Tribun Bandar Lampung

Lampung Memasuki Musim Kemarau, BMKG: Waspadai Potensi Kebakaran Hutan dan Ladang

Sejak awal Juni 2019, hampir di seluruh wilayah Lampung mulai memasuki musim kemarau.

Lampung Memasuki Musim Kemarau, BMKG: Waspadai Potensi Kebakaran Hutan dan Ladang
Serambi Indonesia/BEDU SAINI
Ilustrasi - Lampung Memasuki Musim Kemarau, BMKG: Waspadai Potensi Kebakaran Hutan dan Ladang 

Laporan Reporter Tribun Lampung Jelita Dini Kinanti

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDARLAMPUNG - Sejak awal Juni 2019, hampir di seluruh wilayah Lampung mulai memasuki musim kemarau. Diperkirakan puncak musim kemarau terjadi Agustus-September 2019. Pada Oktober 2019, akan memasuki musim pancaroba.

Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Lampung Rudi Harianto mengimbau kepada masyarakat agar hati-hati di musim kemarau, karena ada potensi kebakaran hutan dan ladang. Dilihat dari satelit, titik hotspot ada di Lampung Selatan, Lampung Timur, Mesuji, Lampung Tengah, dan Tulang Bawang

"Untuk itu saya sarankan masyarakat yang ada di titik hotspot itu agar jangan membuka lahan dengan cara dibakar. Kalaupun terpaksa harus dibakar, harus dengan pengawasan. Jangan ditinggal begitu saja karena bisa berpotensi kebakaran," kata Rudi, Sabtu, 15 Juni 2019.

Selain kebakaran, Rudi juga mengimbau kepada petani untuk menanam tanaman yang kebutuhan air sedikit. Itu karena, di musim kemarau air tanah diprediksi berkurang dan curah hujan diprediksi sedikit. Rumah tangga juga diminta untuk bersiap-siap karena sumur berpotensi kering.

Di musim kemarau juga masyarakat diminta untuk lebih memperhatikan kesehatan. Itu karena di musim kemarau akan terjadi perubahan suhu saat malam dan siang hari yang bisa mengganggu kesehatan.

"Saat malam hari suhu dingin. Tapi saat siang hari suhu panas. Suhu maksimum bisa mencapai 33 dan 34 derajat celcius. Pernah sekali terjadi suhu mencapai 34 derajat celcius. Tanggal 14 Juni 2019, suhu mencapai 33 derajat celcius," ujar Rudi

Selain karena perubahan suhu, kesehatan masyarakat juga bisa terganggu dengan adanya debu bercampur kuman yang diterbangkan angin.

Biasanya angin bertiup kencang saat siang hari. Untuk itu disarankan agar menggunakan masker saat sedang beraktivitas diluar. Selain itu juga disarankan untuk banyak minum air putih untuk mencegah dehidrasi.

Penulis: Jelita Dini Kinanti
Editor: Reny Fitriani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved