Tribun Bandar Lampung
Cegah Longsor Seperti di Gang Kiwi, Walhi Lampung Imbau Warga Tanam Pohon
Satu cara untuk mengantisipasi agar tidak terjadi tanah longsor seperti di Gang Kiwi adalah menanam pohon.
Penulis: Eka Ahmad Sholichin | Editor: Yoso Muliawan
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Satu cara untuk mengantisipasi agar tidak terjadi tanah longsor adalah menanam pohon. Keberadaan pohon akan menyerap air, sekaligus mengikat tanah sehingga tidak longsor.
Demikian saran dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Lampung menanggapi peristiwa longsor di Jalan Kiwi, Gang Kiwi 8, Kelurahan Sidodadi, Kecamatan Kedaton, Bandar Lampung, Rabu (24/4/2019) dini hari.
Manajer Advokasi dan Kampanye Walhi Lampung Irfan Tri Musri menjelaskan, pengalihfungsian bukit, misalnya menjadi permukiman warga, tetap harus mempertahankan nilai ekologi.
"Misalnya, ada penanaman pohon lagi atau pertahankan pohon-pohon yang sudah ada untuk melindungi bukit tersebut. Pohon berfungsi menyerap air dan sebagai pencengkeram tanah. Kalau ada pohon, istilahnya akar pohon bisa mengikat tanah itu," katanya.
Irfan mengungkapkan, untuk mengetahui penyebab longsor, perlu juga melihat kondisi geografi lahan tersebut.
"Apakah bukit itu tadinya rimbun dan tidak pernah terjadi longsor, atau apakah bukit itu sudah beralih fungsi," ujarnya.
Pasalnya, beber Irfan, kondisi bukit-bukit di Bandar Lampung sudah banyak yang gundul.
"Bisa saja, penggundulan bukit itu jadi salah satu penyebab longsor. Sebab, sudah tidak ada resapan air di bukit itu, sehingga berpengaruh terhadap kepadatan tanah," katanya.
Pihaknya pun menyarankan pemerintah daerah lebih selektif mengeluarkan izin komersil maupun izin pembangunan di wilayah perbukitan.
Irfan mencontohkan, karena bukit-bukit di Bandar Lampung lebih dominan kepemilikan pribadi, maka pemilik bukit seharusnya ikut peduli terhadap wilayah di sekitar bukit.
"Karena, kalau sampai terjadi longsor, bukan hanya pemilik tanah yang mengalami kerugian, tapi juga warga sekitar. Apalagi jika sampai menimpa rumah dan menimbulkan korban jiwa," ujarnya.
Longsor terjadi di Jalan Kiwi, Gang Kiwi 8, Kelurahan Sidodadi, Kecamatan Kedaton, Bandar Lampung, Rabu (24/4/2019) dini hari. Sejumlah warga sempat mendengar suara "krekk" sebelum longsor.
Gerry, warga Gang Kiwi 8, mengungkapkan, longsor terjadi dini hari sekitar pukul 02.30 WIB. Saat itu, ia dan tiga warga lainnya berjaga di sebuah rumah yang posisinya di bawah tebing.
"Semalam saya ikut jaga. Ada empat orang yang jaga dari sore. Kejadiannya sekitar jam 2 dini hari. Awalnya, terdengar suara 'krekk', seperti pondasi retak. Setelah itu, material tanah bercampur batu roboh ke bawah," tuturnya kepada awak Tribun Lampung, Rabu siang.
Mendengar suara "krekk", Gerry dan tiga warga lainnya langsung lari dari rumah tempat mereka berjaga.
"Karena khawatir roboh, makanya langsung lari. Sesudah itu, warga lainnya langsung keluar rumah," katanya.
Menurut Gerry, penjagaan untuk mengantisipasi longsor sudah berlangsung sejak Sabtu (20/4/2019) akhir pekan lalu. Warga khawatir terjadi longsor lantaran hujan terus turun beberapa hari belakangan.
"Ya kan cuacanya hujan terus, makanya kami jaga-jaga. Khawatir kejadian longsor," ujar Gerry.
Tidak ada korban jiwa dari peristiwa tersebut. Longsoran sepanjang sekitar 35 meter itu juga tidak sampai menimpa rumah di bawahnya.
Pantauan awak Tribun Lampung, warga setempat memasang penahan darurat di titik terjadinya longsor. Warga memasang penahan dari bahan bambu dan kayu gelam.
Selain itu, beberapa warga juga bergotong royong membongkar pondasi yang lama di titik longsor. Warga rencananya akan mengganti dengan pondasi baru yang lebih kuat di titik tersebut.
Waspada
Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah Bandar Lampung M Rizki menjelaskan, petugas sudah mengecek ke lokasi longsor. Pihaknya segera berkoordinasi dengan pihak terkait untuk melakukan penanganan.
"Benar terjadi longsor di bagian atas Gang Kiwi 8, Sidodadi, Kedaton. Alhamdulillah tidak ada korban jiwa maupun harta benda. Kami berkoordinasi dengan pihak terkait, baik Kecamatan, Dinas Pekerjaan Umum, maupun Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup," kata Rizki melalui ponsel.
Terkait penyebab longsor, jelas Rizki, karena tingginya curah hujan. Sementara, sambung dia, kondisi tanah di tebing tersebut cukup gembur.
"Bagi warga yang tinggal di tebing atau dataran tinggi, harap selalu berhati-hati dan waspada," pesannya.
BPBD Bandar Lampung pun menyarankan warga menanam pohon untuk mencegah terjadinya longsor.
"Kami sarankan, jika memungkinkan, tanami pohon untuk menahan atau pasangi penahan-penahan," ujar Rizki.
Sudah 2 Kali Tanah Turun
Longsor di Jalan Kiwi, Gang Kiwi 8, Kelurahan Sidodadi, Kecamatan Kedaton, Bandar Lampung, terjadi secara bertahap. Sebelumnya, Jumat (19/4/2019) pekan lalu, tanah turun di titik paling ujung tebing.
Kelik, warga setempat, mengungkapkan, warga saat itu mengantisipasi dengan memasang pancang.
"Nggak tahunya, merembet sampai akhirnya pondasi longsor sepanjang 35 meter," katanya, Rabu (24/3/2019) siang.
Kelik menjelaskan, tanah sempat turun lagi pada Selasa (23/4/2019) petang usai waktu salat magrib.
"Kami tahan pakai balok. Dini hari (Rabu) tadi, longsor lagi pondasinya. Sekarang kami antisipasi dengan melakukan pembersihan dan pengamanan supaya tidak menimpa rumah," ujarnya.
Ia mengungkapkan, warga setempat melakukan antisipasi secara swadaya dan menggunakan dana kelurahan.
"Total keseluruhan yang longsor sepanjang 35 meter. Upayanya, kami pondasi lagi dari nol," tandas Kelik. (Tribunlampung.co.id/Eka Ahmad Sholichin)