Tribun Bandar Lampung

Otak Penyelundupan Sabu 5 Kg dan Ekstasi 3.000 Butir Divonis Seumur Hidup

Yusak Fernando alias Aan (35), terdakwa tersebut, dinyatakan terbukti memasok narkoba jenis sabu 5 kg dan pil ekstasi 3.000 butir.

Otak Penyelundupan Sabu 5 Kg dan Ekstasi 3.000 Butir Divonis Seumur Hidup
Tribun Bandar Lampung/Hanif Risa Mustafa
VONIS PENYELUNDUP NARKOBA -¬†Terdakwa Yusak Fernando alias Aan (35) menjalani sidang pembacaan vonis kasus penyelundupan narkoba di Pengadilan Negeri Kelas IA Tanjungkarang, Selasa (21/5/2019). 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Terdakwa otak penyelundupan narkoba divonis seumur hidup. Yusak Fernando alias Aan (35), terdakwa tersebut, dinyatakan terbukti memasok narkoba jenis sabu seberat 5 kilogram dan pil ekstasi sebanyak 3.000 butir.

Vonis terhadap Yusak yang merupakan narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Cipinang itu dibacakan dalam sidang di Pengadilan Negeri Kelas IA Tanjungkarang, Selasa (21/5/2019).

Terdakwa dinilai terbukti melakukan permufakatan jahat dengan menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menerima, dan atau menjadi perantara dalam jual beli narkotika golongan I.

"Perbuatan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah sebagaimana diatur pada pasal 114 ayat 2 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 jo pasal 132 ayat 1 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika," jelas Siti Insirah, ketua majelis hakim. "Menjatuhi hukuman kepada terdakwa Yusak Fernando dengan pidana penjara selama seumur hidup," sambungnya.

Atas vonis tersebut, Jaksa Penuntut Umum Agus Priambodo menyatakan menerima. Sementara penasihat hukum terdakwa Yusak, Tarmizi, menyatakan pikir-pikir.

"Baik, karena masih pikir-pikir, maka putusan belum inkrah (berkekuatan hukum tetap). Sidang ditutup," kata Siti.

Dalam surat dakwaan, terungkapnya kasus penyelundupan sabu 5 kg dan ekstasi 3.000 butir ini bermula pada Jumat, 20 Desember 2013, sekitar pukul 13.00 WIB. Saat itu Ferry Yanto (dakwaan terpisah) menghubungi Yusak dan meminta dicarikan sabu 5 kg dan pil ekstasi 3.000 butir.

Permintaan itu disanggupi Yusak. Warga Kelurahan Penjaringan, Jakarta Utara, ini lalu menghubungi temannya berinisial D yang sampai sekarang masih buron.

Kepada D, Sabtu, 21 Desember 2013 sekira pukul 14.00 WIB, Yusak memberitahu bahwa ada pemesan narkoba. Berikutnya, Yusak mengonfirmasi kepada Ferry Yanto bahwa pesanan narkobanya segera dikirim.

Yusak kemudian memerintahkan rekannya, Rizki, untuk mengambil narkoba kiriman dari Jakarta saat tiba di Lampung. Yusak pun memberi nomor ponsel Rizki kepada Feri Yanto agar Rizki mendapat arahan langsung dari Feri.

Masih merujuk dakwaan, Feri Yanto lalu menghubungi dan meminta adiknya menjadi penunjuk jalan bagi Rizki dan rekannya, Sukri, menuju Bandar Jaya, Lampung Tengah. Selanjutnya, adik Feri bersama Rizki dan Sukri menuju Bandar Jaya untuk mengambil kiriman sabu dan pil ekstasi.

Dalam perjalanan, Rizki menerima telepon dari Feri Yanto. Saat itu, Feri meminta Rizki berhenti di Taman Gunung Sugih, Lamteng. Di taman tersebut sudah ada pria yang membawa tas warna hitam berisi sabu dan pil ekstasi.

Rizki pun menerima paket tersebut, kemudian kembali ke rumah adik Feri di Bandar Lampung. Di rumah adik Feri, Rizki menimbang sabu dan pil ekstasi.

Tak lama, Feri Yanto menghubungi adiknya agar membukakan pintu rumah lantaran ada tamu yang hendak mengambil "barang". Namun, saat serah terima narkoba berlangsung, petugas melakukan penggerebekan, sekaligus membongkar kasus tersebut. (Tribunlampung.co.id/Hanif Mustafa)

Penulis: hanif mustafa
Editor: yoso
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved