Kisah Jenderal Polisi Lampung Kini Daftar KPK: Pernah Putus Asa, Sholat Minta Petunjuk lalu Door!

Kisah Jenderal Polisi Lampung Kini Daftar KPK: Pernah Putus Asa, Sholat Minta Petunjuk lalu Door!

tribun lampung
Kisah Jenderal Polisi Lampung Kini Daftar KPK: Pernah Putus Asa, Sholat Minta Petunjuk lalu Door! (Foto Ike Edwin saat berada di RSUD Abdul Moeloek) 

Kisah Jenderal Polisi Lampung Kini Daftar KPK: Pernah Putus Asa, Sholat Minta Petunjuk lalu Door!

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Seorang jenderal polisi putra Lampung Ike Edwin mendaftar sebagai calon pimpinan Komisi Pemberantasan Polisi (KPK). Ike Edwin yang kini berpangkat Irjen pernah menjabat sebagai Kapolda Lampung.

Selama menjadi polisi, Ike Edwin punya pengalaman menarik tak terlupakan.

Salah satunya adalah menangani kasus seorang pria yang mengancam hendak membunuh ibunya sendiri, dengan menempelkan pisau di leher sang ibu.

Bagaimana Ike mengatasi kasus tersebut?

Saat peristiwa itu berlangsung, Ike Edwin nyaris putus asa. Ketika itu, ia menjabat Kasat Reskrim di wilayah Sumatera Selatan.

Ada kasus di mana seorang pria menempelkan pisau tajam di leher ibunya sendiri.

Pria tersebut mengancam siapa saja untuk tidak masuk ke dalam rumah tradisional yang dihuninya.

Kalau ada yang mendekat, apakah itu polisi atau tetua kampung, ia semakin merapatkan pisau ke leher ibunya sendiri.

Sosok Perwira Jujur yang Tak Pernah Jadi Panglima TNI, Paling Dikagumi Hendropriyono

Viral Video Oknum Polisi di Lampung Tembak Pencuri dari Jarak Dekat, Pelaku Sudah Minta Ampun

Istri Tak Mau Usap-usap Perut Suami hingga Gagal Bercinta, Anton Tega Bacok Fz di Depan Anaknya

Ike datang bersama anak buahnya. Ada Wakasat Reskrim, ada kanit, ada penembak jitu.

Dengan kondisi malam hari, tak ada penerangan yang cukup, tak ada anak buahnya yang berani mengambil risiko.

Kalau menyerbu masuk, tak cukup waktu untuk melumpuhkan sang pria yang kelihatan sudah nekat dan hilang kewarasan itu.

Kalau menggunakan penembak jitu, juga risikonya tinggi sekali karena tak cukup cahaya. Meleset sedikit, bisa-bisa yang kena peluru adalah si ibu.

"Waktu itu saya juga nyaris hilang harapan. Anak buah sudah menyerah, wakil saya juga tidak berani. Yang paling tinggi jabatannya saya.

'Kan tidak mungkin saya menghubungi Kapolres dan meminta beliau datang menyelesaikan kasus tersebut," tutur Ike Edwin kepada Tribun Lampung, 2016 lalu.

Ike Edwin menyadari, ia harus membuat keputusan.

Tidak mungkin membiarkan pria tersebut dalam kondisi seperti itu terus, bisa-bisa dia nekat membunuh ibunya sendiri.

Ia melihat ke seliling rumah. Ada banyak polisi anak buahnya yang melihat ke arahnya, seperti berharap agar dirinya turun tangan menuntaskan permasalahan itu.

Ada juga banyak anggota TNI, yang tentu sifatnya hanya memback-up saja.

Lalu, ada banyak masyarakat yang berkerumun. Mereka semua pasti ingin tahu, bagaimana polisi menyelesaikan permasalahan.

Kalau polisi salah bertindak, maka citra polisi secara keseluruhan akan rusak. Kalau benar, maka citra polisi di mata masyarakat akan semakin baik.

"Saya tahu, saya harus bertindak. Tapi, dengan kondisi yang ada, saya paham risikonya sangat besar. Kalau saya salah bertindak, di situ juga karier saya akan hancur seketika," tuturnya.

Ike lalu mempelajari situasi. Di dalam rumah, ada pria tersebut dengan ibunya. Tak ada jarak di antara keduanya. 

Tangan kanan pria tersebut memegang pisau yang bilahnya sudah menempel ketat di leher ibunya.

Suasana saat itu sudah malam. Hampir tak ada cahaya yang masuk, karena lampu dimatikan.

Keduanya bisa terlihat sedikit berkat cahaya senter yang diarahkan seorang anggota polisi. Cahaya yang sangat sedikit.

Dalam kondisi terdesak oleh situasi seperti itu, dalam hati Ike berdoa.

Ia memohon kepada Tuhan agar diberi kekuatan dan petunjuk untuk menyelesaikan masalah. Tak terasa ia merapal Al-Fatihah beberapa kali.

Kepada Wakasat Reskrim, ia lalu meminta agar menjaga situasi agar tidak berkembang panas.

Jangan ada anggota yang bertindak tanpa perintahnya. "Saya ada keperluan dulu," pesannya.

Ke mana Ike pergi? Apakah dia meninggalkan lokasi? Ternyata tidak.

Ia mencari tempat wudhu, lalu ke tempat salat. Di situ, ia menunaikan salat dua rakaat. Seusai salat, ia berdoa kepada Tuhan.

"Saya bilang, 'Ya Allah, apa yang akan terjadi pada diriku semua merupakan kehendak-Mu. Berikan kekuatan kepada hamba-Mu untuk berbuat kebaikan dengan mengatasi persoalan ini. Hamba memohon petunjuk-Mu'," tuturnya.

Seusai salat, Ike kembali ke lokasi. Kini, langkahnya terasa lebih ringan. Ia juga tidak ragu lagi untuk bertindak.

"Saya waktu itu dalam hati berkata, apapun yang terjadi, kalau karier saya setelah ini hancur, saya ikhlas," kenangnya.

Suasananya masih seperti semula. Si pria tetap seperti kehilangan kewarasan. Pisau masih menempel di leher ibunya.

Kepada Wakasat Reskrim, ia meminta agar sorotan senter dipertahankan.

Saat itu, senter diarahkan dari arah atas, dan hanya bisa menerangi sedikit dari bagian depan si ibu. Ia juga masih bisa melihat tangan si pria yang memegang pisau.

Ike lalu megeluarkan pistolnya. Dari lubang yang sangat sempit, dengan dibantu cahaya senter yang tidak terang, ia membidik sasaran. Jantungnya sempat berdegup kencang.

Apa yang akan ditembak Ike? Rupanya, ia membidik tangan si pria yang sedang memegang pisau.

Ia ingin peluru menghantam tangan itu sehingga pisaunya terjatuh, dan saat itu juga anak buahnya menyerbu masuk untuk membebaskan si ibu.

Itu baru skenario. Ike sadar, kalau tembakannya meleset satu inci saja, maka semua akan hancur. Bisa jadi si ibu yang akan tewas kena terjang peluru.

Kariernya akan selesai.

Sesaat sebelum menarik pelatuk, Ike kembali mengingat Tuhan. Ia berdoa diberi kekuatan dan petunjuk. Setelah hatinya bulat, maka, "dorrr...."

Satu tembakan tepat mengenai tangan si pria. Pisau terlepas. Anak buahnya langsung menyerbu dan mengamankan situasi.

"Saat itu juga, saya seperti lepas dari beban ribuan ton. Alhamdulillah, saya sangat bersyukur. Permasalahan itu berakhir dengan baik. Pria itu ditangkap, ibunya selamat," kenangnya.

Selama Ike Edwin menjadi Kasat Reskrim, tak ada kasus pembunuhan yang tidak berhasil diselesaikannya.

Prestasi itu mengantarnya menapak karier, hingga menjadi Kapolres Tanah Bumbu di Kalsel, Wadirreskrim Polda Metro Jaya, Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kapowiltabes Surabaya, sampai Wakapolda Sulselbar.

Ike menceritakan pengalamannya selama menjadi polisi bukan bermaksud untuk menyombongkan diri.

"Paling tidak, apa yang saya ceritakan bisa menjadi pelajaran atau motivasi bagi orang lain, terutama para polisi muda," tuturnya saat bersilaturahmi ke kantor Tribun Lampung 2016 silam.

Awalnya Cuma Ingin Mencuri, 2 Remaja Malah Tergoda hingga Memperkosa dan Bunuh Korbannya

Suami Mengaku Hamili Wanita Lain, Istri Perintahkan Selingkuhan Habisi Sang Suami

Bukan Hanya Ike Edwin dan Ery Setyanegara, Advokat Asal Lampung Ini Juga Daftar Capim KPK

(tribunlampung.co.id / andi asmadi)

Penulis: heri
Editor: Heribertus Sulis
Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved