Orangtua Perlu Tahu, Begini Tips Kenalkan Olahraga Sejak Dini pada Anak

Olahraga merupakan salah satu aktivitas menyenangkan bagi anak yang dilakukan baik dalam keadaan sengaja maupun dianggapnya bermain.

Orangtua Perlu Tahu, Begini Tips Kenalkan Olahraga Sejak Dini pada Anak
Tribunlampung.co.id/Sulis
Dosen Olahraga UTI Aditya Gumantan 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID,BANDARLAMPUNG - Olahraga merupakan salah satu aktivitas menyenangkan bagi anak yang dilakukan baik dalam keadaan sengaja maupun dianggapnya bermain.

Namun kapan sebaiknya orangtua mengenalkan olahraga sejak dini pada buah hati?

Dosen Olahraga Universitas Teknokrat Indonesia (UTI) Aditya Gumantan mengatakan, disadari maupun tidak sebenarnya anak sudah melakukan sesuatu aktivitas olahraga sejak balita di usia 0 sampai 5 tahun.

"Biasanya mengajarkan soal gerakan yang melibatkan motorik halus dan kasar anak seperti meraba, memegang, menggenggam, berjalan, melompat-lompat, berlari kecil dan lainnya," ujarnya kepada Tribun Lampung, Selasa (9/7/2019).

Ketika sudah di fase usia 5 tahun sampai 10 tahun anak bisa diajarkan basic gerak sederhana sembari melihat bakat olahraga anak cenderung ke arah mana. Diajarkan manipulasi gerak menggunakan bola, papan titian, dan lainnya.

"Jadi bisa memakai bantuan bola atau papan titian seperti dipraktekkan di sekolah taman kanak-kanak. Kalau anak suka bola ajarkan basic permainan bola, misal suka gymnastic, ajarkan basic gymnastic," papar Aditya.

Agar anak tidak bosan melakukan olahraga, penting memberikan variasi model latihan agar tidak terjadi kejenuhan.

Seorang coach atau pelatih harus memiliki kemampuan mengolah aneka variasi gerakan atau macam-macam permainan dalam olahraga tertentu.

Karena usia anak adalah dunia bermain. Seorang guru atau pelatih tidak bisa menspesifikan anak harus seperti kemauannya, menguasai gerak dalam olahraga tertentu.

"Tetapi gimana merangsang anak melakukan olahraga dalam bentuk permainan yang menyenangkan," ucapnya.

Ketika anak aktif melakukan olahraga apapun jenisnya itu, maka perkembangan motorik halus maupun kasar anak tersebut akan bagus.

Lalu berdampak pada kesehatan dan perkembangan nilai afektif maupun kognitifnya.

Orangtua juga tidak bisa memaksakan kehendak agar anak memiliki kemampuan dalam bidang olahraga tertentu yang tidak sesuai dengan bakatnya.

Karena bakat atau potensi tidak bisa dipaksakan layaknya memaksa ikan berlari di daratan. Orangtua bisa melihat bakat anak dengan berkonsultasi dan meminta bantuan psikolog ataupun psikiater.

(Tribunlampung.co.id/ Sulis Setia M)

Penulis: sulis setia markhamah
Editor: Reny Fitriani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved