Tribun Bandar Lampung
Cerita Pecinta Kucing: Tidur Bareng, Jadi Teman Curhat
Hobi memelihara hewan mungkin sudah biasa. Namun, bagaimana jika hewan yang dipelihara sampai puluhan ekor?
Penulis: Jelita Dini Kinanti | Editor: Yoso Muliawan
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Hobi memelihara hewan mungkin sudah biasa. Namun, bagaimana jika hewan yang dipelihara sampai puluhan ekor? Bagaimana pula apabila hewan-hewan itu diperlukan bak keluarga?
Inilah yang dilakoni Dwiwanti Oktiana dan Dokter Istighfariza Shaqina, warga Lampung yang menyukai kucing. Mereka memelihara puluhan ekor kucing di rumah masing-masing.
Kucing-kucing tersebut diperlakukan layaknya keluarga sendiri. Diberi makan dan vitamin, dimandikan, diajak curhat dan tidur bareng, dibawa ke dokter ketika sakit.
Menyambangi Wisma Kucing milik Dwiwanti Oktiana di Jalan S Parman Nomor 27, Kecamatan Tanjungkarang Pusat, Bandar Lampung, mata akan melihat banyak kucing di ruangan tak jauh dari gerbang masuk. Satu kandang di antaranya diletakkan di depan pintu ruangan.
Kandang-kandang yang terletak di dalam ruangan berjejer rapi di sebelah kanan dan kiri. Sementara di tengah ruangan, ada kursi dan meja bulat. Kandang-kandang yang terisi kucing itu bersih nan terawat. Ada kucing kampung, persia, dan mainecoon.
Dwiwanti memelihara total 35 ekor kucing. Sebanyak 34 kucing ditempatkan di kandang, sementara satu kucing mainecoon berusia 3 tahun ditaruh di kamarnya. Kucing mainecoon itu bahkan tidur dengannya dan suami.
"Kucing mainecoon ini tadinya belum akrab dengan saya dan suami, karena belum lama diadopsi dari pemilik lamanya. Tapi setelah ditaruh di kamar, perlahan mulai akrab dengan kami," tutur Bunda Wiwie, sapaan akrabnya, Rabu (24/4/2019).
Keakraban tampak saat Bunda Wiwie menggendong kucing tersebut. Si kucing seperti nyaman di pelukannya. Saat suami Bunda Wiwie memanggil nama "Amora", ia langsung menengok.
Bagi Bunda Wiwie, kucing sudah menjadi bagian dari hidupnya. Jika dihitung sejak menikah pada 1985, sudah 60 ekor kucing yang dipeliharanya.
Dan apabila dihitung sejak ia TK, sudah tak terhitung jumlahnya. Kucing-kucing yang dipelihara sudah banyak yang mati atau diadopsi orang lain.
"Saya sudah mulai pelihara kucing sejak TK. Waktu itu, ada tiga kucing kampung yang saya pelihara. Sampai saya menikah tahun 1985, saya terus pelihara kucing kampung. Baru setelah itu punya kucing ras. Kucing ras pertama yang saya pelihara adalah kucing persia," cerita perempuan kelahiran 26 Oktober 1961 ini.
Awal mula hobi memelihara kucing ketika Bunda Wiwie ingin memiliki teman. Ia kemudian memilih kucing kampung yang sering datang ke rumahnya.
Lama kelamaan, Bunda Wiwie merasa kucing tersebut sudah seperti keluarga. Ia bahkan menganggapnya sebagai anak sendiri.
Bunda Wiwie sering menyebut dirinya sebagai Mama dari kucing-kucingnya. Ia merasa sepi tanpa kucing: tidak ada teman curhat, teman cerita, dan teman tidur.
Saat kucingnya sakit, Bunda Wiwie lekas membawanya ke dokter dan merawatnya. Misalnya, saat kucing sakit flu, ia membersihkan cairan yang keluar dari hidung kucing dan memberinya obat.
Perawatan diberikan bukan hanya saat "anak-anaknya" sakit, melainkan juga ketika sehat. Misalnya, memberi makan dua kali sehari, membersihkan kandang setiap pagi, memandikan dua pekan sekali, serta memberi obat cacing tiga bulan sekali, vaksin setahun sekali, dan vitamin sebulan sekali.
Khusus vaksin anak kucing berusia 2 bulan, diberikan vaksin kedua sebulan setelah vaksin pertama. Termasuk vitamin setiap hari saat sedang sakit.
Untuk makanan, Bunda Wiwie merogoh kocek Rp 1,5 juta untuk 35 ekor kucing. Biaya itu terhitung murah. Ia menekan biaya dengan membeli makanan kucing secara karungan.
Selain itu, Bunda Wiwie juga sering mencampur makanan murah dengan makanan mahal. Namun, khusus anak kucing dan kucing hamil, diberikan makanan yang mahal.
Berawal dari Kasihan
Sementara Dokter Istighfariza Shaqina memiliki kucing pertama kali saat SMA. Saat itu, ada anak kucing kampung dalam keadaan kurus dan kotor meminta makan.
Ica, sapaan akrabnya, merasa kasihan, lalu membawanya masuk untuk diberi makan. Ketika itu, ia hanya ingin memberi makan. Tak terlintas di pikirannya untuk memelihara.
Namun, lama kelamaan Ica semakin sayang dengan kucing tersebut hingga memutuskan memeliharanya.
Perlahan, kucing yang dipeliharanya bertambah. Selain sayang, Ica merasa kucing adalah hewan yang lucu: bisa diajak komunikasi dan bermain.
Sampai sekarang, kucing yang dipeliharanya sebanyak 20 ekor. Terdiri dari kucing kampung, persia, dan himalaya. Kucing-kucing ditaruh di halaman khusus.
Di halaman, ditempatkan liter box yang di dalamnya terdapat pasir. Setiap hari, pasir selalu diganti.
Ica memberi makan kucing-kucing tiga kali sehari. Untuk makanan semua kucingnya, ia menghabiskan uang Rp 3 juta per bulan. Makanan itu campuran antara makanan kering kualitas medium dan sarden.
"Saya juga kasih vitamin sehari sekali, dicampur ke makanan. Vaksin setahun sekali untuk kucing himalaya dan persia, karena rentan sakit," tutur Ica.
"Dua ras kucing itu juga saya kasih serum penguat dan penumbuh rambut, karena khawatir bulunya yang panjang cepat rontok," imbuhnya.
Untuk memandikan kucing, Ica memilih memandikan sendiri seminggu sekali agar lebih hemat. Ia baru memandikannya ke pet shop jika sedang lelah, tidak sempat memandikan, atau ada acara besar seperti Lebaran.
Apabila ada kucingnya yang sakit, Ica membawanya ke dokter hewan dan mengistirahatkan kucingnya di kargo.
"Selama pelihara kucing, satu kesulitan aku pas sedang buru-buru mau praktik. Ingat belum kasih mereka makan atau belum ganti pasir. Itu aja. Selebihnya nggak ada. Bagi aku, pelihara kucing itu kegiatan yang menyenangkan," kata dara kelahiran 28 September 1994 itu. (Tribunlampung.co.id/Jelita Dini Kinanti)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/sayang-kucing.jpg)