Tribun Lampung Selatan

51 Tahun Nenek Fatimah Tekun Berjualan Jajanan Tradisional, Raup Keuntungan Hingga 100 Ribu

Di Pasar Karang Anyar, Jati Agung, Lampung Selatan masih banyak ditemui pedagang yang menjual jajanan tradisional.

51 Tahun Nenek Fatimah Tekun Berjualan Jajanan Tradisional, Raup Keuntungan Hingga 100 Ribu
Tribunlampung.co.id/Audy
Fatimah salah seorang pedagang jajanan tradisional di Pasar Karang Anyar, Lampung Selatan. 

Laporan Reporter Tribun Lampung Audy Aminda Yusandani

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, JATI AGUNG - Di era yang serba modern, banyak sekali bermunculan inovasi terhadap pengolahan makanan hingga menjadi kuliner kekinian.

Sering kali sulit menemukan jajanan tradisional yang ada di pasaran, namun bukan berarti jajanan tradisional telah tergantikan.

Di Pasar Karang Anyar, Jati Agung, Lampung Selatan masih banyak ditemui pedagang yang menjual jajanan tradisional. Kebanyakan pedagang telah berusia lanjut.

Salah satunya Fatimah, ia telah berjualan jajanan tradisional sejak tahun 1968. Saat muda dahulu, Fatimah biasa menjajakan dagangan secara keliling ke rumah-rumah yang ada di sekitar Karang Anyar.

Baru sembilan tahun terakhir, ia mulai menjual dagangannya secara menetap di Pasar Karang Anyar.

Fatimah menjual jajanan tradisional yang dibuatnya sendiri. Jajanan yang ditawarkan ada beragam jenis, seperti dadar gulung, galundeng (makanan yang mirip seperti roti goreng), klepon (berwarna hijau dengan isian gula merah), cenil yang disiram gula merah dan kelapa, gatot (makanan khas gunung kidul yang terbuat dari ketela ubi kayu), oyek (singkong yang diparut dan dikeringkan) dan geblek yang bertekstur kenyal seperti cireng.

Untuk harga, Fatimah menjualnya dengan harga yang murah. Cenil dan klepon dihargai Rp. 2.500 per bungkusnya, gatot dan oyek dijual dengan harga Rp 2.000 per bungkus sedangkan jenis jajanan lain dijual dengan harga Rp 2.000 per tiga buah.

Setiap berjualan, Fatimah dapat memperoleh keuntungan bersih hingga Rp 70 ribu. Kalau sedang ramai, ia bisa mengantongi Rp 100 ribu. Menurutnya, berjualan jajanan tradisional cukup menjanjikan meskipun telah tergerus oleh zaman.

Selain Fatimah, ada Turinem yang berjualan mie cepet. Mie cepet sendiri merupakan mie berwarna kuning yang terbuat dari aci.

Biasanya mie cepet dijual bersamaan dengan tahu bunting. Dalam penyajiannya mie cepet biasa dibungkus oleh daun pisang, namun sekarang sudah digantikan dengan bungkus plastik agar lebih praktis. Mie cepet dapat dimakan langsung dengan tambahan cabai rawit dan toge sebagai pelengkapnya.

Mie cepet dihargai Rp 14 ribu per kg, sedangkan yang telah dibungkus dihargai Rp 5 ribu per bungkusnya.

Bila anda ingin bernostalgia dengan jajanan tradisional, silahkan datangi Pasar Karang Anyar atau pasar tradisional lainnya di sekitar anda sebagai penawar rindu akan jajanan tradisional yang sudah jarang ditemui tersebut.

(Tribunlampung.co.id/Audy Aminda Yusandani)

Penulis: Audy Aminda Yusandani
Editor: Reny Fitriani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved