Gunung Anak Krakatau Alami Erupsi pada Sabtu 18 Mei 2019

Aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) yang berada di selat Sunda sempat terpantau kembali mengeluarkan aktivitas letusan (erupsi) pada Sabtu (18/5/2019

Gunung Anak Krakatau Alami Erupsi pada Sabtu 18 Mei 2019
Tribunlampung.co.id/Dedi Sutomo
Ilustrasi - Kondisi Gunung Anak Krakatau pada Senin 25 Maret 2019. 
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) yang berada di selat Sunda sempat terpantau kembali mengeluarkan aktivitas letusan (erupsi) pada Sabtu (18/5/2019).
Dari data Magma VAR Badan Geologi, Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi pos pemantauan GAK, tercatat hingga pukul 24.00 WIB pada Sabtu, sempat terjadi 7 kali letusan dengan amplitude 37-44 mm dan durasi 45-150 detik.
Tercatat juga adanya gempa hembusan sebanyak 7 kali dengan amplitude 3-25 mm, dan durasi 13-35 mm.
Gempa low frekuensi sebanyak 2 kali dengan amplitude 6-20 mm, durasi 11-15 detik.
Kemudian, gempa vulkanik dalam sebanyak 1 kali dengan amplitude 26 mm, S-P :1,9 detik dan durasi 30 detik. 
Gempa tektonik jauh sebanyak 1 kali dengan amplitude 26 mm, S-P : 42 detik dan durasi 97 detik.
Serta, adanya gempa tremor menerus dengan amplitude 1-42 mm, dominan 10  mm.
Namun, adanya suara dentuman tidak terdengar.
Adanya kegiatan erupsi pada GAK dibenarkan oleh kepala pos Pantau GAK di Desa Hargopancuran, kecamatan Rajabasa, Andi Suardi. 
“Benar ada aktivitas erupsi yang bersifat erupsi freatik,” kata dia kepada Tribunlampung.co.id, Minggu (19/5/2019).
Menurut dirinya sebagai gunung api yang masih aktif, sangat mungkin terkadang ada terjadi letusan.
Aktivitas vulkanik ini bisa merupakan proses membangun tubuhnya kembali pasca erupsi akhir tahun 2018 lalu.
Diketahui, GAK sempat mengalami erupsi besar yang memicu terjadinya gelombang tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018 lalu.
Tsunami selat Sunda membuat sebagian kawasan pesisir di kabupaten Lampung Selatan dan Provinsi Banten porak-poranda.
Pasca erupsi tersebut kondisi fisik GAK pun berubah.
Di mana, ketinggian gunung terpangkas, dari semula memiliki ketinggian 335 meter dari permukaan laut (mdpl), kini hanya menjadi 157 mdpl.
Meski sempat mengeluarkan aktivitas erupsi, status GAK sejauh ini masih pada level II Waspada.
Para pengunjung dan nelayan dilarang mendekati kawasan gunung api yang berada di Selat Sunda tersebut dalam radius 2 kilometer. (tribunlampung.co.id/dedi sutomo)

YUK SUBSCRIBE CHANNEL YOUTUBE Tribun Lampung News Video di bawah ini.

FOLLOW INSTAGRAM Tribunlampung.co.id di bawah ini.

FOLLOW TWITTER Tribunlampung.co.id di bawah ini.

FOLLOW FANS PAGE FACEBOOK Tribunlampung.co.id di bawah ini.

Editor: Ridwan Hardiansyah
Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved