Itera Gandeng Naist Jepang Teliti Kemajuan Teknologi Pendeteksi Penyakit

Institut Teknologi Sumatera (Itera) menghadirkan pembicara ahli dari Nara Institute of Science and Technology (NAIST) Jepang, Prof Masashi Kawaichi.

Itera Gandeng Naist Jepang Teliti Kemajuan Teknologi Pendeteksi Penyakit
Tribunlampung.co.id/Bayu
Akademisi Nara Institute of Science and Technology (NAIST) Jepang, Prof Masashi Kawaichi (kanan) didampingi Direktur Itera International Office Acep Purqon saat diwawancarai awak media. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Institut Teknologi Sumatera (Itera) menghadirkan pembicara ahli dari Nara Institute of Science and Technology (NAIST) Jepang, Prof Masashi Kawaichi.

Dalam studium generale yang membahas dua topik sekaligus yaitu tentang "Pencapaian Tingkat Lanjut dalam Biologi Molekuler dan Pemahaman tentang Penyakit Manusia".

Serta seputar Pendidikan dan Penelitian di Nara Institute of Science and Technology (NAIST) Jepang.

Prof Masashi Kawaichi akademisi Naist mengatakan suatu gen bertanggung jawab atas berbagai macam penyakit yang kini bermunculan.

Seperti penyakit yang berkaitan dengan retina, otak, tumor, bahkan pre-eklampsia.

"Dengan memahami mekanisme kerja protein dalam sebuah gen dengan baik maka akan akan semakin baik," katanya

Diharapkan agar sivitas akademika Itera agar mempersiapkan obat yang lebih tepat untuk penanganan penyakit tersebut.

Dimana satu pasien dan yang lain tentunya memiliki efek yang berbeda dalam pengobatan sehingga terdapat istilah precision drug atau costumized drug.

Salah satu contoh penyakit yang diangkat dalam studium general tersebut adalah penyakit terkait retina pada mata.

“Degenerasi makula atau Age-related Macular Degeneration (AMD/ARMD) adalah penurunan penglihatan pusat," katanya.

Dari sampel darah bisa dilihat potensi AMD akibat aktivitas protein ini sehingga bisa dilakukan pencegahan awal supaya terhindar dari kebutaan saat usia lanjut.

Direktur Itera International Office Acep Purqon mengatakan beliau merupakan seorang dosen biologi senior bahkan pertama di NAIST sekaligus murid dari 2 penerima nobel kedokteran kebanggaan Jepang yakni Shinya Yamanaka.

Serta Tasuku Honjo The Nobel Prize in Physiology or Medicine 2018. Oleh karena itu jangan sia-siakan kesempatn untuk menimba ilmu dari beliau.

"Lalu hadirnya akademisi dari Jepang ini untuk melihat peluang bagi Indonesia termasuk Itera untuk menyekolahkan dosennya di Jepang," katanya.

(Tribunlampung.co.id/Bayu Saputra)

Penulis: Bayu Saputra
Editor: Reny Fitriani
Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved