Tribun Tulangbawang

Tanaman Cabai di Banjar Margo Membusuk, Petani Terancam Merugi

Sekitar dua hektare tanaman cabai petani di Kampung Purwajaya Kecamatan Banjar Margo, Tulangbawang terserang penyakit busuk batang

Tanaman Cabai di Banjar Margo Membusuk, Petani Terancam Merugi
TRIBUN LAMPUNG/ENDRA ZULKARNAIN
diserang hama - Jajang petani cabai di Kampung Purwajaya Kecamatan Banjar Margo, Tulangbawang menunjukkan tanaman cabainya yang terserang hama dan membusuk. 

Tanaman Cabai di Banjar Margo Membusuk, Petani Terancam Merugi

Laporan Reporter Tribun Lampung Endra Zulkarnain 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, TULANGBAWANG  - Sekitar dua hektare tanaman cabai petani di Kampung Purwajaya Kecamatan Banjar Margo, Tulangbawang terserang penyakit busuk batang.

Akibatnya, petani cabai terancam gagal panen dan merugi lantaran tanaman cabai busuk
Kondisi ini dialami Jajang, petani cabai di Kampung Purwajaya, Kecamatan Banjarmargo.

Jajang pun galau lantaran kebun cabainya diserang penyakit. Dia terancam merugi jutaan rupiah.
Jajang menuturkan, sejak tiga pekan terakhir kebun cabai miliknya yang berusia tiga bulan diserang penyakit hingga buah cabai menjadi busuk dan mengering.

Diguyur Hujan, Ratusan Emak-emak Tetap Semangat Beli Sembako Murah di Banjar Margo

Dia mengaku, upaya memutus penyebaran penyakit telah ia lakukan dengan cara menyemprotkan obat pestisida. Namun, tidak kunjung membuahkan hasil.

"Awalnya (batang cabai) busuk terus kering. Mungkin diserang virus, karena cuaca pancaroba akhir-akhir ini," kata Jajang, Minggu (7/7).

Jajang pun kian galau lantaran upaya pengobatan cabai yang dia lakukan belum membuahkan hasil yang menggembirakan.

Pelajar di Banjar Margo Diingatkan Jauhi Narkoba

Sebaliknya, tanaman cabai miliknya malah mengering. Kerugian puluhan juta pun menanti di depan mata. Pasalnya, menurut dia, modal awal untuk membuka lahan setengah hektar saja bisa berkisar belasan juta.

"Modal untuk buka lahan, tanam, bibit, dan obat serta perawatan hingga saat ini sudah Rp 16 jutaan. Kalau begini kondisinya sudah pasti rugi," tandasnya.

Kegalauan Jajang pun sama halnya dengan yang dirasakan Farida, warga Menggala.
Ibu rumah tangga itu merasa galau lantaran sejak sepekan terakhir harga cabai di pasar tradisional diwilayah setempat kian meroket.

Menurutnya, harga cabai merah keriting dipasar tradisional di wilayah setempat saat ini mencapai Rp 80 ribu per kilogram.

Padahal sebelumnya berkisar di harga Rp 50 ribu sampai Rp 60 ribu per kg. "Masya Allah, gila-gilaan harga cabai, masa sudah sampe Rp 80 ribu per kg," terang Farida.

Farida yang sehari-hari membuka usaha warung makan ini mengaku kenaikan harga cabai ini berdampak pada usaha yang ia geluti. Pasalnya, cabai merupakan kebutuhan pokok untuk bumbu masakan yang ia sajikan.

"Pasti terasa kenaikan ini, bumbu masakan kan pakai cabai," tandasnya. Kenaikan harga cabai ini diperkirakan akibat kurangnya persediaan di pasaran. (end)

Penulis: Endra Zulkarnain
Editor: soni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved