Sejarah Kemaritiman Indonesia

Penggalan lagu "Nenek Moyangku Seorang Pelaut" menjadi pembuka saat pemandu tur memaparkan seluk-beluk Museum Maritim di Pelabuhan Tanjung Priok.

Penulis: Yoso Muliawan | Editor: Teguh Prasetyo
tribunlampung/Yoso Muliawan
Tim Media Gathering PT Pelindo II Cabang Panjang melihat minidiorama sejarah pelayaran nenek moyang di Museum Maritim, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu (30/3/2019) pagi. 

Laporan Reporter Tribun Lampung Yoso Muliawan

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, JAKARTA - Penggalan lagu "Nenek Moyangku Seorang Pelaut" menjadi pembuka saat M Imam Maswadi, pemandu tur, mulai memaparkan seluk-beluk Museum Maritim di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu (30/3/2019) pagi.

Ia memandu tur 16 jurnalis yang tergabung dalam rombongan Media Gathering PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II Cabang Panjang.

"Ingat lagu Nenek Moyangku Seorang Pelaut?," tanya Imam sambil menyanyikan penggalan lagu tersebut.

Setelah mendengar jawaban para awak media, Imam menerangkan perjalanan orang-orang dulu memasuki wilayah nusantara.

Di sampingnya terpampang peta persebaran nenek moyang Indonesia.

"Ada beberapa teori tentang asal nenek moyang kita. Di antaranya dari teori Austronesia. Awalnya, orang-orang dari Taiwan melakukan perjalanan laut pada tahun 5000 sebelum Masehi. Mereka menyebar, masuk wilayah Sumatera tahun 4000 SM. Ada yang ke wilayah Madagaskar pada 2000 SM, juga ke wilayah timur 1600 SM, hingga wilayah New Zealand 1000 SM," terang Imam.

Dari perjalanan laut, nenek moyang bangsa Indonesia menyebar dan bermukim di nusantara.

Ini tergambar dari berbagai minidiorama pelayaran orang-orang dulu.

Rombongan Media Gathering Pelindo II Napak Tilas Sejarah Kemaritiman Indonesia di Museum Maritim

Tak sekadar berlayar, mereka juga melakukan perdagangan komoditas.

Minidiorama masa Kerajaan Sriwijaya misalnya.

Terdapat keterangan tentang komoditas perdagangan, seperti minyak kamper, bulu burung merak, gading gajah, cula badak, kain blacu, patung perunggu, dan keramik.

Berikutnya ada minidiorama Kerajaan Mataram Kuno serta Kerajaan Majapahit.

Nama terakhir bahkan menjelma menjadi kerajaan maritim nusantara dengan armada laut yang kuat, meskipun pusat kerajaannya berada di pedalaman.

Bahkan, pada minidiorama tampak simbol Kerajaan Majapahit berupa lambang delapan penjuru mata angin yang merupakan petunjuk di dunia pelayaran.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Lampung
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved